Penyebaran HIV dan epidemi AIDS ternyata bukan hanya masalah kesehatan masyarakat. Dampaknya di bidang sosial ekonomi pada tingkat global, regional dan nasional sangat luas dan mengkhawatirkan. Bagaimana strategi untuk menanggulangi AIDS di Indonesia? Kita bisa belajar banyak dari pengalaman di negeri-negeri lain.
AIDS, kependekan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kumpulan gejala dan penyakit yang diakibatkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Beberapa kasus pertama dilaporkan dari California dalam tahun 1981, namun penyebaran luas infeksi HIV sebenarnya sudah terjadi dalam tahun tujuhpuluhan.1 WHO (Wealth Health Organitation) memperkirakan bahwa sekarang sudah terdapat 17 juta orang tertular HIV dan 4 juta penderita AIDS. Diperkirakan dalam tahun 2000 akan terdapat 20-40 juta pengidap HIV, sebagian besar di negeri berkembang.
Pertambahan kasus yang cepat dan penyebaran ke semakin banyak negeri serta belum ditemukannya obat dan vaksin yang efektif terhadap AIDS telah menimbulkan keresahan dan keprihatinan di seluruh dunia. Langkah-langkah klasik untuk menanggulangi penyakit menular seperti pelacakan penderita, isolasi/karantina serta pengobatan para penderita ternyata tidak dapat dilaksanakan untuk menanggulangi AIDS.
AIDS menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia karena beberapa sebab. HIV, virus yang menyebabkan AIDS ditularkan terutama melalui hubungan seksual. Tidak banyak masyarakat yang dapat membicarakan soal seksualitas secara jujur dan terbuka, sehingga HIV/AIDS sulit didiskusikan dan dengan demikian sulit dikendalikan.
Di dalam tubuh manusia HIV bersarang dalam sel limfosit CD4 yang menjadi pengatur dari sistem kekebalan tubuh dan tidak dapat dibunuh oleh obat-obatan yang kita punyai sekarang. Selain itu HIV cepat sekali bermutasi sehingga sulit mengembangkan vaksin terhadapnya.2
Masa inkubasi AIDS cukup lama, diperkirakan sekitar 10 tahun. Dalam masa inkubasi tersebut seorang yang tertular HIV tetap sehat, tapi dapat menularkan HIV kepada orang lain. Masa inkubasi yang lama ini sangat menyusahkan penanggulangannya.
Sebab-sebab kematian utama pada penduduk adalah penyakit anak-anak (misalnya diare, infeksi saluran pernapasan akut, gangguan gizi) atau penyakit orang tua (kanker, penyakit jantung, diabetes), tapi AIDS terutama membunuh orang dewasa muda (20-40 tahun) yang merupakan kelompok paling produktif dalam masyarakat. Masyarakat yang terkena epidemi AIDS akan kehilangan tenaga kerja yang produktif dengan dampak yang sangat nyata berupa penurunan produktivitas dan tingkat pendapatan masyarakat.
Menurut Jonathan Manu, direktur pertama dari Global Programme on AIDS WHO, AIDS meliputi tiga macam epidemi. Yang pertama ialah penyebaran HIV. Penularan terjadi melalui hubungan seksual (hetero maupun homoseksual), dari ibu ke bayi dan melalui darah tercemar (transfusi, produk darah, pemakaian jarum suntik tidak steril, dsb). Epidemi ini terjadi secara “diam-diam” karena dapat ditularkan oleh orang yang masih sehat yang tidak mengetahui bahwa ia tertular HIV. Epidemi kedua, berjangkitnya AIDS yang timbul setelah masa inkubasi sekitar 10 tahun. Orang yang menderita AIDS bertambah dan kematian meningkat.
Epidemi ketiga bersifat sosial, yakni terjadinya stigmatisasi, prasangka dan diskriminasi terhadap pengidap HIV dan penderita AIDS.3 Ketidaktahuan masyarakat dan para pejabat mengenai cara penularan HIV menimbulkan berbagai masalah yang mempersulit ditanggulanginya penyakit ini secara rasional. Penyakit pada umumnya menghasilkan kekompakan dan solidaritas dalam keluarga, namun pada AIDS sering terjadi sebaliknya: orang yang sakit sering dikucilkan dan keluarga jadi pecah. Kelompok-kelompok yang banyak terkena penyakit ini seperti kaum “gang”, pemakai obat bius dan pelacur yang seharusnya diajak bekerja sama, malahan dicurigai, dimusuhi dan dikucilkan.4
Situasi HIV/AIDS Global
Sampai 1 Juli 1994 sejumlah 985.119 kasus AIDS telah dilaporkan kepada WHO. Jumlah tersebut merupakan angka minimal. WHO memperkirakan bahwa di seluruh dunia sebenarnya telah ada sekitar 4 juta penderita AIDS, dengan pengidap HIV diperkirakan lebih dari 16 juta orang dewasa dan sejuta anak-anak. Penyebaran pengidap HIV tersebut seperti tampak dalam Tabel 1.
1 W.L. Heyward dan T.W. Curran, “The Epidemiology of AIDS in the U.S.,” Scientific American, Oktober 1988, hal. 58-59.
2 Robert C. Gallo dan Luc Montagnier, “AIDS in 1988,” Scientific American, Oktober 1988, hal. 40-51.
3 Panos Dossier, The Third Epidemic: Repercussions of the fear of AIDS, The Panos Institute, London/Paris, 1990.
4 Rene Sabatier et al., Blaming Others: Prejudice, race and worldwide AIDS, The Panos Institute, London/Paris, 1988. (lihat juga Tabel 1).