Konsep shadow cost bisa dipakai untuk memperhitungkan biaya total (langsung dan tak langsung) dari perawatan HIV/AIDS. Berapa total biaya tersebut? Sangat tergantung dari usia si penderita, provinsi dan lokasi di mana perawatan dilakukan, jenis kelamin, kualitas kehidupan, tahap (stadium) HIV-nya, dan tentu jenis obat-obatananya. Kemajuan teknologi perawatan memang dapat menekan biaya langsung, tapi keberhasilan pembangunan justru memperbesar biaya tak langsungnya. Karena itu pencegahan tetap yang terbaik dan termurah untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS.
Berapa Biaya Sebuah Kecerobohan?
Bayangkan saya berjalan-jalan di suatu toko, melihat-lihat porselin. Celaka, saya membuat suatu kecerobohan. Tanpa sengaja, tangan saya menyentuh sebuah porselin, dan porselin itu terjatuh — pecah. Di situ telah tertulis “Pecah, Ganti.” Terpaksa saya membayar dua juta rupiah, seharga sebuah porselin. Dari contoh ini jelas terlihat betapa kecerobohan saya (menyenggol hingga jatuh, dan pecah, sebuah porselin) menimbulkan biaya sebesar dua juta rupiah.
Bagaimana bila saya tak mampu membayar dua juta rupiah? Dengan berbagai pembelaan dan surat rekomendasi bahwa saya orang miskin, akhirnya toko itu hanya mewajibkan saya membayar 200 ribu rupiah. Jadi, berapa harga suatu kecerobohan? Karena saya hanya harus membayar 200 ribu rupiah, biaya kecerobohan hanya 200 ribu rupiah? Biaya individu (dari sisi saya) karena suatu kecerobohan memang hanya 200 ribu rupiah. Tetapi, biaya sosial (dalam hal ini ditanggung oleh toko) menjadi 1,8 juta. Biaya total tetap 2 juta, dengan sebagian (200 ribu) merupakan biaya individu (saya) dan sebagian lain (1,8 juta) merupakan biaya sosial (yang ditanggung oleh toko).
Dengan demikian, kecerobohan tadi menimbulkan biaya individu dan biaya sosial. Bila saya sepenuhnya membayar sesuai harga sebuah porselin, biaya total hanya terdiri dari biaya individu. Biaya sosial menjadi nol.
Mari kita buat perandaian lain. Saya tidak membuat kecerobohan seperti di atas. Saya telah memiliki sebuah porselin yang indah di rumah. Saya pergi ke toko hanya ingin melihat harga pasar porselin saya. Ternyata, harga pasar porselin saya sebesar dua juta rupiah.
Saya pulang ke rumah, bergembira melihat porselin saya yang ternyata harganya mahal. Karena terlalu bergembira, porselin tersentuh dan jatuh. Porselin pecah berantakan. Saya telah berbuat suatu kecerobohan. Keindahan di ruangan saya berkurang. Untuk mengembalikan keindahan — gara-gara kecerobohan saya — saya terpaksa mengeluarkan uang sejumlah dua juta rupiah untuk membeli porselin yang baru. Jelas, di sini, bahwa kecerobohan telah menimbulkan biaya sebesar dua juta rupiah, yaitu jumlah uang yang harus saya keluarkan untuk membeli yang baru. Jumlah ini merupakan biaya individu suatu kecerobohan. Dalam kasus ini, tak ada biaya sosial.
Tetapi, bagaimana bila saya tak mau mengeluarkan uang sejumlah dua juta rupiah? Saya pikir-pikir “Kalau saya keluarkan uang dua juta rupiah, saya akan batal membeli sebuah komputer.” Akhirnya, saya putuskan bahwa saya akan membeli porselin yang murah saja, yang harganya hanya 100 ribu rupiah. Nah, berapa biaya suatu kecerobohan? Biaya individu jelas hanya 100 ribu rupiah, karena hanya sejumlah itulah yang saya keluarkan gara-gara saya melakukan kecerobohan. Tapi berapa biaya sosial dalam kasus ini? Tak ada biaya sosial! Tak ada pihak lain yang harus menanggung kecerobohan saya tadi. Jadi, biaya total hanya 100 ribu rupiah?
Walau saya memutuskan bahwa ada hal lain yang lebih penting daripada mengganti porselin itu dengan biaya yang sesungguhnya, tidak berarti biaya kecerobohan tadi lalu menurun hingga hanya 100 ribu rupiah. Karena saya membeli porselin yang tidak sebaik yang semula, maka kepuasan saya terhadap ruangan saya pun berkurang. Saya mengalami defisit 1,9 juta, yang merupakan kekurangan uang yang diperlukan agar kepuasan saya tidak berkurang walau telah melakukan kecerobohan.
Kalau saja saya mempunyai teman yang berbaik hati memberi saya uang sejumlah 1,9 juta untuk membeli porselin yang sama, maka kepuasan saya terhadap ruangan saya tidak berubah. Dalam hal ini biaya individu saya sebesar 100 ribu; tetapi muncul biaya sosial sebesar 1,9 juta, yang ditanggung oleh teman saya yang budiman tadi.
1 Makalah ini suatu ringkasan dari suatu penelitian yang kini tengah dalam penyelesaian akhir, dengan judul yang sama. Penelitian ini coba menggabungkan pendekatan ekonometris, ekonomis, demografi, dan antropologis. Pendekatan ekonometris dilakukan oleh N. Haidy A. Pasay sebagai penanggung jawab dan pendekatan antropologis dikoordinasi oleh Sri Harijati Hatmadji, yang semuanya dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Penulis makalah ini bertindak sebagai peneliti utama. Hadi M. Abednego dan Suriadi Gunawan, dari Departemen Kesehatan, telah banyak memberikan saran yang amat berharga dalam pelaksanaan penelitian ini. Selain itu, tim peneliti ini juga banyak memperoleh masukan yang amat bermanfaat dari: Djubairi Zoerban (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Charles Suryadi (Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya), Nur Chotimah (Kanwilkes Jawa Timur), Alphinus Kambodji (LSM Perspektif), Liliek Sulistyowati (koordinator Outreach), Rachmat Yuwono (RS dr. Sutomo, Surabaya), Sri Kusreni (Pusat Studi Kependudukan Universitas Airlangga), Lukman Hadi (RS Syaibul Anwar, Malang), Pudjo Guntoro (RSD Bojonegoro), Setyobudi (RSD Sanglah), Tuti Parwati (RS Sanglah), Muninjaya (Fakultas Kedokteran Universitas Udayana), dan relevan dari Citra Usadha Indonesia. Telah pula bertindak sebagai nara sumber dalam penelitian ini: Ascobat Gani (Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia), Fasli Jalal (Bappenas), Nafsiah Mboi (DPR), dan Suwarta Kosen (Departemen Kesehatan). Penelitian ini juga mendapat masukan yang berharga dari Mike Linnan (USAID), dan peserta S-2 Kependudukan dan Ketenagakerjaan serta peserta S-2 Ekonomi program pasca sarjana Universitas Indonesia. Diskusi dalam finalization workshop di Manila, yang diselenggarakan oleh ADB/USAID, juga sangat membantu dalam revisi hasil penelitian ini. Penelitian yang merupakan kerjasama antara Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Departemen Kesehatan ini memperoleh biaya dari UNDP. Proyek ini merupakan bagian dari studi komparatif dampak ekonomi AIDS di Asia yang dikoordinasi oleh ADB. Seperti biasa, semua kesalahan yang tersisa dalam makalah ini merupakan tanggung jawab penulis semata.