Tidak ada cetak biru yang siap pakai untuk menanggulangi epidemi HIV/AIDS yang tumbuh sangat pesat. Kita bisa belajar dari pengalaman negara-negara lain di Asia, tetapi dengan merumuskan secara tepat peta persoalan yang ada di Indonesia. Banyak pilihan strategi yang efektif bisa dilakukan, tergantung pada konteks budaya dan pengalaman konkrit dari komunitas tertentu.
Strategi Komunikasi mengenai AIDS di Indonesia
Menurut catatan resmi, sampai bulan September 1994 di Indonesia sudah ada 269 kasus HIV dan AIDS. Ini merupakan angka kumulatif sejak kasus pertama dilaporkan pada tahun 1987 di Bali. Sekalipun angka ini kecil, namun tidak berarti bahwa Indonesia akan bebas begitu saja dari epidemi AIDS, bila tidak dilakukan usaha pencegahan yang intensif.
Kegiatan surveilans terhadap HIV di Indonesia masih minim sekali, karena kendala teknis seperti yang umumnya dialami oleh negeri berkembang. Dalam kurun waktu 6 tahun, baru sekitar 700.000 orang yang diskrining. Surveilans ini pun kebanyakan dilakukan pada kelompok-kelompok yang dianggap “mempunyai risiko tinggi”, dan bukannya untuk memantau penyebaran virus di negeri kepulauan ini. Beberapa organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa saat ini sebenarnya terdapat 70.000 orang HIV-positif di Indonesia.1
AIDS memang bukan lagi sesuatu yang bisa disembunyikan pada masyarakat. AIDS sudah jamak diucapkan orang, bahkan juga “trendy” untuk dibicarakan di kalangan umum dan media massa, meskipun kadangkala masih dipenuhi mitos dan stereotip mengenai penyakit ini. Pemberitaan media massa masih cenderung sensasional, khususnya bila ditemukan kasus HIV+ pada wanita pekerja seks, pria gay, atau selebriti. Sementara itu pernyataan beberapa pemuka masyarakat dan pejabat pemerintah sering bernada menuduh bahwa AIDS muncul akibat penyimpangan seksual atau perilaku yang tidak sesuai norma masyarakat dan adat.
Konstruksi citra masyarakat terhadap AIDS sangat dipengaruhi oleh berita di suratkabar, majalah, radio dan televisi. Dan karena AIDS sendiri pada mulanya (dan juga saat ini) kurang begitu dimengerti oleh para tokoh masyarakat, maka para praktisi media seringkali harus membuat laporan penafsiran mereka mengenai penyakit ini.
Sciortino2 melaporkan adanya empat paradigma atau siklus dalam peliputan atau pelaporan berita AIDS dalam media massa di Indonesia antara tahun 1983-1993. Pada siklus pertama (1983-1986), AIDS dianggap tidak ada (non-existent). Padahal saat itu sebuah tim gabungan dari Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sudah menemukan adanya tiga orang yang HIV-positif pada 1986. Hal ini berlalu begitu saja, dan lepas dari perhatian masyarakat Indonesia. Pada waktu itu AIDS dianggap bukan masalah kita, dan bahkan media yang sering dianggap cukup reliabel seperti Kompas dan Tempo beranggapan bahwa kita tidak perlu khawatir terhadap AIDS.
Ketidakacuhan terhadap AIDS ini diperkuat lagi oleh berita mengenai AIDS pada kalangan pria gay di New York, San Francisco, dan Paris, atau dengan peristiwa meninggalnya bintang film Rock Hudson. Lalu muncullah paradigma ikutannya bahwa AIDS adalah penyakit orang bule. Banyak pernyataan yang bernada moralistik yang mengecam gaya hidup orang Barat, sehingga dikatakan bahwa “AIDS tidak mungkin menyebar di negeri kita yang gaya hidupnya berbeda dengan Eropa dan Amerika Serikat”3
Pada tahun 1987 kasus AIDS yang pertama dan kedua dilaporkan di Indonesia.4 AIDS kini sudah “masuk” Indonesia. Namun, oleh karena kasus pertama dialami seorang pria warga negara Belanda di Bali, dan kasus kedua adalah pria warga negara Kanada di Jakarta, citra bahwa AIDS adalah penyakit orang asing semakin kuat. Budaya Indonesia yang kuat dianggap bisa menangkal bangsa kita dari penyakit “amoral” ini.
Karena kedua kasus itu terjadi pada dua pria gay, dan mereka diperkirakan pernah berhubungan intim dengan pria Indonesia, maka persepsi media terhadap penyakit ini berubah; pembawa penyakit ini bukan saja orang asing, melainkan pria gay secara umum. Hal ini juga mencakup kaum waria, yang oleh kebanyakan masyarakat Indonesia sering disamakan dengan gay.
* Sebagian tulisan ini pernah disajikan sebagai makalah dalam “Seminar on Mass Media and AIDS in Southeast Asia” di Bangkok, Thailand, 17-19 Agustus 1994.
1 Lihat M. Blowfield. Indonesia’s war of numbers, Panos World AIDS, Mei 1994, dan Desti Murdijana & Priyadi Prihaswan. AIDS Prevention in Indonesia. National AIDS Bulletin: Asia and The Pacific Special Focus, April 1994.
2 Sciortino, The Interpretation of HIV/AIDS in Indonesian Newspaper, dalam Maria de Bruyn (Ed.) Altering the Image of AIDS, Amsterdam: VU University Press, 1994.
3 Beberapa buah artikel dan berita dalam harian Pelita, Kompas, Berita Buana, Sinar Pagi, dan Tempo antara 1982-1985 dikutip oleh Maria de Bruyn dalam makalahnya AIDS, Women, and Human Rights yang disajikan pada 22 Maret 1994 di Jakarta dalam diskusi untuk kalangan LSM; Baca juga tulisan Sciortino, 1994.
4 Ini adalah kasus pertama dan kedua yang resmi dilaporkan.