Prisma

Teori | Paradigma “New Growth”

Teori dan Implikasinya terhadap Kebijakan

Teori “New Growth” timbul sebagai reaksi terhadap beberapa kelemahan dari model pertumbuhan Neoklasik. David Ray melihat ada empat ciri yang membedakan teori ini dengan teori Neoklasik, yakni kemajuan teknologi yang endogen, penekanan yang lebih besar pada akumulasi modal, dimasukkannya dampak eksternal dan implikasi model ini yang lebih bersifat intervensi. Pendekatan ini dianggap mampu menunjukkan bahwa distorsi dan intervensi kebijaksanaan dapat mempengaruhi ekonomi dalam jangka panjang.

Pertumbuhan ekonomi jelas merupakan suatu fenomena penting baik bagi negara maju maupun berkembang. Laju pertumbuhan ekonomi yang melebihi laju pertumbuhan penduduk bukan hanya meningkatkan pendapatan per kapita melainkan juga menciptakan lowongan kerja. Anehnya, ilmu ekonomi sudah lama tidak peduli terhadap masalah pertumbuhan. Sejak kedatangan kaum neoklasik pada akhir abad XIX, teori ekonomi yang tradisional lebih banyak memperhatikan masalah tingkat harga dan alokasi sejumlah sumber tertentu ketimbang cara untuk meningkatkan sumber-sumber tersebut. Evsey Domar pada 1957 menulis.

In economic theory, growth has occupied an odd place: always seen around but seldom invited in. It has either been taken or treated as an afterthought.”1

Bahkan bila ekonom Neoklasik berpaling kepada persoalan pertumbuhan sekitar tahun 1950-1960’an hanya sedikit saja analisa mereka yang dapat menjelaskan faktor nyata yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam banyak hal, paradigma “New Growth” dikembangkan sebagai salah satu reaksi terhadap kelemahan intelektual dan empiris model pertumbuhan Neoklasik. Karena itu, sangat penting untuk mengerti di mana dan bagaimana kesalahan model Neoklasik sebelum mempertimbangkan persoalan pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan lebih canggih, yaitu paradigma “New Growth.”

Pendekatan Neoklasikn2

Terdapat beberapa masalah utama dalam pendekatan Neoklasik terhadap masalah pertumbuhan ekonomi. Pertama, asumsi penting model tersebut yang menyatakan bahwa laba atau hasil investasi akan semakin merosot (diminishing returns to capital). Asumsi demikian membatasi kemampuan kerangka Neoklasik untuk memberi penjelasan memuaskan tentang perbedaan pertumbuhan pendapatan perkapita antanegara dan juga merupakan sebuah ciri yang membedakan pandangan tradisional (atau ortodoks) dengan pertumbuhan dari pendekatan “New Growth.”

Apabila laba dari modal semakin menurun, maka dorongan untuk menabung dan investasi berlaku hal yang sama. Dengan demikian, menurut model pertumbuhan Neoklasik, investasi dalam jangka panjang tidak bisa mempengaruhi tingkat pertumbuhan. Bagaimanapun, dalam jangka pendek, negara yang sedang berkembang — di mana modal dapat diinvestasikan secara lebih menguntungkan karena perbandingan modal-buruh yang lebih rendah — semestinya mampu menyusul negara-negara yang sudah maju (catch up growth). Pembukaan ekonomi negara yang sedang berkembang terhadap pasar modal internasional akan memperkuat proses pertemuan (convergence) ini. Hal ini disebabkan oleh pemasukan penanaman modal asing yang menyebabkan pertumbuhan stok modal yang lebih besar dan karena itu pendapatan per kapita yang lebih tinggi juga.

Bagaimanapun, dari grafik di bawah dapat dilihat bahwa bukti empiris tidak bisa mendukung hipotesis convergence. Pertumbuhan pendapatan tiga golongan pendapatan negara — rendah, sedang dan tinggi — dengan jelas tidak converge. Pembuktian convergence memerlukan sebuah kondisi dimana laju pertumbuhan golongan negara berpendapatan rendah berada di atas kedua golongan pendapatan yang lain. Satu-satunya bukti empiris dari berbagai studi adalah convergence yang terjadi antara negara-negara OECD, dan bukan antara negara kaya dan negara miskin. Walaupun demikian, pendukung pendekatan Neoklasik tetap berpendapat bahwa pendapatan antar negara akan converge (dengan catatan sinyal pasar menentukan harga dan arus investasi) dalam jangka panjang dan semua negara pada akhirnya akan mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang sama, yaitu pertumbuhan steady state yang ditentukan oleh tingkat pertumbuhan penduduk dan tingkat pertumbuhan kemajuan teknologi.


1 Evsey Domar adalah salah satu penulis, yang bersama Roy Harrod, menciptakan model pertumbuhan Harrod Domar pada tahun 1940-an; lihat, Evsey D. Domar, Essays in the Theory of Growth (London: Oxford University Press, 1957).

2 Pembicaraan model Neoklasik didasarkan pada model pertumbuhan Solow dan Swan; lihat, R. M. Solow, “A Contribution to the Theory of Economic Growth,” dalam Quarterly Journal of Economics 70 (August), 1956; T. W. Swan, “Economic Growth and Capital Accumulation,” dalam Economic Record, 32 (November), 1956.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan