Berbagai Variasi dan Kerumitannya
Kajian ini merupakan paparan gambaran umum tentang konflik yang melanda umat Islam di Indonesia belakangan ini, baik yang disebabkan faktor internal maupun faktor eksternal. Sebagai inti uraian, penulis menelusuri corak konflik dalam era Orde Baru, ketika faktor-faktor tersebut pengaruhnya cukup dominan. Selain penyebab timbulnya konflik, penulis juga membahas sifat konflik yang berlaku universal dan khas dalam konteks Indonesia.
Akar sejarah konflik (politik) Islam dapat dilacak sampai ke masa formatif Islam, yakni ketika Nabi Muhammad meninggal. Para sahabat Nabi telah mulai bertikai tentang siapa yang akan diberi amanat dalam memegang tampuk kepemimpinan Umat. Bahkan ketika terjadi pergantian khalifah Umar dan Ustman, konflik tersebut begitu runcing sampai berakhir dengan pertumpahan darah. Begitu juga masa-masa kejayaan Islam sekitar empat abad, konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Konflik dapat bermakna baik positif maupun negatif. Kaum Marxis mungkin memandang konflik adalah awal suatu dinamika. Dengan konflik akan terjadi dialektika, yang akan berujung pada revolusi, sebagai satu fase menuju masyarakat sosialis. Tetapi bagi umat Islam, konflik lebih banyak menimbulkan dampak negatif daripada sebagai picu mencari langkah yang lebih konstruktif. Hanya dalam momentum tertentu segi positif konflik dapat dirasakan umat Islam.
Dalam arti positif, dinamika ini bercirikan munculnya berbagai gerakan baik berupa pemikiran maupun berbentuk aksi nyata dalam rangka mengaktualisasikan nilai-nilai dan ajaran Islam. Hal ini dimungkinkan karena Islam, secara normatif-doktrinal, tidak pernah memasung kreativitas pemeluknya untuk mengembangkan doktrin dan ajaran Islam sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan tingkat perkembangan wawasan pemikiran umat Islam. Sedangkan dalam arti negatif, kekayaan khasanah Islam di Indonesia menjelma menjadi konflik tajam dalam skala sangat luas dan dapat mengancam usaha integrasi. Banyak penggalan sejarah perjalanan bangsa Indonesia membenarkan anggapan ini.
Konflik internal Islam secara garis besar bersumber dari dua faktor, yakni politik, dan “agamis,” yaitu perbedaan visi dalam memahami doktrin Islam. Munculnya aliran “sunni” dan “syi’ah” merupakan perlambang puncak konflik yang inheren dalam proses perjalanan sejarah politik Islam yang berakar dari dua sumber tersebut. Kendati demikian, konflik tersebut dapat dikatakan masih bersifat “internal Islam” dan belum ada unsur pemicu dari “luar” yang sangat berkepentingan terhadap perpecahan di dalam tubuh umat Islam.
Kompleksitas dinamika internal bukan saja menimbulkan kemampuan progresif untuk mengejawantahkan aspirasi dan kepentingan Islam yang kian beragam, tetapi juga menimbulkan konflik yang sangat bervariasi. Dari pendekatan seperti ini, peta konflik umat Islam dapat ditelusuri secara lebih transparan.
Di dalam era moderen, terutama sejak munculnya penjajahan Barat pada abad XV, intensitas konflik yang melanda umat Islam bertambah kronis. Imperialisme bukan saja berdimensi ekonomi dan politik tetapi juga bermuatan sosial-budaya.1 Dalam hal ini, penjajah Barat berkepentingan menyebarkan agama mereka, yang kebetulan berbeda dengan agama mayoritas penduduk negeri yang mereka jajah.2 Umat Islam di Afrika dan Asia telah menjadi “mangsa” kolonialisme budaya tersebut. Kepentingan penyebaran agama Nasrani oleh penjajah telah menimbulkan konflik yang begitu luas di kalangan umat Islam, ketika penduduk pribumi yang “dininabobokkan” penjajah berpihak pada kepentingan kolonial dengan melakukan provokasi menggerogoti agama penduduk pribumi. Di Indonesia pun picu konflik akibat proses kolonisasi ini dapat dijumpai.3 Karena itu, setiap analisa tentang konflik Islam tidak mungkin mengabaikan faktor sejarah.
Kajian ini hendak memaparkan sebuah gambaran umum tentang konflik yang melanda umat Islam di Indonesia akibat baik faktor internal maupun eksternal. Pembahasan diawali dengan sebuah pendahuluan yang diikuti uraian singkat akar konflik, terutama pada awal abad XX. Akan ditelusuri 12 corak konflik dalam era Orde Baru, ketika pengaruh faktor internal dan eksternal dominan, yang dapat digolongkan dalam tiga kategori. Dalam hal ini aspek politik dan doktrinal Islam akan lebih banyak disoroti. Corak konflik yang berjumlah 12 itu dapat diklasifikasikan secara berurutan menjadi tiga varian. Pertama, sebagai dinamika internal (tujuh butir). Kedua, respon dalam menghadapi berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan langsung dengan keberadaan umat Islam sebagai komunitas yang berkepentingan keagamaan (empat butir). Ketiga, sebagai manifestasi keprihatinan terhadap ekspansi agama Nasrani (satu butir).
Penyebab timbulnya konflik ada yang bersifat universal, tetapi ada pula yang khas dalam konteks Indonesia. Dalam konteks Indonesia dimaksudkan perkembangan Islam era Orde Baru sebagai fokus utama. Secara global, penyebab tersebut dapat disederhanakan menjadi aspek internal dan eksternal.
1 S.N. Eisenstadt, Modernization: Protest and Change (Englewood Cliffs, N. J.: Prentice-Hall, Inc, 1966); I.R. Sinai, The Challenge of Modernisation (New York: W. Norton and Company, Inc., 1964); R. Scott (ed.), The Politics of New State: a General Analysis with Case Studies from Eastern Asia (London: George Allen and Unwin Ltd., 1970).
2 A.S. Ahmed, Discovering Islam Making Sense of Muslim History and Society (London: Routledge, 1988).
3 Th. Sumartana, “Eksperimentasi Demokratisasi dari Agama-agama,” dalam M.I. Aziz, M.J. Maula dan E. KH Darwis (eds.), Agama Demokrasi dan Keadilan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993).