Prisma

Politik Filem Indonesia Orde Baru

Khrisna Sen, Indonesian Cinema: Framing the New Order, London & New Jersey: Zed Books, 1994, 187 halaman.

SEBAGAI satu bentuk budaya massa yang bersifat audiovisual, filem dipandang dapat mempengaruhi bahkan membentuk nilai-nilai dan sikap hidup serta perilaku masyarakat. Berangkat dari pandangan semacam inilah pemerintah di banyak negara merasa perlu secara serius menaruh perhatian terhadap dunia perfileman. Salah satu bentuk perhatian itu diwujudkan dengan mendirikan lembaga sensor filem. Antara lain melalui lembaga inilah pemerintah berusaha menentukan nilai-nilai dan perilaku hidup macam apa yang boleh dan tidak boleh disebarkan ke masyarakat.

Dengan adanya lembaga sensor ini berarti filem, entah secara langsung atau tidak langsung, senantiasa berurusan dengan penyelenggaraan kekuasaan negara. Artinya, mulai dari proses pembuatan sampai pengedarannya, filem tidak pernah bebas dari rambu-rambu kekuasaan yang ada. Selain itu, filem juga tidak pernah steril dari ideologi yang dominan. Sebab selain ada institusi yang menjaga rambu-rambu kekuasaan, juga ada institusi-institusi yang merancang dan menentukan filem-filem dengan tema macam apa yang layak dan tidak layak diproduksi serta filem seperti apa yang bisa disebut baik. Dengan demikian, bangunan cerita sebuah filem tidak pernah sepenuhnya tergantung pada kehendak bebas si pembuatnya, tetapi senantiasa terkait dengan berbagai macam kepentingan lembaga-lembaga yang mengitarinya.

Buku ini mencoba mengkaji filem-filem Indonesia Orde Baru (baca: pasca 1965) dengan melihat keterkaitan antara kedua hal itu.

Dengan pendekatan institusional-tekstual itu, penulis buku ini berambisi untuk keluar dari berbagai teori filem yang ada: mulai dari teori filem Barat, teori filem Dunia Ketiga hingga apa yang ia sebut “pendekatan Asianis.” Teori-teori dan pendekatan itu, menurut Khrisna Sen, sangat menekankan kesinambungan dan universalitas di dalam filem nasional. Dengan penekanan semacam ini, hal-hal yang signifikan menjadi terabaikan, yakni perubahan, interupsi, dan disrupsi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan