Komentar untuk Vedi R. Hadiz
PRISMA No. 10, Tahun XXIII, Oktober 1994, memuat sebuah esai berjudul “Gerakan Buruh dalam Sejarah Politik Indonesia” yang ditulis Vedi R. Hadiz. Tulisan itu sangat menarik karena mampu memberikan sebuah gambaran singkat tentang panjangnya sejarah perjuangan buruh di Indonesia dalam memperjuangkan kebebasan.
Saya tidak ingin mengulang kembali beberapa kesimpulan yang diambil Saudara Vedi, tapi saya akan menambah beberapa tekanan yang saya pikir harus diberikan untuk lebih mempertegas posisi kelas buruh dalam sejarah politik di Indonesia.
Memang betul tidak banyak orang yang sadar bahwa gerakan buruh Indonesia adalah sama tuanya dengan gerakan nasionalisme melawan penjajahan. Tapi apa signifikansi pokok yang dibawa oleh gerakan buruh dan gerakan nasionalis, serta pengaruhnya satu sama lain dalam membentuk watak perjuangan pembebasan nasional di negeri jajahan macam Hindia Belanda?
Soetan Sjahrir, salah seorang tokoh pergerakan tahun 1930-an mengatakan bahwa “perjuangan antikolonial mempunyai tendensi antikapitalisme yang menguasai sumber-sumber pokok kehidupan mereka sebagai suatu bangsa” (Nasionalisme dan Internasionalisme). Artinya, interaksi gerakan nasionalis yang membawa wawasan politik antikolonial dan kebangkitan gerakan buruh yang berwatak kelas telah memberikan wa-
tak kelas dalam perjuangan pembebasan nasional di Indonesia.
Tesis Shiraishi yang menjadi karya paling “hidup” dalam melihat gerakan buruh masa kolonial, bila kita baca secara lain tidak hanya sebagai “zaman pemogokan,” tapi yang lebih substansial lagi ingin menjelaskan bahwa gerakan nasionalis yang berwatak kelas lah yang paling maju, konsisten, militan dan mempunyai pengaruh luas kepada massa dan penguasa kolonial.
Orang-orang seperti Semaun, Darsono, Sneevliet, Bergsma tidak hanya mengenalkan sosialisme kepada kaum buruh, tapi yang lebih penting lagi adalah andil mereka untuk memberikan watak kelas kepada gerakan nasionalis di Indonesia. Serikat Islam adalah contoh organisasi massa antikolonial yang kemudian terpilah antara kekuatan yang mendukung ide-ide pertentangan kelas yang dibawa Serikat Islam Semarang dengan kubu yang tetap mewakili aspirasi kaum borjuis kecil.
Pertentangan ini kemudian semakin dipertajam dalam pembentukan Pusat Pergerakan Kaum Buruh (PPKB). Watak kelas dalam gerakan pembebasan nasional yang dipelopori oleh kelas buruh telah mendorong pemilahan antara kubu yang tidak ingin buruh dibawa kepada tujuan-tujuan politik dengan metode perjuangan yang militan (bahkan revolusioner), dengan kelompok yang ingin menjadikan buruh sebagai kekuatan politik pelopor.