Prisma

Telaah | Kesenjangan Struktur Persediaan dan Permintaan Tenaga Kerja Terdidik

Masalah pengangguran terdidik antara lain timbul karena terlalu banyaknya lulusan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan yang dituntut dunia industri-usaha. Penulis mencoba menelaah keadaan penawaran dan permintaan tenaga kerja terdidik. Pendekatan masalah ini menggunakan analisis teori Human Capital dan Kredensialisme. Penulis antara lain menunjukkan bahwa mekanisme seleksi dalam dunia industri-usaha turut menentukan timbulnya masalah pengangguran terdidik.

Latar Belakang

Pengangguran tenaga kerja pada dasarnya merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara, baik negara berkembang maupun negara maju. Dari berbagai gejala empiris dapat disimpulkan bahwa angka pengangguran tenaga kerja terdidik bukanlah merupakan indikator kemajuan suatu negara yang tepat karena terdapat suatu kecenderungan bahwa angka pengangguran di negara-negara industri cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Untuk itu ada baiknya jika ditelaah ungkapan Knight dan Sabot.1 Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Todaro,2 yang mengungkapkan: angka pengangguran umumnya rendah pada negara berkembang, tetapi tatkala suatu negara mulai menginjak era industri angka pengangguran cenderung meningkat, namun demikian pada waktu suatu masyarakat mulai memasuki era pasca industri, angka pengangguran tersebut cenderung menurun kembali. Melihat pernyataan ini, meningkatnya angka pengangguran di Indonesia bahkan cenderung merupakan indikator dari pesatnya perkembangan industri.

Pengangguran tenaga kerja terdidik terjadi akibat dari kelebihan penawaran tenaga kerja terdidik yang dihasilkan oleh sistem pendidikan relatif terhadap kesempatan kerja yang tercipta pada suatu sistem ekonomi. Sehubungan dengan munculnya kelebihan tenaga kerja terdidik ini, faktor manakah yang paling menentukan penawaran atau permintaan tenaga kerja? Jawabannya tidaklah sederhana, karena menyangkut berbagai faktor yang kait-mengkait.

Studi ini mencoba mengetengahkan jawaban empiris tentang keadaan penawaran tenaga kerja terdidik dibandingkan dengan permintaan lapangan kerjanya dan berbagai pemikiran dan analisis kaitan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja terdidik serta berbagai pemikiran tentang strategi pemecahan masalah pengangguran tenaga kerja terdidik di masa depan, baik dilihat dari sisi persediaan maupun permintaan tenaga kerja terdidik dalam suatu pasar kerja.

Pendekatan

Apakah pendidikan formal merupakan faktor penentu dalam menunjang pertumbuhan ekonomi masih merupakan pertanyaan yang belum dapat dijawab dengan tuntas oleh penelitian-penelitian yang sudah dilakukan. Peranan pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) memang tidak perlu diragukan. Apakah pengembangan sumber daya manusia tersebut selalu harus dilakukan melalui pendidikan formal? Program pendidikan formal bagaimanakah yang mampu mengembangkan SDM agar menjadi modal dasar pembangunan yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat relevan dengan isu kebijakan pendidikan yang sedang disoroti saat ini, khususnya dalam kaitan antara pendidikan dan ketenagakerjaan.

Titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi ialah produktivitas tenaga kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan, semakin tinggi produktivitas tenaga kerja, semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat. Anggapan ini diperoleh dari suatu teori yang dinamakan Teori Human Capital. Teori ini menerangkan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena pendidikan berperan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Teori ini merasa yakin bahwa pertumbuhan suatu masyarakat harus dimulai dari produktivitas individu. Jika setiap individu produktif dia akan memiliki penghasilan yang lebih tinggi karena pendidikannya lebih tinggi; pertumbuhan ekonomi masyarakat pun dapat ditunjang. Teori human capital ini menganggap bahwa pendidikan formal merupakan suatu investasi baik bagi individu maupun bagi masyarakat. Dari teori ini timbullah beberapa model pendidikan dan pertumbuhan ekonomi misalnya dengan menggunakan teknik rate of return analysis, serta model pendidikan dan tenaga kerja.

Namun demikian, sering dijumpai kenyataan empiris bahwa asumsi yang digunakan oleh teori Human Capital tidak selalu benar. Misalnya, studi-studi yang dilakukan oleh Blau dan Duncan,3di Amerika Serikat, Mark Blau,4 di Inggris, Schiefelbel & Farrel,5 di Cile, dan Cummings,6 di Indonesia ternyata menunjukkan kecenderungan yang tidak berbeda antara negara maju dan negara berkembang; bahwa pendidikan formal hanya memberikan kontribusi lebih kecil daripada faktor-faktor luar sekolah terhadap status pekerjaan dan penghasilan lulusan pendidikan formal.


1 Knight, B. John dan Richard H. Sabot, Education, Productivity, and Inequality, The East African Natural Experiment, World Bank Research Publication (1990).

2 Edwards Edgar O. dan Michael P. Todaro, “Education and Employment in Developing Nations,” (1979).

3 Peter M. Blau dan Otis Dudley Duncan, The American Occupational Structure (New York: The Free Press, 1967).

4 Ibid.

5 Ernesto Schiefebein dan Joseph Farrell, “Eight of Their Life; Through Schooling to Labor Market in Chile” (Ottawa: IDRC, 1982).

6 Williams Cummings, “Studi Pendidi­dikan dan Tenaga Kerja pada Beberapa Industri Besar di Indonesia” (Jakarta: Pusat Penelitian BP3K, 1980).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan