Kebudayaan dan Kondisi Spiritual Masyarakat
Ekstasi telah melanda kehidupan masyarakat konsumer dan seluruh energi dipusatkan bagi pembebasan dan pemenuhan hawa nafsu. Diskursus komunikasi tidak lagi ditopang oleh sistem makna dan pesan melainkan oleh sistem komunikasi bujuk-rayu yang menjunjung tinggi ilusi. Yang kemudian tercipta adalah sebuah sistem ekonomi yang lepas dari segala kriteria. Uang, misalnya, tak lagi berfungsi sebagai “representasi nilai ekonomi,” melainkan sebagai sebuah “penampakan tanpa makna.” Menurut Yasraf Amir Piliang, untuk mengembalikan ke “posisi” awal, ruang pengasahan spiritual harus dibangun kembali dari puing-puing meskipun lewat media dan ungkapan yang berbeda.
Dunia akhir-akhir ini dilanda oleh “kepanikan global” berkenaan dengan lenyapnya berbagai bentuk materi sebagai akibat wacana kapitalisme mutakhir: lapisan ozon, hutan tropis, gajah Afrika. Namun dunia seolah-olah tak peduli dengan terkikis dan lenyapnya lapisan-lapisan moral, spiritual dan kemanusiaan di tengah deru ekonomi kapitalisme global yang menuju titik ekstremnya dewasa ini.
Menyusutnya jumlah habitat orang utan Sumatera telah menimbulkan kepanikan masyarakat Eropa berkenaan dengan masa depan kehidupan umat manusia. Tetapi lenyapnya dimensi moral, kehangatan spiritual dan makna kemanusiaan di dalam industri media massa, komoditi dan tontonan global yang bersifat hiper-realis dewasa ini tak sedikit pun mengusik kesadaran nurani kemanusiaan.
Ketidakpedulian masyarakat dunia terhadap segala dimensi dan nilai ini adalah akibat tenggelamnya mereka ke dalam kondisi “ekstasi” masyarakat konsumer. Keterpesonaan, ketergiuran dan hawa nafsu yang dibangkitkan oleh kondisi “ekstasi” telah melanda kehidupan masyarakat konsumer di tengah-tengah kehidupan yang dikitari oleh dan belantara benda-benda, tanda-tanda, makna-makna semu. Di tengah-tengah kehampaan hidup dan kekosongan jiwa akan makna-makna spiritual, moralitas dan kemanusiaan; di tengah-tengah dibangunnya hidup di atas landasan gemerlapnya citraan-citraan ketimbang dalamnya substansi dan transendensi.
Ketika pembunuhan kini tidak lagi merupakan sesuatu yang mengerikan, menakutkan, menyakitkan, membangkitkan perasaan sedih atau sadis, tetapi justeru menimbulkan kebanggaan; when, ketika jiwa manusia tak lebih berharga dari sebatang rokok atau selembar seribuan rupiah; ketika membunuh orang sama gampangnya dengan “membunuh” seorang tokoh dalam permainan Nintendo; atau, ketika perkosaan tak lagi menimbulkan perasaan bersalah, dosa, atau hina, tapi justeru sebaliknya perasaan kemenangan, kejantanan dan kebanggaan, maka ketika itu tenggelamlah masyarakat ke dalam “kondisi ekstasi,” menuju suatu dimensi moralitas yang serba terbalik dan ekstrem.
Tidak saja ada obat bius atau “suntikan Ecstasy” yang dapat menghanyutkan manusia menuju dunia ekstasi kesadisan dan seksual ekstrem, tetapi juga ada ekstasi dalam pergantian produk, mode, gaya di dalam diskursus fashion — ekstasi komoditi; ekstasi dalam menikmati perkembangbiakan bentuk-bentuk seksual — ekstasi seksual; ekstasi dalam berkomunikasi tanpa merasa perlu adanya pesan dan makna komunikasi — ekstasi komunikasi; ekstasi dalam bersosialisasi secara global tanpa merasa perlu berinteraksi secara fisik — ekstasi sosial. Kini, dalam wacana sosialisasi global, bukan kita lagi yang bergerak mengelilingi dunia, tetapi dunia yang bergerak mengelilingi kita lewat ekstasi internet. Semua bentuk ekstasi ini secara bersama-sama membawa masyarakat konsumer ke dalam tamasya menuju sebuah siklus ritual semu.
“Ekstasi” adalah suatu keadaan mental dan spiritual yang mencapai titik puncaknya, ketika jiwa secara tiba-tiba naik ke tingkat pengalaman yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan kesadaran sehari-hari, sehingga ketika itu muncul semacam puncak kemampuan diri dan kebahagiaan yang luar biasa serta trance, yang kemudian diiringi oleh “pencerahan.”1n^$1^n$^
Richard Kirby melihat, bahwa dari sudut kehidupan manapun seseorang mencapai puncak ekstasi, sejauh dilakukan dalam upaya mencapai kesempurnaan diri di hadapan Tuhan Yang Maha Sempurna, maka upaya itu adalah upaya mistik, sebab tujuan mistik adalah mencapai kesempurnaan umat manusia di hadapan Tuhan Yang Maha Sempurna.2n^$2^n$^
Tetapi di dalam masyarakat konsumer dewasa ini — yang menjadikan filsafat pragmatik Amerika sebagai modelnya — berkembang biak apa yang disebut Kirby “mistisisme semu.” Bila mistisisme menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan, mistisisme semu menjadikan kepribadian Amerika yang pragmatik dan narsistik sebagai paradigma kehidupan.
Manusia tidak akan bisa mencapai kesempurnaan spiritualnya, tanpa pernah memupuk akar kehidupan di dalam diri melalui kekhusukan ibadah atau perenungan. Tetapi masyarakat konsumer yang dikelilingi oleh hutan rimba komoditi dan tontonan, dengan segala muatan makna status, simbol dan prestisenya, dengan perubahan dan pergantiannya yang semakin cepat — mereka tidak punya cukup waktu untuk mencapai kekhusukan melalui perenungan. Bahkan, dalam waktu “istirahat” dari kerja pun, manusia konsumer masih diresahkan oleh kredit rumah, mobil atau kulkas yang jatuh tempo, tagihan telepon yang naik, model pakaian yang sudah ketinggalan zaman; digoda oleh acara sepak bola di televisi, dirayui oleh iklan-iklan kebugaran tubuh, diiming-imingi oleh kuis-kuis tebakan yang menjanjikan.
1 Benjamin Walker, Body Magic (Paladin, 1977), hal. 122.
2 Menurut Richard Kirby, pengalaman ekstasi melalui mistik bisa muncul dalam berbagai cara — tidak selalu bersifat religius. Pengalaman ekstasi bisa muncul tatkala berzikir di sebuah tempat ibadah; tatkala bereksperimen di sebuah laboratorium; tatkala mengembara di dalam dunia pemikiran-pemikiran filosofis; tatkala memecahkan satu persoalan matematis; tatkala mendengarkan musik simfoni atau rock; tatkala menyaksikan pertandingan sepak bola; tatkala menyetir sebuah mobil balap; atau tatkala terlena akibat suntikan Ecstasy. Namun, banyak di antara pengalaman ekstasi ini yang bersifat mistisisme palsu; lihat, Richard Kirby, The Mission of Mysticism (London: SPCK, 1979), hal. 30.