Ciri-ciri demografi di Indonesia masih merupakan faktor penghambat dalam usaha memecahkan masalah ketenagakerjaan. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi memacu besarnya penduduk berusia muda yang pada gilirannya meningkatkan jumlah angkatan kerja. Di sisi lain, tingkat urbanisasi di Indonesia terlihat masih rendah disebabkan mobilitas sirkuler yang dilakukan para migran. Dengan kota Wonosobo dan Cilacap sebagai daerah penelitian, penulis membahas perilaku dan strategi migran tersebut untuk berjuang mempertahankan hidup dan mengembangkannya lebih lanjut.
ndonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Pada periode 1970-1980, tingkat pertumbuhan ekonomi (Gross Domestic Product; GDP) yang dicapai sebesar 7,6% per tahun.1 Tingkat pertumbuhan demikian jarang dialami baik negara berkembang maupun negara maju pada periode yang sama. Secara keseluruhan, dalam periode 25 tahun (1968-1993), rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,6% per tahun.2 Meskipun demikian masih ada ganjalan yang belum terpecahkan berupa masalah ketenagakerjaan, terutama besarnya pekerja sektor informal. Sektor informal ini menyerap 77,1% dari keseluruhan tenaga kerja sebanyak 65 juta.3
Ciri demografi Indonesia seperti jumlah penduduk yang besar, tingkat pertumbuhan penduduk relatif tinggi, struktur penduduk berusia muda, dan distribusi penduduk yang tidak merata dipandang masih merupakan faktor penghambat dalam usaha memecahkan masalah ketenagakerjaan dewasa ini. Menurut sensus penduduk 1990, Indonesia memiliki penduduk 179,3 juta jiwa; negara keempat yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia setelah Cina (1.119,9 juta), India (853,4 juta), dan Amerika Serikat (251,4 juta).4 Sementara itu, tingkat pertumbuhan penduduk pada periode 1980-1990 masih 1,97% per tahun, struktur umur penduduk muda (kelompok umur 0-14 tahun) mencapai 39,4%, dan distribusi penduduk 59,99% bertempat tinggal di Pulau Jawa.5
Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memacu besarnya penduduk berusia muda yang pada gilirannya meningkatkan jumlah angkatan kerja. Hasil proyeksi angkatan kerja menunjukkan bahwa saat tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,8%, angkatan kerja akan tumbuh sebesar 2,4%. Pulau Jawa yang luasnya hanya 6,89% dari seluruh wilayah Indonesia menampung 52,10% kesempatan kerja di sektor pertanian atau sektor primer.6
Di sisi lain, lahan pertanian di Pulau Jawa semakin menciut akibat berkembangnya industri. Sekitar 70.000 hektar lahan sawah, termasuk sawah tadah hujan, di Jawa dalam periode 1980-1990 berubah fungsi menjadi lahan industri, permukiman, dan sarana lainnya. Luas lahan pertanian di Jawa yang semula 3,490 juta hektar telah menyusut menjadi 3,420 juta hektar pada periode tersebut.7 Beberapa penelitian mikro mengungkapkan rata-rata pemilikan lahan pertanian di desa yang ternyata sangat sempit,8 berkisar 0,09-0,32 hektar per kepala keluarga. Keterbatasan pemilikan lahan merupakan faktor penyebab utama semakin banyaknya petani yang “terhempas” dari sektor primer.
Sementara itu, daerah perkotaan relatif memiliki daya tarik berupa potensi kemudahan yang diciptakan oleh keberlangsungan pembangunan. Analisis sensus penduduk 1990 mengungkapkan bahwa kesempatan kerja di sektor tersier daerah perkotaan mencapai hampir tiga kali lipat dari sektor manufaktur atau sektor sekunder (Tabel 1). Pekerja di sektor tersier mencapai 11.915 ribu, sedangkan sektor sekunder hanya 4.319 ribu.
Ketimpangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan dalam model perkembangan yang dialami negara Barat pada tahap awal pembangunan mereka. Menurut Lewis, Fei, dan Ranin, pengalaman historis pertumbuhan ekonomi di Barat memperlihatkan bahwa tingkat mobilitas tenaga kerja dari desa ke kota dan penciptaan kesempatan kerja sektor modern di perkotaan berjalan proporsional dengan tingkat akumulasi modal yang diinvestasikan dalam pembangunan industri. Semakin cepat tingkat akumulasi modal semakin tinggi pula tingkat pertumbuhan sektor modern dan pada gilirannya mempercepat penciptaan kesempatan kerja yang baru. Sektor sekunder yang banyak dibangun di kota menjadi pemacu pertumbuhan ekonomi dan mampu menyerap kelebihan tenaga kerja (labour surplus) yang berpindah dari daerah pedesaan, sehingga transformasi sektoral dari sektor agraris ke sektor industri akhirnya berlangsung dengan mulus.
* Tulisan ini disarikan dari disertasi penulis, “Studi tentang Perilaku Migran Sirkuler Sektor Informal di Kota Wonosobo dan Cilacap serta Dampaknya terhadap Intensitas Migrasi Desa-Kota,” dalam Ilmu Geografi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 18 Januari 1995.
1 World Bank, World Development Report 1982 (Washington, D.C.: International Bank for Reconstruction and Development, 1982).
2 Soeharto, “Saya Merasa Sangat Berbahagia Memperoleh Kesempatan Sejarah,” dalam Kompas, 2 Maret 1993.
3 Sudomo, “Lagi tentang Sektor Informal,” dalam Kedaulatan Rakyat, 8 November 1986.
4 Lihat, World Population Data Sheet (Washington DC: Population Reference Bureau, Inc., 1990).
5 Biro Pusat Statistik, Penduduk Indonesia: Tabel Pendahuluan Hasil Sub-Sampel Sensus Penduduk 1990, Seri S No.1. Jakarta, 1991.
6 Biro Pusat Statistik, Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia 1990, Jakarta, 1991.
7 Muljana, “Tujuh Puluh Ribu Hektar Sawah di Jawa Alih Fungsi,” dalam Bernas, 11 November 1992.
8 Sunarto Hadisupadmo, “Pengaruh Remitan Migran Sirkuler terhadap Kesejahteraan Keluarga Migran dari Desa Asal: Suatu Kajian di Desa Mulusan dan Sodo,” disertasi Doktor, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1991; I.B. Mantra, Population Movement in Wet Rice Communities: a Case Study of Two Dukuh in Yogyakarta Special Region (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1981).