Prisma

Telaah | Industri Kecil dan Konglomerasi di Indonesia

Prospek Kemitraan

Pembangunan selama lima Pelita berhasil mengubah struktur perekonomian Indonesia secara drastis. Sektor industri yang semula berada di urutan ketiga, kini menempati urutan pertama. Meskipun demikian masih cukup banyak masalah yang belum sepenuhnya terpecahkan. Satu di antaranya adalah kesenjangan ekonomi. Tulisan ini bermaksud mengkaji aspek kesenjangan dalam sektor industri pengolahan, yaitu antara industri kecil dan rumah tangga dengan industri besar dan menengah. Juga akan dibahas peluang dan tantangan program kemitraan sebagai salah satu strategi untuk mengurangi kesenjangan industri di Indonesia.

Pelaksanaan pembangunan selama lima Pelita lalu telah berhasil mengubah struktur perekonomian Indonesia secara drastis. Bila pada awal Pelita I struktur perekonomian Indonesia masih didominasi oleh sektor pertanian, maka pada akhir Pelita V yang lalu keadaannya telah berubah sama sekali. Sektor industri yang semula hanya berada di urutan ketiga, kini telah menguguli sektor pertanian dan menempati urutan pertama. Sedangkan sektor pertanian yang semula berada di urutan pertama, kini merosot ke urutan ketiga. Dengan demikian, urutan kedua tetap ditempati oleh sektor perdagangan dan jasa.1

Perubahan struktur perekonomian yang berlangsung bersamaan dengan peningkatan pendapatan perkapita itu tentu mengesankan terjadinya peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia secara cukup berarti.2 Bila dikaji lebih jauh, meskipun telah terjadi perubahan dan kemajuan yang cukup besar, pada saat yang sama masih cukup banyak masalah yang belum sepenuhnya terpecahkan. Salah satu di antaranya adalah masalah kesenjangan ekonomi. Transformasi struktur perekonomian itu ternyata belum sepenuhnya dapat menghapuskan kesenjangan ekonomi, baik antar golongan pendapatan, antara daerah, antara sektor ekonomi, maupun antarpelaku dalam masing-masing sektor ekonomi.

Tulisan ini tidak bermaksud mengkaji berbagai aspek kesenjangan itu. Pembahasan akan dibatasi hanya pada aspek kesenjangan dalam sektor industri pengolahan, yaitu antara industri kecil dan rumah tangga dengan industri besar dan menengah. Untuk itu, tulisan ini akan dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama dan kedua berbicara struktur industri, serta ciri-ciri keterbelakangan industri kecil secara umum. Bagian ketiga membahas fenomena konglomerasi beserta latar belakangnya. Sedangkan bagian keempat, sekaligus sebagai penutup, membahas peluang dan tantangan program kemitraan sebagai salah satu strategi untuk mengurangi kesenjangan industri di Indonesia.

Struktur Industri Indonesia

Salah satu aspek penting transformasi struktur perekonomian Indonesia selama lima Pelita adalah peningkatan peranan sektor industri yang tergolong sangat pesat. Sektor-sektor lain juga mengalami pertumbuhan, namun pertumbuhannya cenderung lebih lamban. Sektor pertanian misalnya, dalam periode 1970-1992, hanya tumbuh sekitar 3,6% pertahun. Selain didorong oleh sub-sektor pertambangan, yaitu melalui beberapa kali peningkatan harga minyak dalam periode 1970-1980, peningkatan peranan sektor industri yang sangat pesat itu tidak dapat dilepaskan dari peranan sub-sektor industri pengolahan. Pertumbuhan industri pengolahan sejak Pelita I rata-rata mencapai 13% pertahun. Akibatnya, sumbangan sub-sektor ini terhadap PDB meningkat secara drastis, yaitu dari 10% pada tahun 1970 menjadi 21% pada tahun 1992.3

Namun, perkembangan industri pengolahan yang pesat ternyata tidak diikuti secara konsisten oleh peningkatan kemampuannya dalam menyediakan peluang kerja. Dalam periode 1971-1993, persentase tenaga kerja yang bekerja di sub-sektor ini hanya meningkat dari 7,0% menjadi 10,7%.4 Kegagalan ini terutama disebabkan oleh sangat terkonsentrasinya perkembangan industri pengolahan pada industri-industri besar dan padat modal. Sekitar 82% nilai tambah industri pengolahan misalnya, berasal dari industri besar dan menengah. Karena itu, bila ditelusuri distribusi tenaga kerja dalam sub-sektor industri pengolahan (lihat Tabel 1), industri besar dan menengah hanya mampu menampung sekitar 33% tenaga kerja sektor ini. Sekitar 67% tenaga kerja industri pengolahan ditampung oleh industri kecil dan rumah tangga, yang hanya menyumbang sekitar 18% terhadap nilai tambah industri pengolahan secara keseluruhan.


1 PDB Indonesia yang berasal dari sektor industri (termasuk migas) pada tahun 1992 berjumlah sebesar 41%, jasa-jasa 39%, dan pertanian 19%; Lihat World Bank, World Development Report 1994 (Oxford: Oxford University Press, 1994).

2 Berkat laju pertumbuhan yang rata-rata mencapai 6,5% per tahun, maka dalam periode 1970-1994, PDB per kapita Indonesia telah meningkat dari sekitar US70menjadisekitarUS 814.

3 Lihat World Bank, op.cit. Uraian terinci mengenai transformasi perekonomian dan perkembangan industri pengolahan lihat, Anne Booth (ed.), The Oil Boom and After: Indonesian Economic Policy and Performance in the Soeharto Era (Singapore: Oxford University Press, 1992), terutama Bab 1 dan Bab 7.

4 Lihat Gavin W. Jones, “Perkembangan Angkatan Kerja Sejak 1961,” dalam A. Booth dan Mc. Cawley (ed.), Ekonomi Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 1982), hal. 310; Hal Hill, “ASEAN Industrialisation: A Stocktake,” makalah dipresentasikan dalam Seminar Internasional Lustrum ke-8 Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, 18 September 1995.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan