Prisma

Teori | Adam Smith dan Sistem Moral Kapitalisme*

Tanggapan untuk A. Sonny Keraf

Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap A. Sonny Keraf yang membahas kompleksitas hubungan antara konsepsi moral dengan sistem ekonomi pasar bebas Adam Smith. Menurut Mubadi Sugiono, Adam Smith juga memiliki konsep moral dalam ekonomi pasar bebas. Namun moralitas ekonomi kapitalisme Adam Smith tidak bisa dijelaskan begitu saja dengan mereduksi konsep moralnya menjadi konsep keadilan.

Tulisan A. Sonny Keraf, “Keadilan, Pasar Bebas, dan Peran Pemerintah: Telaah Atas Etika Politik Ekonomi Adam Smith,”1 sangat menarik untuk disimak. Keraf, dalam tulisan itu, berusaha menelaah fenomena kontemporer, yakni meningkatnya kecenderungan ke arah pembentukan pasar bebas dengan berbagai permasalahan etis dan moral yang muncul, dengan melihat kembali akar filosofis sistem ekonomi tersebut melalui pemikiran “etis-filosofis” Adam Smith. Setidaknya dua hal menarik dikemukakan Keraf dalam tulisan itu. Pertama, dengan cukup komprehensif Keraf berusaha memaparkan dimensi lain pemikiran Adam Smith yang tidak banyak dipahami orang, Karena teori ekonomi pasar bebasnya,2 Adam Smith lebih dikenal sebagai tokoh pemikiran ekonomi sekaligus sebagai “bapak ekonomi” dan menenggelamkan sisi lain pemikirannya. Saya mempunyai keyakinan bahwa tidak banyak yang mengetahui The Wealth of Nations, yang dianggap sumber pemikiran ekonomi pasar bebas, ditulis oleh Adam Smith sebagai mantan profesor filsafat moral di Universitas Glasgow. Keraf berusaha menunjukkan bahwa di samping prinsip-prinsip ekonomi pasar bebas, Adam Smith sebenarnya memiliki juga pemikiran tentang moralitas dan etika. Kedua, Keraf juga membahas konsepsi Adam Smith mengenai pasar bebas yang saat ini seringkali disalah-artikan sebagai konsep laissez-faire.3

Saya berpendapat bahwa Keraf gagal menunjukkan adanya dimensi moral dalam pemikiran Smith mengenai ekonomi pasar bebas. Saya melihat Keraf telah melakukan kesalahan serius dengan merancukan pemikiran Smith mengenai keadilan dan moralitas. Dengan membahas secara komprehensif pemikirannya mengenai keadilan, Keraf beranggapan bahwa pada saat yang sama dia juga telah “menyingkapkan” dimensi moral pemikiran Smith.4 Kesalahan merancukan kedua pemikiran Smith tersebut memunculkan masalah lain yang tidak kalah serius, yakni penafsiran Keraf bahwa konsep Smith tentang peran negara adalah konsep peran minimal —the minimal state5

Sekalipun di bagian lain Keraf secara eksplisit telah berusaha menegaskan bahwa prinsip non-intervensi bukan merupakan doktrin mutlak dari ekonomi pasar bebas,6 Keraf menyimpulkan bahwa, bagi Smith, peran negara dalam ekonomi pasar terbatas pada peran penyedia sarana-sarana publik dan penjamin tidak adanya pelanggaran terhadap kebebasan alami (natural liberty) — atau kebebasan kodrat dalam istilah Keraf — masing-masing individu.

Saya akan menunjukkan, meskipun Keraf benar bahwa Smith memiliki konsep moral di samping prinsip-prinsip ekonominya, moralitas ekonomi kapitalisme Smith tidak bisa dijelaskan dengan mereduksi konsep moralnya menjadi konsep keadilan. Bukan hanya karena kompleksnya konsep moral Smith, tetapi Smith sendiri telah secara eksplisit sangat membedakan moral dengan keadilan. Kedua, saya ingin membuktikan bahwa konsep Smith tentang peran negara bukan merupakan konsep peran minimal dan bahkan, yang lebih penting, hanya melalui konseptnya mengenai peran negara di luar konsep peran minimal itu kita bisa memahami etika moral pasar bebas dalam pemikiran Smith. Saya akan memulai pembahasan mengenai moralitas pasar bebas Smith dengan mengajak untuk memahami dua tema yang nampak sangat bertolak belakang dalam The Theory of Moral Sentiments (TMS) dan The Wealth of Nations (WN) yang menjadi obyek perdebatan berkepanjangan dan dikenal sebagai das Adam Smith problem.


* Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Knud Haakonssen dan Jeremy Shearmur untuk diskusi yang sangat menarik dalam “Seminar on Adam Smith” serta untuk kritik dan saran mereka.

1 Lihat, A. Sonny Keraf, “Keadilan, Pasar Bebas, dan Peran Pemerintah: Telaah Atas Etika Politik Ekonomi Adam Smith,” dalam Prisma, 9, September 1995, hal. 3-19.

2 Dalam tulisan ini terminologi ekonomi pasar bebas, pasar bebas, mekanisme atau ekonomi pasar dan kapitalisme akan saling dipertukarkan penggunaannya untuk menggambarkan prinsip ekonomi Adam Smith secara umum, yakni yang sangat menekankan peran individu bagi pertumbuhan ekonomi dan efisiensi.

3 Konsep ini secara utuh berbunyi laissez faire, laissez passer, yang secara harfiah dapat diterjemahkan dengan “biarkan semuanya berjalan sendiri, biarkan barang-barang lewat.” Konsep ini mula-mula dimunculkan oleh Anne Jacques Turgot, seorang fisiokrat dari Prancis yang pemikirannya seringkali dianggap sebagai sumber pemikiran Smith dalam The Wealth of Nations. Mengenai pemikiran Turgot, lihat Ronald L. Meek, Turgot on Progress, Sociology and Economics: A Philosophical Review of the Successive Advances of the Human Mind, On Universal History, and Reflections on the Formation and the Distribution of Wealth (Cambridge: Cambridge University Press, 1975). Mengenai pengaruh Turgot terhadap pemikiran Smith, lihat, Ian Ross, “The Physiocrats and Adam Smith,” dalam British Journal for Eighteen-Century Studies, 7/1 (Spring, 1984)

4 Keraf, loc.cit., hal. 3.

5 Ibid., hal. 11-14.

6 Ibid., hal. 11.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan