Wolfgang Scahs (eds) KRITIK ATAS PEMBANGUNANISME: Telaah Pengetahuan sebagai Alat Penguasaan Pengantar: DR. Sritua Arief Community for Participatory Social Management (CPSM), 1996. xv + 438 halaman.
Kegagalan ideologi developmentalisme (pembangunanisme), yang ditandai dengan makin melelebarnya jurang perbedaan kesejahteraan dan kemakmuran antara belahan dunia bagian Utara dengan Selatan, tampaknya bukan lagi sekadar isapan jempol. Hal ini dapat ditunjukkan dengan sejumlah fakta penting yang terjadi di berbagai belahan bumi. Fakta-fakta ini tidak melulu berbicara mengenai dampak negatif yang timbul akibat pembangunan, melainkan juga menjadi pertanda yang secara tajam menyerang langsung titik sentral gagasan pembangunan yang bersifat dominatif.
Kerusakan alam di negara-negara Barat dan kini dialami pula oleh negara-negara tropis, tingkat pencemaran lingkungan yang
begitu dahsyat di hampir semua tempat di bumi ini, tingginya tingkat ketergantungan negara-negara Dunia Ketiga (Selatan) terhadap negara maju (Utara) terutama dalam bidang ekonomi dan teknologi, kemiskinan yang makin akut, merupakan sebuah realitas yang menunjuk hidung, bagaimana ideologi pembangunanisme dapat dikatakan telah gagal sebagai sebuah proyek pengetahuan dan tindakan. Yang diperlukan kemudian adalah membongkar seluruh logika dan motif-motif tersembunyi yang ada di balik ideologi itu.
Pembangunan sebagai Ideologi Ekspansif
Istilah pembangunan sebagai sebuah proyek pengetahuan dan tindakan, mulai hadir setelah Perang Dunia Kedua selesai. Dimulai pada 20 Januari 1949, ketika Harry S. Truman dalam pidato pelantikannya menyatakan bahwa belahan dunia bagian Selatan merupakan daerah yang belum berkembang atau terbelakang. Negara-negara ini baru saja melepaskan diri dari kolonialisme dan sibuk dengan persoalan pencarian identitas barunya sebagai sebuah bangsa. Praktek kolonialisme yang berlangsung puluhan hingga ratusan tahun di belahan dunia Selatan oleh negara-negara Utara, telah menidurkan kawasan ini selama kurun waktu itu pula.