Prisma

Wanita dan Politik

Antara Karir Pribadi dan Jabatan Suami

Keterlibatan wanita dalam politik di Indonesia memiliki akar historis yang cukup panjang. Dalam masa pergerakan, beberapa wanita telah tampil sebagai pimpinan pemberontakan melawan penjajah. Pada masa kemerdekaan tokoh-tokoh wanita juga menduduki posisi-posisi penting baik dalam pemerintahan maupun dalam lembaga legislatif. Bagaimana kualitas keterlibatan wanita-wanita Indonesia dalam legislatif? Hasil penelitian Muhammad Asfar menemukan tampilan menarik. Karir pribadi mereka juga ditupang oleh jabatan suami mereka.

Selain itu, kesan semacam itu muncul karena secara historis khususnya pada tahap awal perkembangan manusia kaum pria selalu identik dengan “lembaga” atau aktivitas kerja di luar rumah, sementara wanita bertugas menyiapkan kebutuhan keluarga di dalam rumah, seperti memasak, mengasuh anak, dan semacamnya. Kaum pria berburu di hutan, sementara kaum wanita menyiapkan makanan di dapur. Ricklander menulis, “historically the external world has been the business of men. Women took care of the internal world. Politics traditionally is external, but not necessarily the business of all men—often only of the few”.1

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, tingkat modernisasi dan globalisasi informasi serta keberhasilan gerakan eman-sipasi wanita dan feminisme, sikap dan peran wanita khususnya pandangannya tentang dunia politik mulai mengalami pergeseran. Wanita tidak lagi hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang menjalankan fungsi reproduksi, mengurus anak dan suami atau pekerjaan domestik lainnya, tetapi sudah aktif berperan di berbagai bidang kehidupan, baik sosial, ekonomi maupun politik. Bahkan, pekerjaan tertentu yang sepuluh atau dua puluh tahun lalu hanya pantas dilakukan oleh laki-laki, saat ini pekerjaan tersebut sudah biasa dilakukan para wanita, termasuk pada pekerjaan kasar sekalipun.

Di bidang ekonomi misalnya, keterlibatan wanita dalam dunia bisnis mengalami perubahan dan peningkatan yang cukup dramatis, tidak hanya di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat, tetapi juga di belahan dunia yang lain. Pada tahun 1979 yang lalu, 99% jabatan sekretaris di Amerika Serikat dipegang oleh wanita. Di Inggris, jumlah wiraswasta wanita mengalami peningkatan 70% antara tahun 1981 sampai 1982. Di Swedia, 25% dari seluruh manajer perusahaan dipegang oleh wanita. Bahkan, di Jerman Barat, 40% dari kalangan bisnis baru pada tahun 1987 adalah wanita.2

Di bidang politik, peranan politik wanita juga menunjukkan fenomena menarik. Wanita tidak hanya memerankan politik secara tradisional (domestik) sebagaimana pernah ditulis oleh Almond dan Verba sebagai agen sosialisasi politik bagi anak-anaknya,3^3n^ tetapi mulai aktif memperjuangkan kepentingan umum atau kepentingan kelompoknya melalui lembaga sosial atau lembaga politik. Bahkan, tidak jarang mereka menyalurkan kepentingannya melalui saluran non-konvensional, seperti unjuk rasa dan demonstrasi.


1 Louise Ricklander, “Women and Politics,” dalam Jenny Firth-Cozens dan Michael A. West (ed.), Women at Work, Psychological and Organizational Perspective (Philadelphia: Open University Press, 1993), hal. 185.

2 Tentang perkembangan wanita dalam bisnis, lihat Marilyn J. Davidson and Cory L. Cooper, Shattering the Glass Ceiling: The Women Managers, khususnya Chapter 1, “The 1990s: Women in Management Business-An Overview” (London: Paul Chapman Publishing Ltd., 1992), hal. 1-19.

3 Lihat Gabriel Almond dan Sidney Verba, The Civic Culture (Princeton: Princeton University Press, 1963).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan