Kondisi pada Akhir Abad XIX*
Hubungan patronase tidak hanya terjadi di tengah masyarakat Dunia Ketiga namun juga berlangsung di kalangan masyarakat maju karena hal itu merupakan fenomena universal. Tulisan Heddy Shri Ahimsa-Putra ini berusaha mengungkapkan beberapa kondisi kenapa hubungan patron-klien berkembang di pedesaan Sulawesi Selatan. Pelapisan status sosial, kesenjangan kekuasaan, ketimpangan pemilikan tanah, ketidakamanan fisik dan sosial, jaminan sosial dan kelompok kekerabatan, kurangnya tenaga birokrasi pemerintahan, dan lain-lain merupakan kondisi yang patut diperhatikan.
Hubungan patron-klien merupakan unsur kunci dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Kesimpulan ini ditarik oleh Christian Pelras,1 seorang ilmuwan sosial Prancis, setelah dia melakukan penelitian di Sulawesi Selatan pada 1970-an. Pandangan senada juga tersirat dalam tulisan beberapa ilmuwan sosial Indonesia yang telah melakukan penelitian di kawasan tersebut.2 Namun demikian, hubungan semacam ini ternyata bukan merupakan suatu gejala sosial yang baru di situ. Seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda, P.J. Kooreman, telah melihat gejala ini lebih dari seratus tahun yang lalu, ketika dia bertugas sebagai kontrolir di kawasan “Zuider Districten” di provinsi tersebut.3 Selain itu hasil penelitian para ahli antropologi di berbagai pelosok dunia juga memperlihatkan bahwa hubungan patron-klien bukanlah hubungan sosial yang khas Sulawesi Selatan. Di daerah pedesaan di Asia Tenggara,4 Amerika Latin,5 Eropa Selatan,6 serta Timur Tengah,7 juga ditemui gejala tersebut. Bahkan penelitian lebih lanjut menemukan bahwa relasi semacam ini pun terdapat di daerah perkotaan8 serta di negara-negara maju seperti Amerika Serikat.9 Tidak mengherankan jika sebagian ilmuwan sosial kemudian berpendapat bahwa gejala patronase merupakan suatu gejala universal.10 Walaupun begitu, tidak sedikit ilmuwan sosial lain merasa bahwa hubungan patron-klien ini dapat lebih mudah tumbuh dan berkembang dalam masyarakat tertentu daripada dalam masyarakat yang lain.11 Meskipun studi mengenai gejala patronase ini telah lama muncul dan dilakukan oleh ilmuwan sosial di luar Indonesia, namun tidak banyak peneliti sosial Indonesia memberikan perhatian pada gejala ini.12 Padahal fenomena ini masih perlu dipelajari lebih dalam lagi. Ada beberapa alasan mengapa kehadiran gejala patronase ini perlu kita pelajari. Pertama, adanya anggapan bahwa hubungan patron-klien, yang acapkali berlawanan dengan aturan resmi ini, dapat menyelinap ke dalam berbagai bentuk organisasi dan dapat menggeser hubungan atasan-bawahan yang berdasarkan atas aturan rasional, sehingga dapat membuat hubungan birokratis yang legal-rasional tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu pula hubungan patron-klien seringkali dianggap sebagai benalu bagi birokrasi moderen.
* Tulisan ini merupakan ringkasan dari salah satu sub-bab dalam disertasi saya yang berjudul The Politics of Agrarian Change and Clientelism in Indonesia: Bantaeng, South Sulawesi, 1883 to 1990, Columbia University, New York, 1993. Sebagian data juga saya ambil dari buku saya Minawang: Hubungan Patron-Klien di Sulawesi Selatan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1988.
1 C.Pelras, Hubungan Patron-Klien dan Masyarakat Bugis-Makassar, Naskah Ketik, 1981.
2 Lihat misalnya, Mattulada, Latoa: Sebuah Analisa Antropologi Politik, Disertasi Doktor, Universitas Indonesia, Jakarta, 1975; Mudiyono, Tesang: Studi Tentang Struktur Hubungan Kerja Petani di Lakatong, PLPIIS Ujung Pandang, 1978; R.Effendi, Punggawa dan Pajama, PLPIIS Ujung Pandang, 1981; H.P.Buntoro, Karaena-Urana: Suatu Studi Tentang Hubungan Sosial dan Peranan Elit Tradisional di Desa Tolo, Kab.Jeneponto, PLPIIS Ujung Pandang, 1984; Mukhlis dan K.Robinson, “Pengantar” dalam Politik, Kekuasaan dan Kepemimpinan di Desa, Mukhlis dan K.Robinson (eds). Lembaga Penelitian Unhas, Ujung Pandang, 1985.
3 Lihat, P.J.Kooreman, “De feitelijke toestand in het gouvernementsgebied van Celebes en Onderhorigheden”, Indische Gids 5(1): 167-220; 304-384; 482-498; 637-655; 5(2): 135-169; 348-358, 1883.
4 J.C.Scott, “Patron-Client Politics and Political Change in Southeast Asia”, The American Political Science Review 66(1): 91-113, 1972a; “The Erosion of Patron-Client Bonds and Social Change in Rural Southeast Asia”, Journal of Asian Studies 32(1): 5-37, 1972b; The Moral Economy of the Peasant, Yale University Press, New Haven, 1976; J.C.Scott dan B.J.Kerkvliet, “How Traditional Rural Patrons Lose Legitimacy: A Theory with Special Reference to Southeast Asia” dalam Friends, Followers and Factions, S.W.Schmidt et al (eds), University of California Press, Berkeley, 1977; C.H.Lande, Leaders, Factions and Parties, Southeast Asia Monograph 6, Yale University, New Haven, 1965; “Group Politics and Dyadic Politics: Notes for a Theory” dalam S.W.Schmidt et al (eds), University of California Press, Berkeley, 1977.
5 G.M.Foster, “The Dyadic Contract in Tzintzuntzan II: Patron-Client Relationship”, American Anthropologist 65: 1280-1294, 1963; A.Strickon dan S.Greenfield, Structure and Process in Latin America, University of New Mexico Press, Albuquerque, 1972; S.Greenfield, “Patronage, Politics and the Articulation of Social Community and National Society in Pre-1968 Brazil”, Journal of Inter-American and World Affairs 19(2): 139-172.
6 A.Blok, “Peasants, Patrons and Brokers in Western Sicily”, Anthropological Quarterly 42(3): 55-170, 1969; J.Boissevain, Saints and Fireworks: Religion and Politics in Rural Malta, LSE Monographs 30, London, 1965; “Patronage in Sicily”, Man (N.S.) 1: 18-33, 1966a; “Poverty and Politics in a Sicilian Agro-Town”, International Archives of Ethnography 50: 198-236, 1966b; “When the Saints Go Marching Out: Reflections on the De-cline of Patronage in Malta” dalam Patrons and Clients in Mediterranean Societies, E.Gellner dan J.Waterbury (eds), Duckworth, London, 1977; J.K.Campbell, Honour, Family and Patronage, Oxford University Press, Oxford, 1974.
7 E. Gellner dan J. Waterbury (eds), Patrons and Clients in Mediterranean Societies, Duckworth, London, 1977.
8 S.T.Barnes, Patrons and Power, Manchester University Press, Manchester, 1988.
9 M.Toinet dan I.Glenn, “Clientelism and Corruption in the ‘Open’ Society: The Case of the United States” dalam Private Patronage and Public Power, C.Clapham (ed), Frances Pinter, London, 1982.
10 J.Boissevain, “Patrons as Brokers”, Sociologische Gids 16: 379-386, 1969.
11 J.Waterbury, “An attempt to put patrons and clients in their place” dalam Patrons and Clients in Mediterranean Societies, E.Gellner dan J.Waterbury (eds), Duckworth, London, 1977.
12 Peneliti asing yang memperhatikan gejala ini di Indonesia adalah K.D.Jackson. Lihat bukunya Traditional Authority, Islam and Rebellion, University of California Press, Berkeley, 1972.