Prisma

Re-kreasi Tradisi Orang Betawi

Kerapkali muncul perbedaan pandangan antara pengamat dengan orang Betawi sendiri melihat proses yang sedang berlangsung dalam masyarakat Betawi. Para pengamat tidak membedakan adanya variasi serta cenderung memilih orang Betawi yang berdomisili di wilayah tertentu kota Jakarta. Pendekatan yang diterapkan juga tidak pernah membawa mereka pada kelompok “elite” Betawi yang, melalui organisasi-organisasi Betawi, menjalankan proses re-kreasi tradisi. Tidak sepenuhnya benar jika dikatakan Betawi sebagai penduduk asli kota Jakarta sedang dalam proses tenggelam.

Banyak orang yang sok tahu mengenai Betawi, padahal sebenarnya pengetahuan mereka hanya di permukaan saja. Jangan katakan bahwa Betawi sedang tenggelam. Menyingkirlah kamu yang bermaksud melakukan itu.1

Kutipan di atas yang dikemukakan salah seorang tokoh Betawi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada Maret 1992 cukup menarik karena menentang pandangan yang ada selama ini mengenai Betawi. Kutipan tersebut bukan hanya menentang pandangan umum tetapi juga “menggugat” dokumentasi dalam kepustakaan Betawi seperti kutipan berikut:

Masyarakat Betawi akan segera tenggelam dilanda oleh badai metropolitan. Praktis tidak ada yang tertinggal; tidak ada lagi kebudayaan Betawi, tidak juga tradisi Betawi; bahkan tidak ada pencak silat Betawi.2

They are no longer so easy to find these days, but when you chance to meet them, their origin is not hard to tell, these Betawi people…the offspring of the old inhabitants of what is now the Indonesian national capital of Jakarta.3


1 A. Asbah, “Peranan Masyarakat Betawi: Dulu, Kini dan Esok dalam Pembangunan Politik Bangsa,” Makalah dalam Seminar Betawi dan Metropolitan, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Maret 1992, hal. 6.

2 Jayakarta, 22 Juni 1988.

3 Indonesia, 1988, hal. 17.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan