Prisma

Pembangunan Menuju Timur Indonesia

Colin Barlow dan Joan Hardjono (eds.), Indonesia Assessment 1995: Development in Eastern Indonesia, ISEAS Singapore and Australian National University, Canberra, 1996, xxiv + 287 hal, indeks.

Dalam perspektif pembangunan yang mempergunakan “model” trickle down effect, diharapkan terjadi hasil pemerataan kue pembangunan ekonomi pada tingkat nasional. Kebijakan ekonomi semacam ini yang dicanangkan oleh pemerintah Orde Baru sejak tigapuluh tahun silam kini semakin gencar dipertanyakan oleh sebagian intelektual. Masalahnya, sejauh mana kebijakan “tetes-

an ke bawah” ini efektif memberikan peluang bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh bagiannya. Sementara, selama ini terjadi pemusatan pembangunan dan aktifitas ekonomi berskala besar hanya di sekitar Pulau Jawa, Sumatera, dan sedikit Sulawesi. Sedangkan Nusatenggara, Kalimantan, Maluku, dan Irian Jaya agaknya masih harus menunggu sentuhan serius tangan-tangan investor.

Maka, ketika pertanyaan itu muncul semakin deras ke permukaan, tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk mengembangkan kawasan ekonomi di tempat lain termasuk Kawasan Timur Indonesia (KTI). Tujuannya tak lain, kawasan Asia Pastifik pada milenium ketiga merupakan satu kekuatan ekonomi sekaligus sebagai produsen dan konsumen raksasa yang banyak diincar oleh investor domestik dan mancanegara. Dalam kerangka demikian, KTI merupakan pijakan pemerintah untuk mengembangkan kawasan ekonomi yang baru ini dalam arena perdagangan bebas pada tahun 2003 mendatang.

Usaha pembangunan kawasan ini patut diperhatikan mulai sekarang karena sumbangan ekspor dan devisa dari KTI pada masa depan merupakan salah satu asset ekonomi negara yang patut mendapat perhatian serius pemerintah. Selain itu, incaran investor asing di kawasan ini boleh dikata tak dapat diberi nilai kecil lagi. KTI bisa menjadi salah satu sumber kekuatan ekonomi Indonesia dalam arena global dan sekaligus pemenuhan bahan konsumsi dalam negeri; tidak hanya produk hulu, tetapi juga industri hilir yang langsung diperlukan masyarakat, selain bidang sandang dan pangan tentunya.

Begitulah gambaran yang ditampilkan edisi penerbitan Indonesia Assessment 1995, yang kali ini menyoroti soal kondisi ekonomi dan politik Indonesia kontemporer dan sebagian lagi mengulas pembangunan ekonomi dan sosial KTI. Jumlah penduduk KTI sekitar 25 juta orang, namun karena berada di antara Pulau Jawa, Malaysia, Filipina, dan Australia, kawasan ini menjadi sedemikian penting ditelaah sebagai satu zona industri baru harapan masa datang.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan