Prisma

Perencanaan Pembangunan Bidang Keuangan

Kerjasama ekonomi antarnegara dalam bentuk pasar bebas dan kawasan pertumbuhan yang muncul belakangan ini membuat perdagangan antarnegara menjadi lebih bebas. Jasa keuangan yang turut dimasukkan dalam perjanjian perdagangan bebas juga membuat pasar keuangan makin kompetitif karena arus dana yang masuk dan keluar kian bebas. Peranan perantara keuangan bukan bank pada masa mendatang juga mengalami perkembangan pesat dan layak diperhitungkan. Peranan ini dipercepat oleh lebih longgarnya regulasi pada pasar modal dan lembaga pembiayaan serta dampak perkembangan teknologi.

Perekonomian dunia mengalami perubahan cukup mendasar pada tahun-tahun belakangan. Kerjasama ekonomi regional dengan tujuan membentuk wilayah pembangunan ekonomi antarnegara seperti Singapura-Johor-Riau (SIJORI) dan dalam bentuk kawasan pasar bebas seperti AFTA, NAFTA dan APEC muncul di banyak kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian regional dan global (melalui forum WTO) sengaja dibuat makin terintegrasi melalui pendirian forum ekonomi tersebut. Terintegrasinya ekonomi dunia selama ini lebih digerakkan oleh adanya “invisible hand” yang mengatur pasar internasional. Terintegrasinya pasar keuangan dunia tidak direkayasa oleh pemerintah, namun oleh naluri bisnis pelaku ekonomi. Demikian pula dengan berkembangnya perdagangan internasional karena adanya keuntungan absolut dan komparatif antarnegara yang melakukan perdagangan tersebut. Karena itu kerjasama ekonomi antarnegara, seperti pembentukan kawasan pasar bebas, yang lebih memberi peranan pada perdagangan barang dan jasa internasional akan berdampak besar pada perekonomian dunia.

Di kawasan Asean, kerjasama ekonomi yang diwadahi AFTA dan APEC (dengan memasukkan 12 negara lain yang bukan anggota Asean dan tidak memasukkan Vietnam) membuat perdagangan internasional di kawasan ini lebih menyatu. Apalagi bila sektor jasa dimasukkan ke dalam perjanjian (sektor jasa saat ini masih dalam tahap negosiasi pada pertemuan-pertemuan informal AFTA), terutama jasa keuangan; pasar yang sudah mengglobal menjadi makin terintegrasi. Namun, beberapa pengamat masih meragukan masa depan AFTA, karena negara-negara di kawasan ini, selain menghasilkan barang yang sama, juga volume perdagangan sesama anggota relatif masih kecil.1$n^1n^ Bila sektor keuangan dimasukkan ke dalam perjanjian, keberhasilan AFTA menjadi semakin diragukan.

Pasar bebas di sektor ini dapat menimbulkan masalah besar jika tidak disiapkan dengan matang, karena negara-negara di kawasan itu pada umumnya mempunyai masalah kesenjangan investasi dan tabungan, serta memerlukan arus masuk modal untuk membiayai investasi domestik mereka. Hasil konferensi internasional Macroeconomics Issues Facing ASEAN Countries, yang diselenggarakan oleh IMF dan Bank Indonesia di Jakarta pada 7-8 November 1996 bahkan menyimpulkan negara-negara di kawasan ini pada umumnya kekurangan tabungan untuk membiayai investasi. Arus modal berjangka pendek yang masuk ke kawasan ini lebih dipakai untuk membiayai kesenjangan tersebut.2$n^2n^ Tetapi modal jangka pendek mempunyai mobilitas yang tinggi dan sangat sensitif, sehingga persaingan dalam mendapatkan dana internasional menjadi lebih sengit setelah sektor keuangan di kawasan ini menjadi pasar bebas.


1 Lihat, Sree Kumar, “Policy Issues and the Formation of the ASEAN Free Trade Area,” dalam Pearl Imada dan Seiji Naya, AFTA The Way Ahead (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1992), hal. 71-94.

2 Lihat, Kompas, 15 November 1996.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan