Sebuah Kajian Etnoekologi
Sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta telah mendatangkan manfaat bagi banyak warga Ibukota. Di satu sisi air sungai Ciliwung dimanfaatkan sebagai sumber air baku bagi perusahaan air minum, di sisi lain masyarakat tepian sungai menggunakan air sungai tersebut bagi berbagai kepentingan. Penelitian Heddy Shri Ahimsa-Putra terhadap warga tepian sungai Ciliwung, terutama sekitar Kampung Melayu, memperlihatkan temuan menarik dari sudut etnoekologi. Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas lingkungan tepian sungai tampaknya kurang berhasil karena masyarakat memiliki pemahaman yang berlainan dengan pola pikir akademis dan pemerintahan.
Ketersediaan air bersih merupakan salah satu masalah penting yang selalu dihadapi oleh penduduk Jakarta, tidak hanya pada masa kini, tetapi juga pada masa yang lalu. Lebih dari seratus tahun yang lalu, tepatnya pada 1882, seorang Tionghoa bernama Tio Tek Hong –pemilik pabrik piring hitam yang pertama di Indonesia– telah menulis cara penduduk Jakarta memperoleh air bersih.
“Oleh karena belum ada air leiding, air dari sumur-sumur itu laku sekali. Pada umumnya penduduk menampung air hujan untuk minum, yang disimpan dalam tempayan-tempayan Cina. Air sungai juga dijual oleh para pemikul. Harganya hanya beberapa sen tiap dua kaleng minyak tanah.”
“Air hujan dan air sumur sangat tidak mencukupi kebutuhan penduduk. Selain air sumur di lapangan Banteng dan Kampung Lima, air sumur yang terdapat di rumah penduduk lainnya dapat menolong juga. Hanya sayangnya pada waktu itu tidak banyak rumah yang punya sumur.”1
Padahal, kebutuhan air bersih masyarakat kota Jakarta diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Untuk mengatasi masalah ini Pemerintah Daerah Jakarta berusaha keras meningkatkan kapasitas dan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Namun, hingga kini terbukti bahwa hanya 44,94 persen dari seluruh kebutuhan akan air bersih dapat dipenuhi.2 Selain itu, dalam mensuplai air bersih PDAM masih banyak mengandalkan air sungai Ciliwung. Karena itu upaya mempertahankan tingkat kebersihan atau baku mutu air sungai merupakan hal mutlak yang harus dilakukan. Sayang sampai sekarang hal ini juga masih belum berhasil dilaksanakan. Dari pemantauan yang terus-menerus diketahui bahwa kualitas air sungai Ciliwung ternyata terus merosot dari tahun ke tahun, dan makin ke hilir makin rendah mutunya.
Keprihatinan terhadap makin memburuknya kualitas air sungai dengan segala sebab dan akibatnya mendorong Pemda DKI mencanangkan Program Kali Bersih (PROKASIH) di Jakarta,3 yang mencakup berbagai upaya mengurangi tingkat pencemaran sungai. Namun usaha ini pun belum banyak memberikan hasil. Masih banyak kendala ditemui dalam pelaksanaan program ini, di samping partisipasi masyarakat yang juga belum seperti yang diharapkan.4 Ini terbukti dari besarnya volume limbah rumah tangga yang masuk ke sungai, yang lebih tinggi (70 persen) daripada limbah dari kegiatan instansional (30 persen), seperti industri, bengkel, hotel, restoran, perkantoran, rumah sakit, rumah potong hewan dan sebagainya.5
Dari penelitian mengenai rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam berbagai program pemerintah,6 diketahui bahwa salah satu sebab pokok gejala tersebut adalah adanya perbedaan persepsi antara pemerintah dan masyarakat, baik mengenai program itu sendiri maupun mengenai masalah yang dihadapi, serta mengenai hal-hal lain yang erat kaitannya dengan program tadi. Sehubungan dengan temuan tersebut, tulisan ini ingin mengungkapkan perbedaan persepsi antara pemerintah dan masyarakat mengenai air dan sungai Ciliwung. Perbedaan persepsi ini merupakan salah satu penyebab kurang antusiasnya masyarakat di tepi sungai Ciliwung berpartisipasi dalam PROKASIH, dan membuat mereka tetap memanfaatkan sungai dan airnya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Tulisan ini dibagi dalam beberapa bagian. Bagian pertama menguraikan asumsi etnoekologi; bagian kedua menguraikan keadaan daerah penelitian, mulai dari penduduk hingga fasilitas MCK; bagian ketiga berisi uraian tentang pandangan pemerintah dan masyarakat mengenai sungai Ciliwung dan pemanfaatannya; sedangkan bagian keempat berisi pandangan pemerintah dan masyarakat tentang air Ciliwung, yang disusul dengan bagian kesimpulan sebagai penutup.
Kajian Sosial Sungai Ciliwung dan Etnoekologi
Sungai Ciliwung dalam Kajian Ilmu Sosial
Penelitian mengenai pemanfaatan air sungai Ciliwung oleh masyarakat pernah dilakukan oleh beberapa pihak.7 Penelitian-penelitian itu bertolak dari kerangka teori positivistik, yang sebenarnya sudah agak ketinggalan. Di balik penelitian semacam ini biasanya terselip suatu asumsi bahwa pemanfaatan air sungai berkorelasi dengan berbagai macam faktor, seperti pendidikan, status sosial-ekonomi, jenis kelamin, pengetahuan tentang PROKASIH, dan sebagainya. Walaupun hasil penelitian seperti ini sedikit banyak memang ada manfaatnya, namun penelitian tersebut sebenarnya berangkat dari anggapan yang kurang tepat mengenai manusia. Ada beberapa kelemahan mendasar di dalamnya.
1 Lihat, T.T. Hong, “Air di Jakarta: Kenangan Tempo Doeloe” dalam de Vries (ed.), Jakarta Tempo Doeloe (Jakarta: Antarkota, 1989), hal. 75.
2 Lihat, Biro BLH-DKI, Neraca Kualitas Lingkungan Hidup Daerah. Buku I – Analisis Kebijaksanaan (Pemda DKI-Jakarta: Biro Bina Lingkungan Hidup, 1993), hal. 39.
3 Lihat, Herbowo, “Program Kali Bersih (PROKASIH) DKI Jakarta” dalam Widyapura, 5, Th.VI, 1989, hal. 3-16; Tim Prokasih DKI, “Laporan Evaluasi Prokasih Tahun Pertama (1989/1990) Pemerintah DKI Jakarta,” dalam Widyapura, 3 Th.VII, 1990, hal. 3-17.
4 Lihat, E. Budirahardjo, “Hasil Pemantauan Sungai Ciliwung Th.1988 dan Kecenderungan Selama Enam Tahun,” dalam Widyapura 5 Th.VI, 1989, hal. 89-110, E. Suwandhini, “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Penduduk Terhadap Penggunaan Air Sungai Ciliwung: Studi Kasus di Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur,” dalam Jurnal Ilmu-ilmu Sosial 1, 1991, hal. 60-69.
5 Lihat, Biro BLH-DKI, op.cit.
6 Lihat, M. Dove, “Pendahuluan” dan P.M. Laksono, “Persepsi Setempat dan Nasional Mengenai Bencana Alam: Sebuah Desa di Gunung Merapi” dalam M. Dove (ed), Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985).
7 Lihat, E. Suwandhini, loc.cit.; M.S. Saile, Kesadaran Lingkungan Penduduk di Sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Studi Kasus DAS Ciliwung (Jakarta: Universitas Indonesia, Fakultas Pascasarjana Program Studi Ilmu Lingkungan-Ekologi Manusia, 1989); PPMSL-UI, Persepsi dan Perilaku Masyarakat Terbadap Ciliwung, Laporan Penelitian, Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan (Jakarta: Universitas Indonesia, 1990).