Prisma

Masalah Anak dan Implikasi Ekonomi

Orang tua generasi baru tampaknya menganggap bahwa anak bukan saja bermanfaat dalam hal perekonomian keluarga, namun berarti pula generasi penerus. Sebagai generasi penerus, anak harus menjadi seorang yang berkualitas tinggi. Di sinilah terjadi trade off antara kuantitas anak dan kualitas anak. Apabila orang tua menginginkan mutu anak tinggi, konsekuensinya adalah biaya tinggi. Apabila mereka memiliki anak dalam jumlah banyak, dikhawatirkan mutu anak tidak maksimal karena kemungkinan seorang anak untuk mendapatkan alokasi sumber daya menjadi kecil. Karena itu, merencanakan jumlah anak sedikit dianggap mampu memaksimalkan kualitas anak.

Jika kita mendengar istilah “ekonomi,” biasanya pikiran kita langsung menuju pada hal-hal yang berkaitan dengan uang. Padahal, ekonomi — atau lebih tepatnya ilmu ekonomi — tidaklah “sesempit” itu. Pada hakikatnya, ekonomi berkenaan dengan masalah-masalah pemenuhan keinginan yang tidak terbatas yang dihadapkan pada sumber daya yang terbatas.1 Dengan kata lain, ilmu ekonomi berkenaan dengan masalah pilih-memilih. Masalah pilih-memilih ini sendiri sangat luas: bisa pilihan antara barang/jasa dan yang lainnya, antara waktu sekarang dan masa depan, atau campuran keduanya.

Contoh pilih-memilih ini, misalnya, antara baju berwarna putih dan baju berwarna merah. Atau, antara menginvestasikan uang pada pabrik tempe dan membeli mobil baru. Pilihan manapun akan membawa konsekuensi pada utilitas seseorang. Mobil, uang, dan hal-hal apapun yang mengakibatkan adanya perubahan pada utilitas seseorang itu disebut dengan komoditas. Komoditas ini biasanya kemudian dapat saling dipertukarkan dengan harga tertentu.

Gary S. Becker, peraih hadiah Nobel Ekonomi tahun 1992, memperluas konsep komoditas. Menurut dia, utilitas seseorang tidak langsung dipengaruhi oleh penggunaan komoditas itu sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh dua hal lain, yaitu waktu dan barang nonpasar (selera) dari seseorang. Oleh dia, gabungan ketiga hal tersebut diistilahkan dengan komoditas rumahtangga (household commodity). Penggunaan komoditas rumahtangga inilah yang akan secara langsung meningkatkan utilitas seseorang.2

Dia kemudian menerapkan konsep tersebut pada masalah anak. Dalam suatu perkawinan, biasanya ada pembicaraan mengenai masalah anak. Berapa anak yang diinginkan (atau tidak diinginkan) pasangan suami istri; kapan akan punya anak; bagaimana cara membesarkan anak-anak mereka; dan sebagainya. Semua hal tersebut berhubungan dengan masalah pilihan. Bahkan apabila mereka memasrahkan apakah diberi anak atau tidak oleh “Yang Diatas” pun, sesungguhnya mereka sudah memilih. Pilihan-pilihan itu membawa konsekuensi pada utilitas mereka. Karena itu, anak pun dapat dianggap sebagai suatu komoditas rumahtangga.

Pilihan-pilihan mengenai anak berhubungan dengan kemampuan orangtua memelihara dan membesarkan anak. Kemampuan dalam hal ini mencakup baik kemampuan secara finansial maupun nonfinansial. Selain itu jumlah anak yang diinginkan atau yang akan dilahirkan juga dipengaruhi persepsi orangtua mengenai arti anak.

Pada waktu-waktu yang lalu, misalnya, di kalangan suku bangsa tertentu di Indonesia dikenal pameo “banyak anak banyak rezeki”. Pameo itu tidak selalu dikaitkan dengan masalah kebutuhan anak sebagai tenaga kerja untuk pertanian atau semacamnya. Lebih dari itu, pameo itu berarti bahwa masing-masing anak yang hadir membawa “berkah” atau rezeki bagi orangtuanya.

Oleh orangtuanya, seorang anak dapat dianggap memiliki tiga fungsi: konsumsi, investasi, dan asuransi bagi orangtua. Konsumsi dalam hal ini tentunya tidak berarti anak “dikonsumsi” sebagaimana pengertian umum, misalnya dimakan. Konsumsi berarti bahwa kehadiran seorang anak — dengan berbagai keberadaannya — memberikan tambahan utilitas bagi orangtua. Orangtua mana, misalnya, yang utilitasnya tidak meningkat melihat anak kecil yang lucu dan menggemaskan? Kegiatan menimbang anak, menciuminya, atau menidurkannya, merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bahkan apabila anak itu sendiri secara fisik tidak begitu baik, misalnya, kehadiran seorang anak tetaplah sesuatu yang akan menyenangkan bagi orangtuanya.

Anak kemudian diasuh, dan dibesarkan. Dia diberi sandang, pangan, papan, dan rasa aman untuk bertumbuh-kembang. Dari sisi ekonomi, hal ini dapat berarti bahwa orangtua melakukan investasi dalam diri anak. Dengan mengalokasikan pendapatan mereka pada pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan anak (misalnya biaya untuk pakaian, mainan dan makanan), diharapkan anak akan memberikan pengembalian (return) kelak. Investasi ini tidak hanya berupa dalam bentuk finansial secara langsung, tetapi juga dalam bentuk lain yaitu waktu dan emosi. Tindakan melakukan investasi, dalam ilmu ekonomi, dapat dianggap sebagai memilih untuk tidak mengkonsumsi sekarang, melainkan mengkonsumsi di masa depan dengan harapan utilitas dari konsumsi di masa depan itu lebih besar daripada utilitas jika komoditas tersebut dikonsumsi sekarang.

Pertanyaannya, dalam hal investasi anak, kepada siapakah pengembalian investasi itu? Dalam bentuk apa? Di sinilah beda “investasi” dalam anak dengan investasi lain, misalnya, proyek pembangunan gedung. Pengembalian investasi dari anak tidak selalu berbentuk finansial bagi orangtuanya. Pengembalian itu antara lain dalam bentuk kebanggaan bahwa anak mereka sudah menjadi “orang.” Atau, misalnya dalam bentuk kehadiran seorang cucu (sehingga memberikan tambahan utilitas lagi bagi mereka).


1 Richard Lipsey, et al., Economics (New York: Harper and Row, 1992).

2 Lihat, Gary S. Becker, A Treatise on The Family, Enlarged Edition (Massachusetts: Harvard University Press, 1991).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan