Internasionalisasi Children’s Culture di Indonesia*
Globalisasi merupakan sebuah fenomena universal yang ditandai dengan perluasan dan integrasi pasar, baik di kalangan negara maju, negara berkembang atau antar keduanya. Perubahan sosial akibat globalisasi adalah penguatan perilaku konsumtif masyarakat, dan salah satu di antaranya menunjuk pada perilaku konsumtif di kalangan anak-anak. Di Indonesia, perilaku ini ditandai dengan sangat rakusnya anak-anak dalam membeli produk-produk industri tanpa mampu memahami mengapa mereka harus membelinya. Hanya dengan pembahasan reflektif-kritis mode of production masyarakat industrial yang sedang kita masuki akan mampu menjelaskan fenomena ini secara mendalam.
Globalisasi yang sedang melanda seluruh dunia pada saat ini dapat diibaratkan sebagai sebuah pisau bermata dua. Pada satu sisi, proses global telah menciptakan pertumbuhan ekonomi dan kelimpahruahan material yang menakjubkan, sedang pada sisi lain memunculkan segudang permasalahan sosial yang dapat mengancam kelangsungan peradaban manusia. Globalisasi ditandai dengan berbagai bentuk perluasan dan integrasi pasar, baik di negara-negara maju maupun di negara-negara sedang berkembang, seperti terbentuknya pasar-pasar regional antarnegara. Akibatnya, wilayah-wilayah geografis dan kebudayaan yang sebelum globalisasi tiba bersifat subsisten, kemudian berubah menjadi berorientasi pasar. Dampak sosiologis dari ekspansi pasar adalah munculnya perilaku konsumtif masyarakat di berbagai kategori usia, lapisan, dan kelompok. Salah satu contohnya adalah perilaku konsumtif di kalangan anak-anak. Perilaku konsumtif yang berlebih-lebihan dapat memicu munculnya berbagai problem sosial seperti kriminalitas, korupsi, gaya hidup boros, deteriorasi ekologis dan lain lain.
Fenomena perilaku konsumtif anak dapat ditujukan dengan salah satu kasus sebagai berikut. Akhir-akhir ini ada kecenderungan yang dirasakan oleh hampir sebagian besar orang tua bahwa anak-anak mereka sering membuat ulah ketika meminta mainan. Salah satu contoh, sebuah keluarga sedang ber-jalan-jalan di pusat perbelanjaan moderen (shopping mall), dengan maksud window shopping, tiba-tiba anak mereka minta di-belikan boneka Power Ranger. Harga boneka itu tidak murah bagi keluarga yang bersangkutan sehingga orang tuanya menolak. Akibatnya, si anak menangis, berteriak, marah bahkan berguling-guling. Si anak tidak ingin beranjak dari mall sebelum permintaannya dipenuhi.
Bagi si anak, hanya ada satu kata kunci yang melekat kuat di benak kesadarannya, bila keluar rumah bersama ayah-ibu pasti dia akan “membeli” sesuatu kesukaannya. Persoalannya adalah mengapa anak-anak pada saat ini menjadi “haus membeli” produk-produk industri, seperti makanan, mainan, pakaian, sepatu, perlengkapan kesehatan, dan berbagai asesori lainnya? Adakah fantasi yang menjadi landasan perilaku konsumtifnya? Apakah fantasi itu merupakan akibat dari proses global yang sedang melanda dunia dan sekaligus cara produksi (mode of production) masyarakat industrial warisan negara-negara maju dewasa ini?
Ekspansi Pasar dan Penguatan Perilaku Konsumtif
Globalisasi merupakan sebuah proses kebudayaan, di mana ada kecenderungan wilayah-wilayah di dunia menjadi satu dalam format sosial-politik-ekonomi. Dalam proses itu seolah-olah tidak ada lagi wilayah di mana pun di dunia ini yang dapat menghindar dari proses global. Ibarat air bah, globalisasi melanda siapa saja dan menciptakan situasi dilematis: Apakah mengadopsi nilai-nilai global secara penuh atau membuat sebuah revitalisasi agar kelangsungan hidup sebuah
kebudayaan dapat terjaga. Globalisasi menjadi sebuah isu sentral dalam era 1980 dan 1990-an, dan menjadi pembicaraan di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Namun bila difahami secara mendalam berdasarkan temuan historis, globalisasi merupakan sebuah proses lounge duree1 yang telah memakan waktu berabad-abad sejalan dengan perjalanan sejarah manusia.2 Perbedaannya, globalisasi pada saat ini memiliki intensitas yang luar biasa.3
Globalisasi secara umum ditandai dengan ekspansi pasar dari negara-negara industri tahap lanjut ke negara-negara berkembang yang didukung oleh “budaya konsumen” sebagai tiang penyangga ekspansi itu. Bentuk konkret dari ekspansi pasar adalah diselenggarakannya pasaran bersama regional antar negara seperti AFTA, NAFTA, APEC, ECM/EEC, dan lain lain. Ekspansi pasar tidak akan berhasil apabila tidak ada perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat sedang berkembang. Dibutuhkan perubahan sistem nilai budaya agar terwujud consumer culture sehingga produk-produk industri dapat dengan mudah dikonsumsi dalam pasar bersama itu. Hal ini merupakan sebuah rekayasa sosial dengan skala yang maha luas yang didukung dengan institusi-institusi ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, teknologi, dan lain lain. Tujuannya adalah merangsang orang untuk semakin bersifat konsumtif terhadap produk-produk industri. Dalam konteks ini pasar bukanlah semata-mata berdimensi ekonomi tetapi juga berdimensi sosial, budaya dan politik.4
* Dalam bentuk aslinya naskah ini merupakan makalah yang dipresentasikan dalam seminar “Cultural and Social Dimensions of Market Expansion” Part III, yang diselenggarakan oleh Goethe Institute di Yogyakarta, 26 – 27 Agustus 1996. Untuk keperluan publikasi makalah ini telah mengalami berbagai revisi dan perluasan.
1 Fernand Braudel, Sozialgeschichte des 15-18 Jahrhunderts: Aufbruch zur Weltwirtschaft. (Darmstadt: Kindler, 1990), hal. 17-89.
2 Lihat, Emmanuel Wallerstein, Historical Capitalism, (London: Verso, 2993), hal. 30-132.
3 Ronald Robertson, Globalization: Social Theory and Global Culture. (London: Sage, 1992), hal. 8-21.
4 Lihat, Hans Dieter Evers “Trade, Market Expansion and Political Pluralism: Shoutheast Asia and Europe Campared,” dalam Hans-Dieter Evers dan Heiko Schrader, The Moral Economy of Trade: Ethnicity and Developing Market, (London: Routledge, 1994), hal. 234-245.