Prisma

Perilaku dan Kebiasaan Anak Gemar Membaca

Kasus Keluarga Perkotaan di Surabaya

Dunia anak-anak kini sedang menghadapi terpaan teknologi komunikasi yang menawarkan banyak pilihan. Di satu sisi media audio visual telah memperluas cakrawala pengetahuan anak-anak, namun di sisi lain media ini tampaknya cenderung “mematikan” minat baca. Anak-anak makin suka menonton daripada membaca. Kalau pun ada sedikit minat baca, jenis bacaan yang diminati adalah komik dan buku yang penuh dengan gambar. Pihak orangtua tampaknya patut mengkaji ulang peran mereka menumbuhkan minat baca anak-anak.

Di tengah berbagai keberhasilan usaha meningkatkan mutu pendidikan, salah satu masalah yang masih terasa mengganjal sampai sekarang adalah persoalan minat baca anak. Ditengarai, minat baca anak-anak di Indonesia tergolong paling rendah di dunia. Diperkirakan hanya sekitar 10 persen anak Indonesia tergolong kelompok gemar membaca.1 Beberapa pengamat menyatakan bahwa pada saat ini anak Indonesia baru sampai pada taraf gemar mendengar atau melihat, dan belum sampai pada taraf gemar membaca.2

Di Indonesia pada saat ini jumlah produksi buku per tahun diperkirakan hanya sekitar 4.800 judul — termasuk komik — dengan masing-masing judul rata-rata dicetak tiga ribu eksemplar. Dibandingkan dengan negara seperti Amerika yang diperkirakan setiap tahun menerbitkan sekitar 50 ribu judul atau Jepang yang rata-rata 100 ribu judul per tahun, jelas Indonesia kalah jauh. Bahkan, dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang memproduksi sekitar 7 ribu judul per tahun Indonesia masih tertinggal.

Kendati sangat sedikit jumlah buku yang dicetak — tak sampai 20 juta judul per tahun — ternyata jumlah itu tak bisa dengan cepat diserap pasar. Menurut pengalaman baru sekitar 2-3 tahun atau bahkan lebih buku-buku itu habis diserap pasar. Di samping itu, berbeda dengan produksi buku di negara maju yang sebagian besar adalah buku-buku umum populer, di Indonesia dari 4.800 judul yang ada, 80 persen ternyata didominasi buku-buku pelajaran wajib. Banyak penerbit bisa bertahan hidup hanya karena semata-mata mengandalkan proyek-proyek buku sekolah.3

Kurang membudayanya perilaku gemar membaca di kalangan anak-anak acapkali bukan sepenuhnya karena kesalahan si anak itu sendiri. Tetapi, rendahnya minat baca anak bukan tidak mungkin justeru disebabkan kurangnya peran dan perhatian orangtua dalam menumbuhkan iklim yang kondusif untuk merangsang tumbuhnya budaya gemar membaca di kalangan anak-anak mereka.

Selama ini salah satu faktor yang disebut sebagai kendala untuk menumbuhkan perilaku gemar membaca di kalangan anak adalah karena relatif sedikitnya jumlah buku di pasaran yang harganya bisa dijangkau masyarakat. Di kalangan keluarga yang secara ekonomi rentan barangkali faktor tingginya harga buku bisa dituding sebagai penghambat utama bagi tumbuhnya perilaku gemar membaca pada anak. Untuk keluarga yang relatif miskin buku memang merupakan barang mewah dan menjadi kebutuhan hidup nomor kesekian. Kelebihan uang dari hasil bekerja lebih condong disimpan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daripada membeli buku bagi anak-anak mereka.

Pertanyaannya kemudian, kenapa anak-anak dari kalangan keluarga atau anggota masyarakat yang hidupnya berkecukupan dan kaya tetap tidak memiliki perilaku gemar membaca? Banyak bukti menunjukkan bahwa, kendati hidup berkecukupan, ternyata sangat sedikit orangtua yang mau dan biasa menyisihkan sebagian harta miliknya untuk membeli buku bagi anak-anaknya. Di rak-rak megah atau di lemari-lemari mahal yang menghiasi ruangan tamu orang-orang kaya biasanya terlihat sederetan buku-buku mewah tertata rapi. Tetapi, melihat bahwa buku-buku itu selama sekian tahun tetap saja kelihatan baru, maka tidaklah salah bila disimpulkan bahwa buku itu jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah dibuka, apalagi dibaca, baik oleh orangtua maupun anak-anak mereka.

Di kalangan orangtua atau anggota masyarakat yang hidupnya berkecukupan, bukan rahasia kalau mereka lebih senang pergi ke shopping centre, belanja di supermarket, ikut kursus senam atau pergi ke pusat-pusat hiburan daripada mengunjungi toko-toko buku atau mengantar anak-anaknya pergi ke perpustakaan.

Berbeda dengan orangtua keluarga-keluarga di negara maju yang sering beramai-ramai mengajak anak-anaknya mengunjungi pameran buku dan relai antre puluhan meter dan membeli tiket masuk. Bagi keluarga-keluarga di Indonesia biasanya minat para orangtua bukanlah pameran buku, tetapi pameran furniture atau semacamnya. Ada kecenderungan, anak lebih terbiasa diajak orangtuanya mengenal barang-barang konsumtif daripada mendidik anak-anak mereka mencintai buku atau bacaan umum lainnya.

Di samping itu ada kecenderungan bahwa para orangtua umumnya lebih senang membelikan anak-anak mereka permainan elektronik, seperti video game atau game watch daripada memberi hadiah buku-buku yang berguna. Di sisi lain, anak-anak yang duduk berjam-jam menonton video atau acara-acara televisi seringkali juga dibiarkan begitu saja oleh para orangtua karena hal itu dianggap jauh lebih baik daripada anaknya bermain di luar rumah. Di mata para orangtua, asalkan saja anak-anak mereka tidak keluyuran dan betah tinggal di rumah, hal itu tampaknya sudah dinilai cukup. Persoalan apakah anaknya gemar membaca buku atau tidak, biasanya jarang terlintas di pikiran orangtua.


1 Rahma Sugihartati, “Menumbuhkan Budaya Membaca Pada Anak”, Surabaya Post, 21 Juli 1994.

2 Lihat: Mudjito, Pembinaan Minat Baca (Jakarta: Universitas Terbuka, 1993); Tampubolon, Mengembangkan Minat dan kebiasaan Membaca Pada Anak (Bandung: Angkasa, 1993).

3 Lihat tulisan Bagong Suyanto, “Mendongkrak Minat Baca, Mulai Dari Mana?” Suara Pembaruan, 13 Mei 1995.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan