Panorama Menjelang Abad ke-21
Panorama ekonomi dan kebudayaan menjelang abad ke-21 ditandai oleh berbagai titik balik. Kemajuan kebudayaan menjadi tidak lebih dari sebuah perjalanan retrospektif. Pasar tidak lagi sekadar berfungsi sebagai arena jual beli, tetapi juga merupakan pusat kloning kebudayaan yang berkembangbiak tanpa batas. Ketika batas global melenyap, akibat meningkatnya interaksi lewat ekonomi dan komunikasi, segmentasi sosial turut kehilangan batas strukturalnya dan beroperasi secara global tanpa terikat oleh batas teritorial dan ruang.
Panorama ekonomi dan kebudayaan menjelang abad ke-21 ditandai oleh berbagai titik balik: sejarah “kemajuan” dalam kebudayaan yang telah mencapai jalan buntu kini menjadi tidak lebih dari sebuah perjalanan retrospektif ke masa lalu; perbincangan nilai-nilai tidak lebih dari sebuah wacana parodi terhadap nilai-nilai itu sendiri; politik tidak lebih dari sebuah panggung tontonan massa yang dipenuhi trik semiotika dan strategi image; kebudayaan tidak lebih dari sebuah arena kecepatan permainan dan perkembangbiakan (melalui “pengklonan budaya”) yang telah dikuasai oleh paradigma “kecepatan” dan “percepatan;” pendidikan tidak lebih dari bagian sebuah strategi pasar global atau agen dari komodifikasi dan ekonomi global; sedangkan ekonomi itu sendiri tidak lebih dari sebuah arena reproduksi yang tanpa henti dari hasrat dan libido.
Di dalam jagat ekonomi dan kebudayaan abad ke-21 tersebut, televisi menjadi sebuah “kotak jiwa” yang dari dalamnya manusia abad ke-21 mengisi kekosongan nuraninya melalui tokoh, idola dan pahlawan melalui “fantasmagoria” citraan dan simulasi tanda-tanda, yang akan mengajari mereka tentang arti hidup dan makna kehidupan;
menjadi sebuah agen difusi, yang berfungsi sebagai ruang kelas, yang di dalamnya manusia abad ke-21 mempelajari seni dan keterampilan untuk menghadapi peran baru mereka yang vital sebagai konsumer masa depan; “tubuh” menjadi pusat kebudayaan benda setelah lenyapnya “budi,” yang menjadi titik berangkat dari wacana ilmiah dan pengembaraan teknologi bagi penyempurnaan (body building), pengidealisasian (operasi plastik), bahkan pelipatgandaannya (cloning); sedangkan stadion olahraga dan panggung konser menjadi “tempat suci” baru, yang di dalamnya mereka melakukan berbagai upacara dan doa suci abad ke-21. (fashion show, opening ceremony, launching ceremony).
Hipermarket: Pusat Kebudayaan Abad ke-21
Revolusi konsumer di penghujung abad ke-20 — dengan berkembangnya mal, shopping centre, teleshopping — telah mengubah konsep manusia posmoderen tentang waktu, “diri,” individu, keluarga, masyarakat, ruang, waktu, bangsa dan negara. Kecenderungan ini menjadi bersifat ekstrem pada abad ke-21. Pasar konvensional — sebagai sebuah arena transaksi jual beli barang atau jasa — menjelang abad ke-21 berubah wujud menjadi super pasar atau hipermarket atau transmarket, yang tidak lagi sekadar berfungsi sebagai arena jual beli, tetapi juga sebagai tempat akulturasi, belajar, berguru; tempat mencari nilai-nilai, citra diri, eksistensi diri, dan makna kehidupan; tempat pertapaan (mencari ketenangan, menghilangkan stress), tempat terapi jiwa (mencari kesenangan, kegairahan, kegembiraan) serta tempat upacara ritual abad ke-21 (fashion show, opening ceremony, launching ceremony).
Hipermarket mensentralisasikan, mengonsentrasikan, dan merasionalisasikan waktu seluruh rakyat dan bangsa — menciptakan satu rangkaian pergerakan citraan-citraan yang datang dan pergi, muncul dan menghilang dalam kecepatan tinggi. Ia menjadi arena bagi akulturasi, atau bahkan dekulturasi melalui pertarungan dan kontradiksi tanda-tanda; sebuah arena pengetesan kode sosial, tanda sosial, serta praktek sosial semiotika. Tetapi, dalam wujud kontemporernya, hipermarket
bukan sebuah “diskursus bermakna” — sebuah arena ekspresi komunikasi sosial yang dilandasi oleh pengetahuan, relasi sosial, dan relasi kekuasaan tertentu — sebab ia sendiri telah berubah wujud menjadi pengetahuan, atau menjadi bentuk “kekuasaan” itu sendiri. Hipermarket bukan sebuah diskursus atau penyampaian makna (kebenaran) lewat tanda-tanda. Ia lebih tepat disebut sebagai wacana bujuk rayu lewat tanda-tanda, sebab sebagaimana lazimnya seorang perayu ia justeru menyembunyikan “kebenaran” di balik penampilan dan topeng simulasinya. Sebaliknya, ia menganggap “kesemuan” sebagai “kebenaran” atau “fantasi” sebagai “realitas.” Hipermarket, bahkan tidak lebih dari sebuah referendum, sebuah testing pilihan ganda, sebuah interogasi demokratisasi semu — anda datang dan memilih-milih dari puluhan bahkan ratusan pilihan produk, atau citraan yang disuguhkan ke hadapan anda, dan pilihan anda tidak lebih dari sebuah konsensus, sebuah verifikasi kode-kode yang telah dirumuskan untuk anda.1
Di dalam hipermarket anda diperangkap di dalam sebuah sistem kode genetika hipermarket (kode pelipatgandaan atau perkembangbiakan seperti kode-kode dalam molekul DNA). Anda dirasionalisasikan melalui kode-kode kelipatan belanja yang distimulasi dengan mekanisme janji-janji hadiah atau Mega Bonus — semakin tinggi kelipatan belanja, semakin banyak kupon yang dikumpulkan, serta semakin dekat dengan janji-janji Mega Bonus. Kelipatan dan janji menjadi satu proses perjalanan yang ad infinitum seperti halnya dalam pengklonan lewat kode DNA. Di dalam hipermarket, dengan demikian, diri anda tidak lebih dari sebaran statistika, tidak lebih dari rangkaian angka yang telah dikodifikasikan lewat kode komoditi. Anda tidak lebih dari bagian sebuah klon kapital, yang berkembangbiak melalui kelipatan.
Hipermarket adalah bentuk sosialisasi masa depan yang terkontrol, yang di dalamnya terbentuk totalisasi dan homogenisasi ruang-waktu, tempat lalu lintas tidak saja barang dan jasa, tetapi juga “tubuh,” “hasrat” dan “libido,” serta lalu lintas kehidupan sosial (kerja, waktu senggang, makanan, kesehatan, transportasi, hiburan, media, kebudayaan); tempat bertemunya segala bentuk kontradiksi sosial; ruang-waktu bagi beroperasinya segala bentuk simulasi kehidupan sosial; segala struktur dan lalu-lintas kehidupan.2 Di dalam hipermarket, obyek mempunyai realitas yang baru, sebagai satu iring-iringan dan lalu-lintas bersifat serial, sirkuler, dan spektakuler. Ia datang dan pergi silih-berganti, ia muncul dan menghilang dalam kecepatan tinggi sebagai satu rangkaian tontonan abad ke-21.
1 Jean Baudrillardi, Simulacra and Simulation (Michigan Press, 1994), hal. 75.
2 Ibid, hal. 76.