Prisma

Jangan Patah Semangat, Pak Sono

Pengalaman Petani Tanah Gambut

Pulau Rimau

“Berapa kaleng gabah yang bisa dihasilkan dari ladang anda?”

Pertanyaan ini saya sampaikan kepada sekumpulan orang yang sedang ngobrol di warung beratapkan daun nipah di Sumbermulyo, desa transmigrasi di Pulau Rimau.

“Empat ton,” seorang dari mereka menjawab.

“Oh itu sangat baik,” saya memuji.

“Bukan, bukan! Itu hanyalah target hasil yang akan dicapai yang disampaikan kepada kami ketika tiba di Kantor Unit Transmigrasi pada 1983,” seseorang menukas dengan cepat.

“Apakah kemudian kamu mencapai target tersebut?” saya bertanya lagi.

“Ya sekitar tiga ton.”

“Baik sekali. Apakah tetap berjalan seperti sekarang?” saya melanjutkan.

“Tidak lagi, hasil tersebut hanya berlangsung pada tahun pertama dan beberapa tahun berikutnya saja, dan kemudian produksi cenderung menurun.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?” saya kembali bertanya.

“Hampir tidak ada.”

Saya terkejut sekali.

Dia menambahkan, “kami sekalian diberi rumah dengan atap seng, sekarang atap rumah-rumah kami terbuat dari daun nipah. Kelihatannya lebih miskin, tetapi atap nipah tidak sepanas atap seng sehingga lebih nyaman.” Dia tersenyum simpul.

“Apakah rendahnya hasil produksi itu karena asam?”

“Mungkin, tetapi kami tidak tahu pasti. Namun apapun penyebabnya mata menjadi pedih jika kita mandi dengan air di parit.”

Saya meminta salah satu di antara mereka memperlihatkan ladangnya.

“Baik, saya harap saya dapat memperlihatkan kepadamu sawah yang subur seperti di Jawa.”

Kemudian kami pergi dengan sepeda motornya.

“Apakah ini motor Anda?”

“Ya, punya saya.”

“Wah ini terlalu baik untuk seorang petani miskin.”

“Kamu juga dapat membelinya. Setiap pagi pemorong membawa kami ke perkebunan kelapa sawit di dekat sini dan kembali pada sore harinya.”

“Jadi kamu hidup sebagai buruh?”

“Ya, sejak tanah yang telah mati tidak dapat memberi makan kami,”

“Banyakkah orang yang bekerja seperti Anda?”

“Baiklah! Dari 24 satuan pemukiman (SP) di Pulau Rimau hanya dua SP yang berada dekat dengan sungai hidup dari bertani di sawah.”

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan