
Rudolf Mrazek Sjahrir, Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996, xxxi + 923 hal.
Bila ada tokoh pemimpin the Founding Father Indonesia yang bernasib tragis, Sjahrir-lah orangnya. Atas saran Bung Hatta dia berhenti kuliah di Negeri Belanda, dan diminta kembali ke tanah air untuk mengumpulkan bekas anggota PNI yang bubar sejak Bung Karno ditangkap pemerintah kolonial Belanda.
Sjahrir lama meringkuk di penjara dan dibuang ke Banda Neira dan Digul. Pada masa pendudukan Jepang dia berjuang di bawah tanah.
Beberapa lama setelah merdeka, Sutan Sjahrir terpilih sebagai perdana menteri pertama RI. Dia adalah tokoh pemimpin pertama Indonesia yang merintis jalur diplomasi, yang kemudian melahirkan Perjanjian Linggajati (1946) serta secara blak-blakan berbicara di forum PBB atas perlakuan biadab Belanda terhadap RI. Tetapi begitu republik ini menghirup udara kemerdekaan yang turut diperjuangkannya, Sjahrir justeru dijebloskan ke penjara. Tragisnya, pada saat sakitnya begitu parah, dia diberi izin berobat ke Swiss dalam status tahanan politik. Lebih tragis lagi, begitu maut merenggut nyawanya, Presiden Soekarno yang menjebloskannya ke ruang tahanan, langsung mengakuinya sebagai “pahlawan nasional” dan dia dimakamkan di Kalibata.
“Andaikan Sjahrir bisa bicara,” demikian tulis sejarawan Taufik Abdullah mengenang kisah tragis itu, “apakah yang akan dikatakannya tentang dirinya?”
Sulit sekali rasanya menjawab pertanyaan tersebut. Ahli peneliti utama dari LIPI ini pun hanya mampu mereka-reka: “Sjahrir mungkin hanya tersenyum sinis dan sambil geleng-geleng kepala, seraya berkata: Bangsaku!”1
1 Lihat esai menarik Taufik Abdullah, Pahlawan dalam Perspektif Sejarah, Prisma No. 7 Th. 1976.