Dennys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya Pengantar: Prof. Sartono Kartodirdjo dan Prof. A. Teeuw Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1996 xxviii + 1.153 halaman (3 jilid)
Kajian tentang Pulau Jawa agaknya masih begitu memukau dan mempesona. Banyak peneliti asing dan peneliti Indonesia yang memusatkan kajiannya tentang masyarakat dan kebudayaan Jawa, yang seolah-olah merupakan tema yang tidak habis-habisnya ingin diungkapkan.
Setelah Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris untuk Hindia Belanda menulis karya The History of Java (1817) dan
meletakkan dasar studi ilmiah tentang Jawa, maka sederet pengkaji lain pun bermunculan dari berbagai aspek kehidupan. Studi yang komprehensif, misalnya, yang melingkupi seluruh kebudayaan dan masyarakat Jawa ditulis oleh P.J. Veth, Java, Ethnologisch Geografisch en Histrisch (1878-82) serta N.J. Krom, Hindoe-Javaanshe Geshiedenis (1931). Kemudian, Th. Pigeaud menerbitkan serial Negarakertagama dengan judul: Java in the 14th Century, A Study in Cultural History (1960-1963). Pada tahun yang sama pakar Antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz menerbitkan hasil penelitiannya yang cukup kontroversial, The Religion of Java (1960). Sementara di bidang kesusastraan juga diperkaya lewat karya P.J. Zoetmulder, Kalangan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983) dan Manunggaling Kawula Gusti (1990).
Profesor Denys Lombard adalah ahli sejarah Indonesia asal Perancis yang telah menambah deretan panjang yang meneliti masyarakat dan kebudayaan Jawa. Buku yang berjudul Nusa Jawa: Silang Budaya ini — semula terbit dalam edisi bahasa Perancis dengan titel: Le Carrefour Javanais, Essai d’bistoire globale (1990) — termasuk karya raksasa yang cukup mengagumkan di samping karya-karya sebelumnya.
Seperti dikemukakan oleh Prof. Dr. A. Teeuw, ahli kesusastraan Indonesia dari Belanda, karya Lombard ini dapat ditafsirkan semacam ensiklopedi sejarah sosio-budaya Jawa dalam konteks Asia dan dunia, serta deretan studi mendasar sepanjang hampir dua abad mengenai Pulau Jawa dan penduduknya.
Pujian Teeuw tentu saja bukan tanpa alasan: Di satu sisi karena tebalnya buku tersebut, yang total keseluruhan 1.000 halaman lebih, dengan catatan kaki 2.498 buah, daftar pustaka 68 halaman, serta daftar kata dan indeks 53 halaman. Di sisi lain karena metodologi serta gaya penulisan yang dipakai Lombard yang tidak menurut kelaziman dari pengkaji sebelumnya, yakni bersifat “lawan sejarah”.
Konteks Peradaban
Fokus utama yang ingin dikaji Lombard adalah bagaimana memandang kebudayaan
Indonesia (khususnya Jawa) dalam konteks peradaban. Hal ini, bagi Lombard, karena perspektif Eropa-Centris, di samping peradaban Eropa hanya mengenal beberapa peradaban yang dianggap klasik; peradaban Islam, Cina, dan India.
Lombard barangkali menyadari generalisasi semacam ini. Kecuali letaknya demikian jauh, Indonesia juga terdiri atas gugusan pulau-pulau, sehingga dunia nusantara tidak lebih sekadar cagar alam eksotisme atau benua yang hilang, yang hanya ada dalam angan-angan (hal.1).
Lombard tentu saja merasa kurang wajar atas sikap yang terpasang akibat kecemburuan penguasa kolonial seperti itu. Betapa tidak. Nusantara yang demikian strategis serta memiliki kekayaan alam yang berlimpah, dan pasca kemerdekaan mencatat sukses sejarah: yakni lahirnya Konferensi Asia-Afrika 1955, penggagas terbentuknya Gerakan Non-Blok 1961 serta pendiri ASEAN 1967.
“Sungguh tak ada suatu tempat pun di dunia ini — kecuali mungkin Asia Tengah — yang seperti Nusantara, menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, berdampingan atau lebur menjadi satu,” tulis Lombard.
Ditilik dari segi pola penulisan, karya Lombard ini terbilang “menyimpang” dari kelaziman. Bila selama ini kita mengenal pola historiografi secara kronologis atau tematis, Lombard merekonstruksi sejarah kebudayaan Indonesia secara geologis, menurut lapisan-lapisan terbentuknya.
Dari segi pendekatan dan metodologi, pola penulisan sejarah semacam ini di Indonesia masih terbilang langka. Sementara di Barat, menurut Lombard, umumnya sejawaran sudah beralih dari “sejarah yang serba peristiwa” kepada pengkajian sejarah ekonomi dan sosial, sebelum menuju ke sejarah mentalitas.
Pola ini mengingatkan kita terhadap kajian sejarah dari Mazhab Annales yang dipulerkan Marc Bloch. Kajian semacam ini tampak lewat karya Braudel dengan sejarah Laut Tengah, Le Roy Ladurie tentang sejarah lokal, Gaubert tentang sejarah rakyat Perancis di bawah Louis XIV, serta karya sejawaran Amerika, Robert W. Fogel dan Douglass C.