Tesis Krugman, Lawrence Lau, dan Alwyn Young mengingatkan kita pada hipotesis Malthus. Tesis dan hipotesis ini memiliki objek yang sama yaitu warning akan kemerosotan kemakmuran manusia. Ada tiga indikator pendukung tesis tersebut, yaitu total faktor produktivitas yang lamban, campur tangan pemerintah terhadap mekanisme pasar yang masih kuat, dan sangat lamban usaha integrasi perekonomian negara terhadap perekonomian dunia. Jika ketiga indikator ini tanpa perbaikan, maka tujuh daerah ekonomi yang menakjubkan kinerja ekonominya dalam kawasan Asia Timur, yaitu Indonesia, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Thailand, akan bertahan paling lama satu atau dua dekade mendatang. Apa kebijakan Indonesia untuk mencegah kehancuran ekonominya?
Sejak 1995, Bank Dunia mencatat peningkatan status ekonomi Indonesia dari kelompok negara-negara berpendapatan rendah (low-income countries) menjadi kelompok negara-negara berpendapatan rendah-menengah (lower-midle income countries).1 Peningkatan status ini, menurut beberapa studi, antara lain, Krugman, Lau, dan Young,2 didasarkan pada beberapa indikator kesuksesan, antara lain, seperti (a) mempertahankankan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dalam jangka waktu
yang cukup lama, (b) menurunkan laju inflasi, (c) meningkatkan ekspor non-migas substitusi minyak bumi, (d) keberhasilan swasembada pangan, khususnya beras, (e) upaya mengentaskan kemiskinan yang cukup berhasil dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, dan (f) keberhasilan penyesuaian kebijakan ekonomi dalam negeri untuk menghadapi berbagai shock baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
Keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara Asia Timur, termasuk di dalamnya Indonesia, khususnya dalam mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan ekspor, membuat kawasan ini menjadi arah gravitasi investor dunia dari berbagai kawasan. Kesan positif, yaitu kawasan Asia Timur, termasuk Indonesia adalah harapan pengalihan pemodal asing. Pada pihak lain, kesan negatif, yaitu jika manajemen ekonomi negara tidak sejalan dengan perspektif pemodal asing, maka akibatnya sangat besar karena dalam globalisasi dampak sebuah fenomena (sekalipun hanya rumors) berlangsung kait-mengkait, baik itu berkaitan dengan ekspor, peminjaman modal, maupun kinerja ekonomi dalam negeri. Kekhawatiran akan kejatuhan ekonomi Asia Timur, sekalipun tidak semua negara kawasan ini mendapat tingkat kekhawatiran yang sama, karena fondasi ekonomi tidak sama kuatnya, di satu sisi ada yang lemah dan di sisi lain ada pula yang kuat.
Krugman menjelaskan bahwa kejayaan pembangunan ekonomi Asia Timur tidak bertahan lama,3 dan agak berbeda dengan apa yang diramalkan banyak ilmuwan. Negara yang cukup kuat bertahan, bukan Jepang atau Korea, tetapi dia menonjolkan ekonomi Singapura. Banyak ilmuwan mencemooh tesis Krugman ini, namun ada pula yang meneliti kebenaran tesis tersebut. Dalam pemantauan Krugman, ada tiga faktor yang makin lama makin menurun perkembangannya dalam kawasan Asia Timur, yaitu: (i) produktivitas, (ii) transfer teknologi dalam kegiatan produksi, khususnya industri yang berorientasi kepada ekspor, dan (iii) efisiensi. Menurut Krugman, tidak semua negara Asia Timur yang berhasil tumbuh dinamis saat ini telah mempersiapkan ekonominya dengan kejelasan program pengukuhan ekonomi dengan kandungan ketiga faktor tersebut, kecuali Singapura, walaupun tampak sangat lemah. Jika negara-negara Asia Timur menghendaki kestabilan pertumbuhan ekonomi tinggi berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, maka seyogianya negara-negara tersebut meningkatkan perhatian dan arah kebijakan yang beorientasi kepada perbaikan produktivitas, investasi pada sumber daya manusia, dan kelanjutan upaya transfer teknologi berupa penciptaan inovasi baru yang bersaing di pasar dunia.
Studi ini, bukan dimaksudkan hendak memantau kebenaran tesis Krugman dengan meneliti semua negara yang berada dalam kawasan Asia Timur, tetapi memfokuskan pada kasus Indonesia. Di samping itu, objek pemantauan yaitu menganalisis fungsi dan keberadaan teknologi serta kaitannya dengan kegiatan produksi industri, khususnya industri manufaktur dalam negeri periode 1985-1990. Dengan hasil pemantauan ini, dapat disimpulkan apakah dalam pembangunan industri di Indonesia teknologi telah berperan positif dalam kegiatan produksi, khususnya industri penunjang ekspor.
Fondasi Teoretik Perdagangan
Pada Gambar 1 ditunjukkan ilustrasi sederhana menggunakan grafik tentang sebuah negara yang perekonomiannya masih tertutup, dalam arti bahwa negara bersangkutan masih belum melakukan hubungan ekonomi internasional. Diandaikan bahwa negara tersebut hanya memproduksi dua jenis barang, yaitu B-1 dan B-2.
Kurva AB adalah kurva transformasi produksi (transformation curve) dalam memproduksi barang B-1 dan B-2. Kurva ini menunjukkan tingkat kemajuan teknologi, karena demikian majunya maka semua titik pada kurva AB (sepanjang kurva AB) mungkin diproduksi di dalam negeri. Kinerja seperti ini, walaupun mendapat dukungan teknologi, masih belum menunjukkan kondisi efisiensi.
1 Bank Dunia membedakan kemajuan ekonomi negara-negara anggotanya sebanyak tiga klasifikasi, yaitu (a) low-income, (b) midle income, dengan dua sub-klasifikasi, lower dan upper, dan (c) high-income, dengan sub-klasifikasi, OECD countries dan NonOECD countries, lihat, World Bank, Global Economic Prospects and the Developing Countries (Washington, D.C.: The World Bank Publication, 1995). Bandingkan dengan laporan yang sama pada 1994.
2 Lihat, P. Krugman, “The Myth of Asia’s Miracle,” dalam Foreign Affairs, Vol. 73, no. 6, 1994, hal. 62-78; L. Lau, “The Sources of Growth of the East Asia Newly Industrialized Countries,” dalam Journal of the Japanese and International Economics, 1994; A. Young, “Lessons from the East Asian NICS: A Contrarian View,” dalam European Economic Review, Vol. 38, No. 3/4, 1994, hal. 994-973.
3 Krugman, loc.cit.