Antara Mitos dan Realitas
Kaitan perempuan dengan lingkungan acapkali dibumbui berbagai atribut yang mendorong munculnya berbagai mitos. Ketidakseimbangan informasi turut memicu munculnya mitos kerentanan perempuan dalam menghadapi persoalan lingkungan. Di pihak lain, ekologi dan feminisme sebagai gerakan sosial-politik memiliki landasan perjuangan yang nyaris serupa. Kedekatan keduanya mendorong kelahiran gerakan ekofeminisme yang cukup banyak memberi artikulasi pada gerakan lingkungan yang berorientasi pada perempuan.
H hasil luar biasa tentang kaitan perempuan dan lingkungan telah dicapai dalam UN Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro pada 1992.1 Tiga puluh tiga bab dari 40 bab dalam Agenda 21 membahas kaitan antara perempuan dan pembangunan berkelanjutan. Meskipun tidak terlepas dari kritik, bahwa status perempuan sekadar diangkat untuk menjalankan fungsi manajer lingkungan tanpa membahas secara sistematik isu gender dan persamaan sosial, keberhasilan menembus sekian banyak bab dalam Agenda 21 tentu merupakan kajian menarik. Apakah benar bahwa dalam persoalan lingkungan hidup telah terjadi diskriminasi jenis kelamin? Kalau tidak, mengapa ke 33 bab tersebut harus “disusupi” isu gender?
Dibandingkan dengan lelaki, perempuan mendapatkan lebih banyak label dalam kaitannya dengan lingkungan.2 Perempuan kerapkali disebut sebagai korban pertama (the first victim) kerusakan lingkungan. Mereka sering pula disebut sebagai kontributor kerusakan lingkungan, meskipun dengan embel-embel bahwa dalam posisi yang problematik dan tidak punya pilihan lain.3 Masih sederet sebutan yang menunjukkan beragam peran lingkungan perempuan, seperti day-to-day environmental manager, barefoot conservationists, protesters against environmental destruction, potential agents of change toward sustainable development (producers, consumers, campaigners, educators, communicators). Semua label ini, meminjam terminologi Rocheleau, dapat disarikan sebagai peran tiga dimensi perempuan, yaitu sebagai korban, villains (perusak) dan fixers (penata).4
Kaitan perempuan dengan lingkungan dibumbui oleh berbagai atribut yang mendorong munculnya mitos-mitos, misalnya istilah “ibu pertiwi” atau earth mother, bumi dianggap memiliki karakter stereotip keperempuanan: kesuburan dan induk kehidupan. Karakterisasi ini akhirnya menjadi legitimasi bagi kesamaan nasib perempuan dan lingkungan sebagai korban pembangunan. Keadaan ini diperkukuh oleh kenyataan bahwa tokoh monumental, bahkan pionir gerakan lingkungan adalah perempuan, seperti Rachel Carson (penulis Silent Spring) dan Gro Brundtland (pemrakarsa Our Common Future).
Apakah benar telah terjadi diskriminasi jenis kelamin di dalam persoalan lingkungan, dengan “kekalahan” di pihak perempuan? Atau apakah yang sebenarnya terjadi adalah bias gender akibat paradigma ilmu lingkungan (ekologi) yang memang menekankan peran individu betina di dalam populasi?5
Artikel ini juga akan mengupas apakah “kedekatan” ideologi antara gerakan lingkungan dan gerakan perempuan berperan dalam bias gender ini?
Paradigm Ekologi
Thomas Kuhn mendeskripsikan paradigma sebagai suatu kepercayaan atau nilai yang secara kuat diterima oleh masyarakat ilmiah, sehingga jika ada penelitian atau percobaan yang tidak memberikan hasil yang sesuai, maka tidak “serta-merta” mengakibatkan penolakan terhadapnya.6 Justeru yang akan ditolak adalah prosedur eksperimental atau logika deduksi, atau bahkan membekukan hasil penelitian yang “tidak sesuai” itu.7 Dengan kata lain, paradigma dapat ditafsirkan sebagai suatu konstelasi dari komitmen bersama di kalangan masyarakat ilmiah.8
“Pilar” utama ilmu ekologi adalah salah satu esensi teori evolusi oleh seleksi alam (Charles Darwin), yang menyatakan bahwa semua individu akan survive, bereproduksi dan menghasilkan keturunan di lingkungan yang mendukung kehidupannya (favourable environment). Dalam konteks ini lingkungan berperan sebagai media penyeleksi. Sampai hari ini paradigma dalam ilmu ekologi tampaknya belum bergeser dari gagasan Darwin tersebut.
Hampir dalam semua kasus, ekolog lebih tertarik pada jumlah dan penyebaran individu, serta proses demografi yang memengaruhinya, seperti kelahiran, kematian dan migrasi.9 Tidaklah terlalu mengherankan jika khasanah literatur ekologi banyak diwarnai oleh berbagai penelitian tentang reproduksi dan implikasinya terhadap populasi.10
1 Lihat, V. Wee and N. Heyzer, Gender, Poverty and Sustainable Development (New York: ENGENDER- UNDP, 1995).
2 Lihat, H. Van den Hombergh, Gender Environment and Development: A Guide to The Literature (Amsterdam: Institute for Development Research, 1993).
3 Lihat, I. Dankelman and J. Davidson, Women and Environment in the Thirld World: Alliance for the Future (London: Earthscan-IUCN, 1988); J. Clones, Women’s Crucial Role in Managing the Environment in Sub-Sahara Africa (Africa Region: Technical Note, Women in Development, Poverty and Social Policy Division, Technical Department, 1991).
4 Lihat, D. Rocheleau, “Gender complementary and Conflict in Sustainable Development: a Multiple User Approach,” Paper presented to IUFRO World Congress, August 5-11, 1990, Montreal.
5 Budi Widianarko, “Paradigma Ekologi dan Bias Gender dalam Persoalan Lingkungan,” dalam Kompas, 17 April 1996, hal. 4.
6 Lihat, Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 2nd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 1970).
7 Lihat, J. Cairns Jr., “Eco-societal Restoration: Re-examining Human Society’s Relationship with Natural Systems,” The Abel Wolman Distinguished Lecture. Nat. Acad. Sci. Washington, Dec. 5, 1994.
8 Lihat, P. Marshall, C. Joldersma, B. Garfield, B. Clemenger, P. Travis and S. Bower, The Relationship of Paradigms and Worldview, and the Implications of Paradigms for the Social Ssciences and Professions (Toronto: Institute for Christian Studies).
9 Lihat, M. Begon, J.L. Harper and C.R. Townsends, Ecology: Individuals, Populations and Communities (Oxford: Blackwell Scientific Publications, 1986).
10 Contohnya antara lain, K.O Winemiller, “Seasonality of Reproduction by Livebearing Fishes in Tropical Rainforest Streams,” dalam Oecologia 95, 1993, hal. 266-276.