Masalah utama kita dalam berpancasila sebenarnya lebih pada perkara praktik. Kita tidak pernah sungguh-sungguh mempraktikkan tafsir atau model tertentu yang telah dipilih secara konsisten. Alihalih mengharapkan tercapainya tujuan negara, yang kita jumpai justru krisis multidimensional di akhir masa setiap pemerintahan. Untuk menghindari krisis yang sama, diperlukan refleksi kritis atas cara kita berpancasila. Tulisan ini mencoba terlibat dalam upaya refleksi tersebut dengan menggunakan kerangka “discursive design” (bagaimana tafsir atas Pancasila dirumuskan dan dikembangkan) dan “practices” (bagaimana tafsir yang telah dirumuskan dapat menjadi praktik keseharian). Selain tidak berpretensi untuk terlibat dalam adu klaim kebenaran atas tafsir Pancasila, tulisan ini memfokuskan pada analisis tentang bagaimana proses tersebut berlangsung, baik pada tataran wacana maupun praktik.
Kata Kunci: deliberative democracy, desain diskursif, Ikonografis, Pancasila, paradigma kritistransformatif