Prisma

Selamat Tinggal Energi Fosil, Selamat Datang Energi Terbarukan

Selama ribuan tahun kehidupan manusia di bumi ini tergantung pada sumber energi fossil. Ada tiga sumber energi berbahan bakar fosil yang kita kenal: minyak, gas bumi, dan batubara. Ketiga sumber daya itu berasal dan terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan melalui proses dekomposisi alami melapuk selama ratusan juta tahun di dalam perut bumi. Fosil tersebut mengandung bahan bakar karbon (zat arang) dalam persentase tinggi berupa minyak, batubara dan gas, karena besarnya tekanan dan pemanasan di dalam kerak bumi. Tiga sumber daya berbahan karbon itulah yang selama ini digali dari bumi, dibakar dan dimanfaatkan sebagai sumber energi dunia untuk menggerakkan kegiatan ekonomi, transportasi, dan industrialisasi di Eropa dan AS sejak zaman revolusi industri. Perang Dunia serta kebangkitan dan pembangunan ekonomi negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin pun terjadi karena adanya perdagangan, pendanaan dan pemanfaatan atas tiga sumber energi fosil tersebut.

Namun, keadaan dunia kini sudah jauh berubah. Sumber energi fosil itu meski membawa kemakmuran dan manfaat bagi masyarakat, tetap juga menimbulkan mala petaka buat kehidupan umat manusia. Kegiatan manusia di bidang industri dan transportasi modern yang digerakkan oleh pembakaran energi fosil menghasilkan emisi gas-gas karbon buangan industri dan kendaraan bermotor yang menumpuk di udara/atmosfer selama ratusan tahun, sehingga menghalangi proses radiasi sinar matahari yang dipantulkan bumi. Akumulasi karbon pencemar dari fosil di atmosfer berupa gas-gas rumah kaca (GRK) seperti karbon dioksida (CO2) dan gas methana (CH4) itulah yang menyebabkan terjadinya fenomena alam yang disebut “pemanasan global”, yang berakibat pada “perubahan iklim.” Kenaikan suhu rata-rata bumi di atas 2 derajat Celcius dan perubahan iklim itu membawa dampak luar biasa terhadap berbagai segi kehidupan manusia, flora, fauna dan makhluk lainnya di bumi: timbulnya bencana kekeringan, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, merosotnya produksi pangan, paceklik, hama penyakit, kelaparan dan berbagai dampak sosial ekonomi dan lingkungan lainnya.

Karena itu, “Perjanjian Paris”, kesepakatan 196 negara peserta Konferensi PBB ke-21 tentang Perubahan Iklim (UNFCCC, Desember 2015) yang juga ditandatangani oleh Presiden Jokowi itu menyimpulkan bahwa sumber penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran energi fosil. Semua negara sepakat mencegah proses meningkatnya pemanasan global dengan cara membatasi kenaikan suhu panas di bumi agar tidak melampaui 2 derajat Celcius. Untuk itu, sekitar dua per tiga cadangan bahan bakar fosil (migas dan batubara) yang ada di dalam perut bumi saat ini tidak boleh lagi digali, dikuras, dan dibakar. Sumber energi berbahan fosil itu harus tetap berada di dalam tanah. Kesepakatan PBB tersebut didukung oleh keputusan Bank Dunia akhir 2017 yang menghentikan dukungan finansialnya terhadap industri ekstraksi migas. Sebelum itu, sejak 2010 Bank Dunia sudah menghentikan pembiayaan buat pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Upaya mengakhiri eksplorasi dan penggunaan energi fosil untuk pelaksanaan Perjanjian Paris secara efektif mulai 2019.

Meskipun masih punya cadangan batubara dan migas yang besar, Indonesia tak perlu khawatir jika harus meninggalkan penggunaan 3 energi fosil itu. Selain cadangannya akan cepat habis karena tak bisa diperbarui sementara konsumsinya terus meningkat, juga biayanya mahal, menjadi beban anggaran negara, dan merupakan sumber energi kotor yang mencemari lingkungan, membawa dampak negatif kepada kesehatan masyarakat. Lebih penting lagi, Indonesia justru punya sumber-sumber energi alternatif yang lebih baik dan persediaannya lebih berlimpah, yakni energi baru dan terbarukan (EBT). Ada energi surya, panas bumi (geothermal), tenaga air (hidro), tenaga angin, bio massa, bio gas, tenaga ombak, dan lain-lain.

Berbeda dengan energi fosil, EBT merupakan energi bersih karena tidak melepas emisi karbon dan tidak mencemari lingkungan. Persediaan energi terbarukan juga tak akan pernah habis karena jumlahnya tak terbatas. Teknologi pengembangannya kini semakin maju, cepat, efisien, dan relatif murah. Dunia bisnis dan korporasi besar maupun kecil kini lebih memilih sumber energi bersih dan ramah lingkungan untuk mengembangkan usahanya. Lebih dari 130 perusahaan utama dunia —dari Google, Microsoft, Apple, ke Starbucks sampai Ikea— sudah pasti akan menggunakan 100 persen energi terbarukan. Jerman, Spanyol, dan Skandinavia di Eropa serta Cina dan India di Asia termasuk negara-negara yang sudah lebih maju memimpin dalam penggunaan energi baru dan terbarukan. Sudah saatnya Indonesia segera meninggalkan batubara dan lebih giat mendorong pengembangan energi terbarukan•

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan