Prisma

Sejarah Berakhir dan Sejarah Baru Berawal

Republik adalah sangkar dan semua bentuk isme yang dimungkinkannya adalah paham yang bisa dipakai, dibongkar, diisi lagi, sampai tiada berkesudahan: imperialisme ditantang oleh nasionalisme; aliran Kanan dan agamis ditantang oleh aliran Kiri dengan komunisme-Marxisme; otoritarianisme militeristik ditantang oleh radikalisme liberal kaum muda; kini neoliberalisme dalam politik dan ekonomi ditantang oleh populisme yang menjalar ke Indonesia sebagaimana ia melanda dunia pada umumnya.

Semua proses isi-pakai-bongkar-isi lagi tiada semudah menyebutnya karena semua tergantung dari power exchange yang berlangsung dalam suatu masyarakat politik itu sendiri. Namun, dilihat dari sisinya, isme-isme itu sekaligus menjadi sebab dan akibat dari power exchange baru, dan semuanya berputar seperti Yin dan Yang tanpa berkesudahan.

Tesis tentang berakhirnya sejarah, the end of history, adalah proklamasi paling angkuh tentang berakhirnya ideologi di luar liberalisme Barat dengan penumbuhannya dalam institusi ekonomi politik; ini berarti kemenangan Barat. Runtuhnya Uni Soviet dan semua negara satelitnya, tentu saja, menjadi penanda paling telak dalam arti IDE, dalam huruf besar, menggulingkan tubuh masif ekonomi-politik.

Keangkuhan tentunya tidak sama dengan ketidakbenaran; namun, sebelum dawai pengumuman “berakhirnya sejarah” kering berbagai peristiwa— seluruh rangkaian dari yang disebut sebagai “the Arab Spring” yang memberontak muncul melawan kekerasan militer, otokratisme, dan rezim otoriter di Timur Tengah—semuanya mengganggu jantung kekuasaan di Mesir, Tunisia, Suriah, dan lain-lain. Di seluruh belahan dunia itu hidup ide besar tentang keadilan, persamaan hak, dan hak politik rakyat yang telah lama tertindas. Otokrasi yang menjadi dasar otoritarianisme Timur Tengah sudah waktunya berakhir dan diakhiri. Namun, keberhasilannya hanya seumur jagung dan luruh hampir tuntas sesudahnya. Populisme mulai bersemi di sana.

Inilah zaman ketika IDE menguasai dunia yang biasanya dibagi dua, yang maju dan baru berkembang. Pada gilirannya, populisme di negara- negara maju bukan hanya meniadakan the end of history, akan tetapi seolah-olah mengumumkan awal sejarah baru. Namun, apakah yang disebut sebagai historia baru itu? Pertama, suatu invasi dari orang-orang yang tidak berdaya dari Timur Tengah dan Afrika ke dunia Barat dalam bentuk pengungsian besar-besaran ke Eropa, dan dunia Barat—justru karena, atau setidaknya, dirangsang oleh the Arab Spring itu. Kedua, suatu percampuran kultural besar-besaran akan terjadi dan malah diprediksi munculnya jenis Islam baru yang disebut sebagai Euro-Islam dalam suatu proses yang disebut peng- Eropa-an Islam, Europäisierung des Islams. Ketiga, populisme Eropa sarat dengan sentimen anti-asing yang tumbuh subur di Belanda, Jerman, dengan penolakan hampir absolut di Hongaria, baik dalam bentuk ide maupun dalam bentuk fisik—dibangunnya pagar berduri. Sejarah baru di Barat diawali dengan orang asing yang bertemu dengan tuan rumah yang asing, Eropa; tuan rumah juga merasa diri terasing dari tradisinya dalam perjumpaan dengan jutaan manusia asing. Karena itu, muncul ide nasionalisme Eropa, Eropa untuk orang Eropa putih, dan Kristen—sesuatu yang juga asing bagi demokrasi dan hanya akrab dengan fasisme. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden hampir menjadi puncak sejarah baru itu. Apa yang terjadi di Amerika Serikat lebih menunjukkan krisis demokrasi liberal yang menjadi tesis utama the end of history, tempat Trump menginjak sivilisasi, cita rasa, dan tata krama demokrasi. Namun, dalam semua itu, gejala populisme mengangkat di sana soal krisis demokrasi: apakah demokrasi bisa tumbuh dalam keseragaman etnik, agama, dan ideologi? Kalau memang seperti itu, maka demokrasi sudah menemui ujung buntu. Semua kian diperburuk oleh kenyataan bahwa free movements of goods, capital, and labor tidak menghasilkan suatu ekuilibrium baru, tetapi kesenjangan baru dengan dukungan penuh kaum plutokrat —hanya orang kaya yang menguasai politik. Bahwa segelintir pemodal menguasai harta yang bisa menjadi milik 100 juta orang Indonesia adalah gejala itu. Plutokrasi mungkin menjadi akibat langsung paling berbahaya dari globalisasi, dan populisme berusaha memberantasnya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan