Ketika manusia berburu kehidupan di luar planet bumi, terutama menuju Mars, pertanyaan pertama bukan tentang udara dan tanah akan tetapi tentang air: apakah ada air, malah lebih jauh apakah pernah ada air dalam sejarah planet Mars, baik dalam bentuk beku, maupun cair. Pertanyaan ini hanya menunjukkan bahwa air adalah kehidupan dan untuk itu berapa pun biaya disiapkan menuju Mars.
Di planet bumi pertanyaannya sama sekali lain: siapakah yang berhak dan boleh memiliki akses terhadapnya. Namun, karena pertanyaan ini begitu fundamental sehingga pertanyaan “apakah itu air” perlu diangkat di sini. Karena pertanyaan itu begitu sehari-hari sifatnya sehingga mengangkatnya lebih menujukkan wajah “membosankan, bertanya-tanya tentang yang tidak perlu.” Namun, mari kita coba mempersoalkannya untuk melihat nuansa halus yang ada di sana.
Pertama, ketika seorang ilmuwan merumuskan air sebagai H2O, maka air muncul dalam wajah yang dingin tanpa warna. Dalam arti itu air hanya satu unsur dalam rumusan kimiawi yang bisa dicampur dengan unsur kimiawi lain untuk menghasilkan suatu unsur lain lagi.
Kedua, ditinjau dari sisi lain air adalah suatu pengalaman hidup, yang hanya bisa dipahami ketika air menjadi sesuatu begitu pentingnya sehingga kehidupan seseorang bergantung dari ada atau tidaknya air itu. Bagi seorang yang haus, air bukan lagi H2O akan tetapi penyambung hidup.
Ketiga, ketika air dipakai sebagai bahan pengairan maka air yang penting bagi kehidupan itu menjadi instrumental, alat, yang tanpa itu kehidupan tidak bisa mengalir. Sebegitu rupa sehingga setiap masyarakat secara alami dan secara sosial menghidupkan suatu etika untuk mengatur aliran air itu demi suatu kehidupan bersama yang lebih adil untuk mengairi sawah. Air berubah rupa lagi menjadi organisasi dan keadilan di mana Bali selalu menjadi contoh soalnya.
Dalam kasus lain air tidak menjadi instrumen akan tetapi menjadi substansi yang menyatu dengan kehidupan daging dan darah manusia itu sendiri ketika air itu dikonsumsi, diminum, dan bersama bahan lain yang dimakan dan dengan itu berproses menjadi daging dan darah manusia itu sendiri. Dalam arti itu air bersifat substansial dan lebih dekat dengan dekat kelompok dua di atas.
Dengan pertimbangan di atas selalu menjadi tuntutan di muka bumi ini di kalangan masarakat yang beradab dan berbudaya bahwa air adalah bonum commune, milik umum, tidak/jangan menjadi milik individu. Bahkan konstitusi bangsa ini merumuskan secara eksplisit bahwa air milik umum, bonum commune, yang dalam hal ini menjadi milik negara.
Namun, teknologi mengubah semuanya. Teknologi mengubah air menjadi substansi dengan kualitas lebih tinggi berdasarkan unsur-unsur kimiawi yang ditambahi atau dikurangi. Semakin tinggi semakin bernilai dari segi kualitas. Dalam langkah berikutnya modal mengubahnya lagi menjadi komoditas yang disiapkan bertingkattingkat berdasarkan kualitas dengan harga yang bertingkat-tingkat pula.
Teknologi, dalam hal ini, tidak pernah netral dalam arti kehadirannya akan memecahkan masyarakat ke dalam dua bagian dan melemparkan masyarakat itu ke dua tepian “nasib” yaitu yang beruntung, dan tidak beruntung. Dalam hal air semuanya menjadi jelas ketika gunung, lembah, dan berkeping-keping tanah yang mengandung air dikapling menjadi milik pribadi dan menutupnya sebagai bonum commune. Semakin tinggi mutu air semakin dirangsang nafsu memiliki sumbersumber tersebut.
Dengan demikian dari waktu ke waktu teknologi mengikat manusia dalam bisnis, ekonomi, dan keuangan menjadi kepentingan yang hampir tidak bisa dipisahkan satu sama lain (das Bündnis von Wirtschaft und Technologie). Karena kuatnya ikatan ini berbagai kekuatan sosial, terutama, di Amerika Latin, menuntut agar mengolah dan campur tangan ke dalam sumber daya alam air tidak diberikan kepada kelompok-kelompok bisnis yang memiliki kepentingan besar yang dengan caracara irasional menghancurkan alam.
Yang berhubungan dengan alam selalu berhubungan dengan adanya akses, dan teknologi selalu memungkinkan akses itu untuk menjadikannya modal yang akhirnya juga menguatkan ikatan antara ekonomi dan teknologi yang semakin meminggirkan kalangan bawah dari air, bersih dan/atau tidak•