Gerak Tanpa Henti Menuju Tengah membedah ironi kelas menengah Indonesia yang terjebak dalam ambiguitas konsep dan sejarah. Melalui kisah tragis Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat yang harus “menukar” identitas menjadi Willem van Bantam demi mobilitas sosial, Daniel Dhakidae mengungkap bahwa menjadi “tengah” sering kali berarti menggadaikan otentisitas demi pengakuan kekuasaan. Esai ini bukan sekadar catatan sosiologis, melainkan kritik tajam terhadap ilusi meritokrasi dan struktur rasial yang membuat kelas menengah terus bergerak namun tak pernah benar-benar sampai ke tujuan