Harian The New York Times menurunkan berita tentang pidato Sutan Sjahrir pada sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat. Media dan kantor berita lainnya juga menulis hal yang sama pada terbitan 15 Agustus 1947. Warta itu tersebar ke seluruh dunia dan jadi penanda awal kemenangan perjuangan diplomasi Indonesia.
Keesokan harinya, media mengutip omongan wakil Belanda di PBB, Eelco van Kleffens. Dia marah-marah, menuding Republik Indonesia sebagai “negara mikrofon” yang “terdiri dari para-agitator tanpa ada pengikut”.[1] Karena kalah dan malu di medan diplomasi, Pemerintah Belanda menarik van Kleffens dari PBB dan dipindah sebagai duta besar di Turki.
Memang pada pidatonya 14 Agustus 1947, Sutan Sjahrir menguraikan penderitaan Indonesia sebagai sebuah bangsa beradab, yang berabad-abad dieksploitasi oleh kaum penjajah. Sjahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda di PBB. Dewan Keamanan PBB akhirnya ikut campur. Belanda gagal mempertahankan posisinya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan dalam negeri.
[1] Sabam Siagian, Kenangan PBB dalam “Diplomasi Indonesia di PBB” (Jakarta: Pusat Data dan Analisa Tempo, 2019), hal. 23.