Pariwisata tidak hanya sebatas perjalanan. Ia juga membentuk ulang cara masyarakat memandang diri, budaya, dan masa depannya. Di Indonesia, perkembangan industri pariwisata membawa serta janji pembangunan. Namun, di baliknya, ada tanya yang terus mengemuka: siapa yang diuntungkan dan siapa yang dikorbankan? Tulisan ini berangkat dari perenungan terhadap komodifikasi budaya. Budaya yang semula adalah kehidupan bagi pelakunya perlahan dikemas ulang demi selera pasar. Perubahan gaya hidup dan nilai sosial pun mengikuti permintaan itu. Dengan merenungkan dampaknya, komodifikasi budaya perlu ditata ulang secara etis. Tujuannya bukan semata meraih manfaat ekonomi, melainkan juga menjaga hubungan sosial, merawat ruang hidup, dan keberlanjutan hidup komunitas itu sendiri. Nilai budaya tidak lahir dari kemasan, melainkan dari relasi yang hidup dan terus dinegosiasikan. Untuk itu, dibutuhkan tiga langkah: pengakuan atas hak komunitas, reposisi mereka sebagai subjek, dan regenerasi relasi yang tercerabut oleh logika pasar. Kita perlu bertanya ulang: siapa yang berbicara, siapa yang didengar, dan siapa yang diuntungkan? Menyadari ketidaksetaraan para pihak dalam pariwisata, menuju keberlanjutan bukan soal proyek atau teknokrasi belaka. Ia soal relasi, soal kepercayaan, dan kesediaan mendengar suara-suara yang selama ini dipinggirkan.
Kata Kunci: kepariwisataan, komodifikasi, komunitas lokal, pengalaman berbudaya