Prisma

Mulailah dari fakta

Dalam Prisma No. 12/Desember 1980, Saudara Jaswadi (“Kritik dan Komentar”) menanggapi penggunaan istilah “pembangunan” yang dipakai Maroelak Sihombing dalam artikel “Partisipasi Sebagai Pemerdekaan Manusia.”. Saudara Jaswadi menunjukkan konsep “pembangunan” dalam artikel itu, jika dipertentangkan, menurutnya “mengandung kontradiksi” (sic!) dan bahwa alternatif “pembangunan” yang ditawarkan Maroelak “tidak realistis” (?).

Di satu tempat, demikian Saudara Jaswadi, Maroelak memandang “pembangunan” sebagai “perubahan”, dalam arti positif dan negatif. Di tempat lain, sewaktu Maroelak merumuskan gagasan artikelnya, ia menempatkan “pembangunan” sebagai realisasi “harapan-harapan yang membebaskan” rakyat, yaitu melalui partisipasi. Soalnya bagi Saudara Jaswadi, bagaimana bisa orang menumpahkan harapan kepada “pembangunan” bila “orang tahu ia negatif”?. Demikianlah bagi Saudara Jaswadi, konsep “pembangunan” Maroelak itu tidak koherens. Disimpulkan karena itu, bahwa “makna dan fungsi pembangunan hanya satu, yaitu positif,” Sedang yang bisa positif dan negatif adalah “perubahan”, bukan “pembangunan” .

Adalah jelas bahwa konsep “pembangunan” dan “perubahan” tidak sama. Tapi jelas pula, bahwa apa yang dipersoalkan Saudara Jaswadi, sejauh ini, hanyalah “istilah” atau “konsep”, dan belum fakta pembangunan, seperti dikemukakan Maroelak. Tapi soalnya sekarang, apa artinya konsep (pembangunan) bila tidak didukung fakta (pembangunan)?. Tentang ini, Dawam Rahardjo (Kompas, 12-1-1981) misalnya, mempersoalkan: (i) proses proletarisasi petani akibat pengadaan pangan selama ini; (ii) proses marginalisasi dikalangan pengusaha kecil; (iii) proses pengangguran buruh akibat pengadaan sandang melalui teknologi tinggi dan modal asing .

Pendek kata patut dipersoalkan pengorbanan-pengorbanan sosial akibat dipilihnya strategi pembangunan selama ini, justeru sebagai titik telak bagi pembangunan selanjutnya. Tanpa didukung fakta, konsep tak punya arti, kecuali jika dimaksudkan untuk memanipulasi situasi. Konsep (pembangunan) punya arti sejauh didukung fakta (pembangunan). Konseptualisasi memang sedikit banyak arbritary, dalam arti orang bebas memilih fakta yang relevan (Evidenz). Tapi bukan berarti artifisial! Adalah naif untuk mempertahankan terus konsep “pembangunan” sebagai positif . Positif bagi siapa, sambil menutup mata atas fakta dan fakta baru. Pergeseran dalam konsep “pembangunan” kini, dari dominasi teori “pertumbuhan”, juga berhubungan dengan diketahuinya fakta baru. (lihat misalnya, Ismid Hadad dalam Prisma No. 1/Jan. 1980) . Adalah juga soal fakta, apakah dalam dekade yang akan datang orang akan berkata bahwa “pembangunan” masih alternatif?.

Suatu komentar adalah konsekuensi dari pemahaman si penulis atas objek komentarnya. Ini juga soal komunikasi, juga cara manusia mengada (exist), kegiatan-kegiatannya, termasuk kegiatan akademis. Apabila saya mendengar menyatakan bahwa istilah “pembangunan” itu semacam “perubahan”, bisa “positif dan negatif,” maka saya tidak pertama-tama mempersoalkan apakah pernyataan ini dihasilkan dari memeras sari setumpuk definisi tentang “pembangunan”?. Tidak. Ia bisa saja muncul sebagai refleksi atas fakta pembangunan. Jika begitu, maka kalau “ada yang ‘tidak realistis’ dan ‘kontradiktis’, “maka itu juga terdapat pada fakta pembangunan itu. Jika anda ingin bicara, tentang apa saja, maka mulailah dari fakta, jangan mulai dari definisi-definisi.

MS BARON Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia Jakarta

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan