Untuk peristiwa-peristiwa antara 1945 dan 1949 di Indonesia, dari segi analisa historis, menurut Anthony Reid, adalah tepat untuk menggunakan istilah revolusi. “Revolusi sosial”—istilah yang dipakai oleh para pendukungnya—mengoreksi potensi “Revolusi Nasional Indonesia” dalam mencapai perubahan yang menyeluruh. Gerakan spontan dari bawah ini, berbentuk serupa di berbagai daerah, tetapi tanpa koordinasi. Pemerintah menentang revolusi sosial ini. Kaum Marxis yang berpengaruh pun mengutuk semua kekerasannya dengan menyebutnya: “tindakan kanak-kanak yang kekiri-kirian”.