Sejak tahun 1930-an Sutan Takdir Alisyahbana dan kawan-kawannya telah berdebat lewat “Polemik Kebudayaan” yang terkenal itu tentang “nilai-nilai lama” dan “nilai-nilai baru” dalam kebudayaan kita. Dan ternyata pada tahun 1980-an ini kita masih juga berdebat tentang hal yang sama dan—anehnya—dalam suatu kerangka paradigma a yang juga sama, menempatkan secara ekstrim dua hal itu dalam dua kutub yang saling bertentangan. Bila kutub yang satu dicap kolot, konservatif dan diidentikkan dengan “Timur”, kutub lainnya dicap moderen, progresif dan diidentikkan dengan “Barat”, Timur dan Barat ini lalu menjadi pokok sengketa dan kita seolah terpaku harus memilih satu di antaranya.
Mungkin Sutan Sjahrir orang yang pertama keluar dari paradigma seperti itu ketika ia menyatakan, “Kita tidak perlu mengambil yang satu atau yang lain, kita boleh menolak kedua-duanya, oleh sebab keduanya harus silam dan sekarang ini sedang tenggelam ke masa silam.”
Tapi mungkinkah itu? Dalam praktek, kedua-duanya tetap dan masih menjadi dilema. Dilema ini senantiasa hadir bersama sikap kita yang juga senantiasa ambivalen, di satu pihak berusaha mengkonservasi “nilai-nilai lama” ke dalam suatu wilayah “cagar budaya” yang aman namun dalam sikap yang cenderung reaktif, tetapi di pihak lain menerima kehadiran “Barat” dengan segala eksesnya. Dan ekses ini memang tak terelakkan karena ia masuk lewat “moderenisasi” yang tidak saja mampu memenuhi kebutuhan, tetapi juga keinginan bahkan memanipulir imajinasi kita menjadi kebutuhan hampir tanpa kita sadari. Ia menawarkan pola konsumsi dan menjual gaya hidup “moderen”. Dalam dosis yang lebih tinggi terjadilah apa yang oleh Illich disebut reifikasi yaitu proses pembekuan persepsi atas kebutuhan pokok ke dalam permintaan akan produk-produk pabrik di mana kehausan diterjemahkan langsung sebagai kebutuhan akan sebotol coca cola (Ivan Illich, Towards A History of Needs, Bantam Edition, 1980).
Tetapi “cocacolanisasi” tidak selalu identik dengan Barat. Ekses tidaklah sama dengan “isi” dan ia belum menggambarkan Barat yang sesungguhnya.
***
Dua tahun sesudah pernyataan Sjahrir di atas sekelompok seniman menyatakan sikapnya sebagaimana dimuat dalam majalah Siasat, 22 September 1950, bahwa ” … kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.” Ini paradigma baru dan penegasan tentang sikap dan posisi. Namun seandainya pendekar counter-move Alvin Toffler benar bahwa Barat yang telah beralih dari the first wave (revolusi agraris) ke the second wave (revolusi industri) kini sedang menjalani transisi ke the third wave yang merupakan sintesa baru antara small is beautiful dan the biggest is the best yang melahirkan small-within-big is beautiful, bagaimana menempatkan posisi kita dengan tepat dalam proses ini?
Sementara pertanyaan ini belum terjawab, ada pertanyaan awal yang mestinya dijawab terlebih dahulu. Apa yang dinamakan “nilai-nilai Indonesia” itu? Bukankah deskripsi antropologis (dan sering juga “filosofis”) tentang “nilai-nilai Indonesia” yang dikenal selama ini ciptaan belaka dari para politisi dan akademisi? Yang pertama untuk tujuan menciptakan simbol-simbol guna mempertegas identitas nasional (karena itu cenderung melebih-lebihkan), yang kedua mengikuti dikotomi-dikotomi teoritis (karena itu cenderung berada antara generalisasi atau simplifikasi yang kelewat besar). Tragisnya, kesimpulan yang mereka hasilkan itu lalu menjadi cap bagi berjuta-juta manusia Indonesia lainnya.
Dan kita lalu melihat diri kita sendiri, “manusia Indonesia”, seperti melihat potret diri yang dilukis kembali oleh Basuki Abdullah, lebih indah (tetapi bisa juga lebih buram) dari warna aslinya!