Prisma

Jumlah Sebagai Tantangan

Kita mengenal dua zaman dalam hubungan dengan masalah kependudukan. Pernah ada saat ketika jumlah penduduk yang besar diterima dengan penuh kebanggaan, karena jumlah penduduk sebanyak itu dianggap sebagai suatu kekuatan dahsyat, man power. Namun, jumlah sebagai kekuatan hanya mungkin bila diimbangi standar hidup dan kebudayaan dalam tingkat tertentu. Karena itu pada dasarnya jumlah adalah semata-mata potensi. Aktualisasi dari potensi semacam ini hanya mungkin bila jumlah yang besar mendapat jaminan adanya organisasi kerja yang efektif untuk menjadikannya suatu kekuatan kerja dan angkatan kerja produktif.

Namun kini kita memasuki tahap yang sama sekali berbeda. Jumlah menjadi. Jumlah hanya mengingatkan orang tentang suatu massa actie yang kadaluwarsa, bukan pada tempat dan waktunya lagi. Jumlah sama dengan massa actie. Massa actie sama dengan kegalauan. Karena itu jumlah sama dengan kegalauan. Akibatnya timbul semacam alergi terhadap jumlah. Bersama dengan alergi terhadap jumlah dalam arti politik datang pula alergi terhadap jumlah dalam arti ekonomis. Bila jumlah pada masa sekarang adalah secara politik maka lebih-lebih pula ia adalah dalam arti ekonomis. Tiba-tiba kita terperangah dan merasa tak berdaya menghadapi satu pertanyaan besar: Siapa yang bisa memberi makan manusia dengan jumlah sebesar itu? Jumlah tampil bukan sebagai tenaga kerja produktif, tetapi sebagai angkatan kerja yang frustrasi, yang tidak mendapatkan kerja, dan karena itu tidak mendapatkan makan, karena orang hanya makan dari hasil kerjanya.

Di sini praduga yang berada di belakang kepala yang lebih banyak berbicara. Bila jumlah adalah maka harus dihapuskan. Dan sialnya kesalahan tidak dicari di dalam kebijaksanaan ekonomi yang diambil, tetapi jumlah yang dipersalahkan bersama bayi-bayi yang belum atau akan lahir. Semuanya berjalan seiring dengan perkembangan ekonomika sebagai ilmu. Dan dalam masa sekarang semua jenis perhitungan tentang kemajuan ekonomi yang diambil dari Barat menyebarkan “kebenaran” ini yaitu bahwa kemajuan ekonomi suatu bangsa adalah tingkat pertumbuhan ekonomi dikurangi tingkat pertumbuhan penduduk. Ketika menilai teori semacam ini dalam wawancaranya dengan Prisma pada tahun 1977 almarhum E.F. Schumacher, pengarang Small is Beautiful berkata:

This is mad! You can’t set one thing against the other. You can’t now suddenly in this type of calculation take your population as a negative factor. As if people do not matter! They are put into account as a substraction, if you have no children at all you are really rich.

Gila! Anda tak boleh mempertentangkan kedua hal tersebut. Tidak mungkin dalam jenis perhitungan semacam ini, penduduk anda dianggap sebagai faktor negatif. Dalam perhitungan dia menjadi pengurang, seolah-olah tanpa melahirkan anak, seorang menjadi sungguh-sungguh kaya.

Namun, selama lima belas tahun terakhir dibuat usaha secara sistematis untuk mengurangi jumlah penduduk ini. Dan untuk itu dengan segala upaya mengimpor dan menciptakan vaginal technology untuk menyumpal keluarnya anak. Tetapi apa yang dicapai dengan itu? Tingkat pertumbuhan penduduk tetap tidak tertahankan, angka 234 (dua koma tiga empat) tidak mampu teratasi.

Ada satu faktor tetap sama yaitu jumlah tetap besar. Asas-asas penalaran mengajarkan kepada kita bila asumsi menyatakan bahwa jumlah besar adalah maka asumsi semacam itu tidak memungkinkan kesimpulan bahwa usaha untuk menghapus jumlah besar tersebut yang malah menambah besar jumlahnya adalah tanda keberhasilan. Ini berarti persoalannya bukan semata-mata jumlah. Pada gilirannya fakta ini pula memorakporandakan asumsi yang dianut. Bila demikian, asumsi itu harus dibalik. Artinya, jumlah besar, jumlah angkatan kerja yang besar, bukan lagi, tetapi tantangan. Tantangan bagi politik ketenagakerjaan yang pada gilirannya berarti tantangan bagi strategi pembangunan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan