Prisma

Manusia dan Kejahatan

Manusia pada dasarnya baik. Karena itu bila ada kejahatan, maka kejahatan hanyalah suatu pertanda kekurangan kebaikan. Ada seribu bukti yang bisa dicari dan gampang ditemukan untuk mendukung kebenaran ini. Namun ada suatu pendapat lain yang persis bertolak belakang. Manusia pada dasarnya buruk dan jahat. Karena itu kalau ada kebaikan, maka kebaikan menjadi perkecualian. Ada seribu bukti pula yang bisa dicari dan tidak sulit ditemukan untuk mendukung kebenaran ini. Yang pertama mengandung optimisme tentang manusia dan yang kedua pesimisme tentang manusia. Dari dua sikap ini muncul satu kepastian untuk mengajukan suatu pertanyaan etis: apakah yang dipertaruhkan dalam kebaikan dan keburukannya?

Manusia moderen bukan orang pertama yang mencoba mencari jawaban terhadap pertanyaan ini. Usaha mencari jawaban terhadap pertanyaan ini keluar dari harapan pada kemanusiaan—dalam sikap optimis—dan keprihatinan kepada kemanusiaan yang sama—dalam sikap pesimis. Maka dalam analisa terakhir dapat kita katakan bahwa pertaruhannya adalah dalam mempertahankan dan melanjutkan hidup dan kehidupan dari manusia dan kemanusiaan. Hampir tidak ada orang yang bebas dari pilihan ini, karena dalam dirinya tertanam suatu naluri yaitu naluri melangsungkan hidup dan kehidupan, naluri menyelamatkan hidup dan kehidupan.

Kemurnian naluri ini masih jelas nampak dalam hewan. Kebuasan seekor binatang terhadap binatang lainnya adalah reaksi untuk memelihara hidupnya sendiri atau hidup kelompoknya. Seekor binatang membunuh karena pembunuhannya itu demi melanjutkan suatu kehidupan; Erich Fromm menyebutnya sebagai tindakan yang keluar dari naluri agresi adaptif.

Pembunuhan yang sama terjadi juga pada manusia. Lantas apa yang menjadi perbedaannya? Dalam banyak hal tidak ada perbedaannya. Membunuh adalah membunuh. Manusia bisa membunuh untuk menyelamatkan hidup atau kehidupan sendiri atau kelompoknya. Namun dalam sangat banyak hal terdapat perbedaan yang hakiki. Bilamana hewan membunuh semata-mata berpijak atas naluri menyelamatkan kehidupan, maka manusia bisa membunuh demi membunuh. Di dalamnya terdapat perbedaan unik manusia dari binatang yaitu bahwa manusia bisa didorong semacam impuls untuk membunuh dan menganiaya, dan dalam membunuh dan menganiaya dia merasakan suatu kenikmatan, nafsu. Erich Fromm menamakan pembunuhan jenis ini sebagai tindakan yang keluar dari dorongan non-adaptive destructiveness, yaitu nafsu merusak tak terkendalikan yang melanggar tujuan etis mempertahankan dan menyelamatkan kehidupan.

Dalam sejarah setiap bangsa tidak kurang adanya usaha-usaha untuk menjelaskan gejala ini. Kita sudah mengatakan di atas ada penjelasan yang bertolak dari azas hakekat manusia: manusia pada dasarnya baik atau pada dasarnya buruk. Tetapi jawaban itu tidak realistis. Ketika tafsiran sosio-historis ditemukan, orang mulai sadar bahwa hakekat manusia pun mengalami perubahan, dengan perubahan ruang lingkup sosio-historis. Suatu ruang lingkup sosio-historis tertentu menghasilkan suatu struktur energi psiko-sosial yang disebut karakter. Karakter ini sering kali tidak berdiri sendiri tetapi mendapatkan rangsangan dari seluruh struktur sosial-politik ekonomi di sekelilingnya. Struktur sosial yang otoritatif dan menekan gampang merangsang sifat agresi di dalam diri manusia. Salah satu akibat suatu struktur yang menekan—yang banyak jumlahnya—adalah kebosanan. Kebosanan pada orang-orang yang membosankan; sesuatu yang kronik, yang tidak merangsang kreativitas, tidak merangsang produktivitas. Kebosanan kronik dalam diri semakin ditingkatkan lagi oleh suasana sosial politik sekeliling yang juga tidak merangsang. Akibatnya dalam masyarakat terdapat kegiatan-kegiatan yang tidak produktif tetapi semata-mata mencari kompensasi, akhirnya semata-mata demi membebaskan diri dari kebosanan. Itu dibuat dalam pembunuhan atau ganja. Dalam mencuri atau korupsi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan