Prisma

Rustam Ibrahim: Tanpa Etika, Wawancara Kehilangan Makna dan Menjadi Alat Manipulasi

Rustam Ibrahim: Tanpa Etika, Wawancara Kehilangan Makna dan Menjadi Alat Manipulasi (Magang Day)

DEPOK, JURNAL PRISMA – Wawancara bukan sekadar proses tanya jawab teknis untuk mendapatkan kutipan, melainkan sebuah panggilan moral untuk menggali dan menyampaikan kebenaran kepada publik. Dalam tradisi jurnalistik yang menjaga hak publik untuk tahu, seorang pewarta memikul tanggung jawab besar untuk menghadirkan informasi yang akurat, jujur, dan berimbang.

Demikian ditekankan oleh Pemimpin Umum Jurnal Prisma, Rustam Ibrahim, saat memberikan materi dalam kegiatan “Magang Day” bertajuk “Teknik Wawancara dan Pelaporan” di Kantor Prisma, Pangkalan Jati, Depok, Selasa (7/10/2025). Rustam menjelaskan bahwa di tengah arus informasi yang kian deras dan terpolarisasi, keberimbangan menjadi bentuk keberanian untuk tidak berpihak pada kebisingan.

Seni Mendengarkan

Dalam konteks Jurnal Prisma, metode yang digunakan adalah wawancara mendalam (indepth interview) yang bersifat kualitatif, interpretatif, dan investigatif. Berbeda dengan wawancara biasa, teknik ini menuntut keterampilan mendengarkan sebagai sebuah seni.

“Pewawancara sejati bukan hanya pandai bertanya, tetapi juga tahu kapan harus diam mendengarkan. Ia harus menjadi pendengar aktif, reflektif, dan empatik untuk menelusuri makna dari setiap uraian narasumber,” ujar Rustam.

Unsur paling krusial dalam wawancara mendalam adalah pertanyaan “kenapa” (why) dan “bagaimana” (how). Melalui kedua instrumen ini, pewawancara dapat mengeksplorasi pendapat narasumber secara analitis dan mendalam, terutama terkait isu-isu kompleks.

Pemimpin Umum Jurnal Prisma Rustam Ibrahim (tengah) sedang memaparkan materi mengenai teknik wawancara mendalam kepada para peserta magang di Kantor Prisma, Depok, Selasa (7/10/2025). Dalam sesi ini, ia menekankan pentingnya membangun hubungan yang cair dan menjadi pendengar aktif untuk menggali informasi yang reflektif dan analitis

Persiapan dan Etika

Keberhasilan sebuah wawancara sangat bergantung pada persiapan yang matang. Hal ini mencakup riset latar belakang, pengalaman, hingga pemikiran narasumber melalui penelusuran arsip berita dan literatur. Tanpa riset, pewawancara ibarat pejalan tanpa peta.

Selain teknis, etika jurnalistik tetap menjadi fondasi utama. Salah satunya adalah penghormatan terhadap status off the record. Pernyataan sensitif yang dapat mengancam keselamatan narasumber atau menimbulkan kontroversi negatif wajib dihormati dengan tidak mempublikasikannya.

Kegiatan rutin mingguan ini bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan riset literatur dan persiapan matang sebelum terjun menemui narasumber. Rustam Ibrahim menyampaikan penjelasan mengenai etika jurnalistik dan teknis pelaporan di Kantor Prisma, Pangkalan Jati, Depok (7/10/2025).

Integritas Tulisan

Tantangan berikutnya muncul saat mengubah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan yang bernas tanpa memanipulasi fakta. Di Prisma, naskah hasil wawancara umumnya dikirimkan kembali kepada narasumber untuk diperiksa akurasinya.

Namun, Rustam menegaskan bahwa revisi tersebut bukan berarti intervensi yang mengubah substansi. “Jika narasumber tidak mengatakan sesuatu, pewawancara tidak boleh mencantumkan pernyataan karangan sendiri,” tegasnya.

Pada akhirnya, wawancara adalah upaya memahami manusia dengan segala kerumitannya. Fokus utama tetap pada gagasan narasumber, bukan pandangan pribadi penulis, guna mewartakan kebenaran yang jujur dan terpercaya bagi khalayak ramai.

(Redaksi Prisma)

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan