* Makalah disampaikan kepada konperensi tentang multilingualisme dalam Indonesia moderen, Agustus 1981. Terimakasih kepada Anthony Day, Martin Hatch, George Quinn, Jim Rush, Savitri Scherer, Shiraishi Takashi, Jim Siegel, dan Tsuchiya Kenji atas bantuan yang telah diberikan dalam menyusun makalah ini. Namun kekurangan-kekurangan makalah ini menjadi tanggungjawab penulis.
Indonesia mengalami sesuatu yang unik di dalam perkembangan sejarahnya. Bahasa yang dipakai oleh golongan etnis yang menjadi mayoritas bangsanya tidak diangkat menjadi bahasa nasional. Yang menjadi bahasa nasional adalah bahasa Melayu dan bukan bahasa Jawa. Tetapi Benedict R. Anderson melukiskan adanya semacam persaingan diam-diam antara bahasa Indonesia yang populis dan bahasa Jawa yang feodalistis. Hal ini tercermin dalam karya sastra dan sastrawannya. Di dalam diri para penulis Jawa adanya semangat untuk melecehkan feodalisme dalam bahasa Indonesia yang lebih dipakainya, mungkin secara tidak sadar, sebagai bahasa ngoko baru dalam upaya mendobrak feodalisme (bahasa) Jawa.