Een Pseudo-Padjadjaransche Kroniek?
Een pseudo-Padjadjaransche kroniek. Tambo Pajajaran yang palsu! Demikianlah bunyi salah sebuah kalimat tulisan Benedict R. Anderson yang berjudul “Sembah-Sumpah, Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa” dalam Prisma nomor 11, November 1982, halaman 83. Kalimat tersebut sangat menarik bagi saya. Bukan karena bunyinya, melainkan karena makna yang dilekatkan pada Anderson terhadapnya. Menurut pendapatnya kalimat tersebut sangat erat pertaliannya dengan “pemberontakan” Poerbatjaraka terhadap pengeramatan tatanan kejawen pada jamannya yang, demi keleluasaan berucap, memanfaatkan kelugasan bahasa Belanda.
“Keindahan bahasa Belanda ini,” demikian ia menulis, “dapat terlihat pada judul salah satu di antara tulisan-tulisannya yang paling pertama: Een pseudo-Padjadjaransche kroniek. Perhatikanlah bagaimana sesuatu yang dianggap “pusaka” itu telah ditinggalkan dan ditanggalkan kekeramatannya dengan sepatah kata pseudo (semu) yang tajam di depannya, dan -sche di belakang Pajajaran yang jaya.
Pada catatan kaki (nomor 44) Anderson memberikan keterangan, “Karangan ini ditulis bersama dengan C.M. Pleyte.” Saya ragu terhadap kesimpulan yang diambilnya ini berdasarkan telaah terhadap karangan yang dimaksudkan. Pada karangan aslinya, perkataan Een pseudo-Padjadjaransche kroniek itu disebutkan, door C.M. Pleyte met medewerking van Raden Ngabei Poerbatjaraka. Kata met medewerking (dengan kerjasama/bantuan) menunjukkan bahwa Pleyte-lah penulis utama karangan tersebut.
Di samping itu anak judulnya berbunyi, “derde bijdrage tot de kennis van het oude Soenda” (tuntunan ketiga ke arah pengetahuan tentang Sunda kuno). Jelas, karangan tersebut berupa lanjutan dari dua buah karangan Pleyte yang telah ditulis sebelumnya dalam majalah yang sama (TBG).
Karangan berjudul Een pseudo-Padjadjaransche kroniek itu memuat transkripsi dan terjemahan (sebagian) sebuah naskah Sunda kuno yang dikumpulkan Branced dari kabuyutan Ciburuy (Bayongbong, Garut) yang sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor 632. Kropak daun nipah ini hanya 7 lembar. Yang berisi tulisan hanya 13 halaman, masing-masing 4 baris.
Naskah ini mula-mula ditranskripsi oleh Holle sampai sebagian baris 4 halaman 9; kemudian diselesaikan oleh Pleyte dengan bantuan Poerbatjaraka. Akan tetapi terjemahan yang dibuatnya hanya sampai baris pertama halaman 6. Mungkin karena terlalu banyak kata-kata Sunda kuno yang sulit ditelusuri atau dikira-kirakan artinya. Tetapi menurut Pleyte hal itu sudah cukup sebab tujuan utamanya hanyalah untuk membuktikan bahwa, het geschrift No. 632 der kropakverzameling geen Padjadjaransche kroniek is (naskah nomor 632 dari koleksi kropak itu bukanlah Tambo Pajajaran).
Mengapa Disebut Pseudo?
Salah paham mengenai isi naskah kropak 632 itu diawali dengan silsilah raja-raja sehingga membangkit kesan bahwa isinya (akan) mengandung paparan peristiwa sejarah. Padahal isinya berupa “pedoman hidup”, khususnya bagi para raja. Silsilah yang mengawalinya hanyalah berupa pengantar untuk memperkenalkan “alur darah” tokoh Rakeyan Darmasiksa yang ajarannya akan dipaparkan oleh penulis naskah.
Akan tetapi Darmasiksa pun (menurut naskah) hanya menyampaikan apa yang telah diwarisi dari leluhurnya karena nasihatnya itu dikatakan sebagai agama nu nyusuk na Galunggung (ajaran dari yang membuat parit di Galunggung). Tokoh pembuat parit (pertahanan) di Galunggung menurut sebuah prasasti yang ditemukan di lereng Gunung Galunggung (di Bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya) bernama Batari Hyang.
Prasasti batu yang tersimpan di Museum Pusat dengan nomor D 26 itu dibuat dalam tahun Saka “gune (3) apuy (3) nasta (0) gomati (1)“. Di situ diberitakan bahwa dalam tahun Saka 1033 (tahun 1111 Masehi) Rumatak (ibu negeri Kerajaan Galunggung) disusuk (dikelilingi dengan parit) oleh Batari Hyang.
Ajaran yang tercantum dalam kropak 632 itu berasal dari tokoh wanita ini yang dalam tahun 1111 M menjadi penguasa Kerajaan Galunggung. Sebagian isi kropak 632 dipaparkan lebih mendalam dalam kropak 630 (ditulis dalam tahun 1518 M) yang bernama Sanghyang Siksakandang Karesian. Melihat bahasanya, kropak 632 mungkin ditulis dalam abad ke-14 atau akhir abad ke-13.
Naskah inilah (mungkin) yang paling tua yang mengajarkan sikap hidup seperti ilmu padi (agama ning pare). Lalu, bertapa itu adalah melaksanakan tugas menurut fungsi masing-masing secara jujur dan sungguh-sungguh.
Inti ajarannya ditekankan kepada masalah “trio” kepemimpinan, yaitu: rama (sesepuh atau pemuka masyarakat), resi (ulama) dan prabu (penguasa). Tugas mereka masing-masing adalah: memberikan bimbingan (jagat daranan), memberikan kesejahteraan hidup (jagat kreta) dan memerintah (jagat palangka). Ketiga golongan ini dinasihati agar sekali-kali jangan berebut: kedudukan (palungguhan), penghasilan (pameunang) dan hadiah atau upeti (demakan) karena ketiga-tiganya sama asalnya dan sama mulianya.
Kewajiban mereka ialah menunjukkan kemuliaannya dalam bentuk: peri-laku (ulah), perkataan (sabda) dan sikap (ambek) yang bijaksana (si niti), yang masuk akal (si nityagata), yang hak (si aum), yang sungguh-sungguh (si heueuh), yang simpatik (si karungrungan), rela mengalah (ngalap kaswar), murah senyum (semu guyu), berseri hati (tejah ambek), mantap bicara (guru basa) kepada semua orang, tua maupun muda.
Trio kepemimpinan ini dalam kropak 630 disebut tri tangtu di bumi. Secara hampir utuh hal ini masih dapat kita temukan dalam tatanan kehidupan masyarakat Baduy di Kanekes, Kabupaten Lebak. Di Kanekes ada tiga orang puun (pemimpin) yang sederajat dan masing-masing berfungsi sebagai: rama (Puun Cikartawana), resi (Puun Cikeusik) dan prabu (Puun Cibeo). Masing-masing di antara ketiganya hanya berupa sepertiga dari satu keutuhan. Masyarakat Kanekes menamakan sistem kepemimpinan seperti itu tangtu telu (tiga posisi).
Itulah di antara isi kropak 632. Karena itu pula menurut hemat saya, stempel Een pseudo-Padjadjaransche kroniek yang diterapkan oleh Pleyte dan Poerbatjaraka terhadapnya disebabkan oleh salah paham mengenai isi naskah. Kalau penulisnya tidak (bermaksud) mengisahkan “Tambo Pajajaran, mengapa naskahnya harus dicap “Tambo Pajajaran yang palsu”?
Faktor lain yang mendorong kemunculan stempel pseudo itu ialah bagian awal kalimat pembukaannya yang berbunyi, Rahyang Bangsa, masa sya nyusuk na Pakwan. Frase nyusuk na Pakwan tersurat dalam prasasti (desa) Batutulis pada baris ke-4 yang menyangkut tokoh Sri Baduga Maharaja. Baik Holle (1869) maupun Pleyte (1911) dan kemudian juga Poerbatjaraka (1921) mengartikan perkataan tersebut dengan “mendirikan Pakuan”. Lalu, bagaimana mungkin, Pakuan didirikan oleh Banga dan Sri Baduga Maharaja yang masa hidupnya jauh berbeda?
Menurut kropak 406 Banga adalah cucu Sanjaya dari puteranya yang bernama Tamperan. Katakanlah ia tokoh abad ke-8 akhir. Sebaliknya Sri Baduga dianggap hidup dalam abad ke-12 (Holle), abad ke-16 (Pleyte) dan abad ke-14 (Poerbatjaraka).
Kedua sumber tersebut sebenarnya tidak bertentangan karena kata nyusuk dalam Bahasa Sunda berarti membuat susukan atau parit. Tetapi ketiga ahli itu sepaham mengartikan nyusuk dengan mendirikan (stichten). Dari pandangan ini, kalimat pembuka kropak 632 dianggap sebagai “suara sumbang” yang harus dibungkam untuk “pengamanan” teori yang waktu itu dianut: Sri Baduga Maharaja adalah pendiri Pakuan.
Lahirlah stempel pseudo. Dan, sejak itu orang tidak mau lagi mempedulikan naskah tersebut. Apa manfaatnya menyulitkan diri dengan sesuatu hal yang “palsu”?
Naskah yang diserapah dengan pseudo ini diakhiri dengan nasihat berikut:
Tidak akan sia-sia amal perbuatan kita bila kita meniru perilaku sungai. Setia mengikuti alur lintasannya dan senang akan keindahan. Jangan mudah terpengaruh, jangan tergoda oleh hal-hal yang dapat menggagalkan karya-guna kita. Jangan mempedulikan cemooh orang. Pusatkan perhatian kepada cita-cita sendiri! Itulah (jalan kehidupan) yang sempurna. Itulah (jalan kehidupan) yang indah.
Nasihat seindah itu (yang tidak sempat diterjemahkan) rasanya terlalu mahal untuk ditukar dengan “keindahan” Bahasa Belanda lewat sepatah kata pseudo yang “tajam” seperti disorak-soraikan oleh Anderson.
CATATAN: Kropak 632 telah diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Museum Negeri Jawa Barat tahun 1981; disusun oleh Drs. Atja dan penulis. Saleh Danasasmita Jl. Pahlawan Belakang 35 Bogor