Pengantar
Kemajuan pesat perekonomian Jepang banyak dibicarakan orang di mana-mana, dan menimbulkan gairah untuk menggali sebanyak mungkin informasi tentang latar belakang sejarahnya. Jepang telah memukau masyarakat internasional bukan saja karena prestasi yang dicapai selama ini, tetapi terlebih karena telah menimbulkan ketegangan dunia setelah melihat proyeksi yang dicanangkan untuk merebut teknologi dan memperkukuh kedudukannya di bidang ekonomi. Berbicara tentang Jepang dengan berbagai seginya memang tidak mudah mendapatkan hasil maksimal, apalagi hanya melihat sisi samping hasil akhirnya. Oleh sebab itu masih ada masalah umum yang dapat dilihat dari alur sejarah pembentukan Jepang sebagai negara besar sejak sebelum restorasi Meiji sampai dasawarsa 80-an ini. Juga perlu sedikit tinjauan mengenai hubungan bilateral Indonesia dengan Jepang, yang rupanya semakin diperlukan konsep pembenahan kembali. Menurut Jun Onozawa, Direktur Jakarta Office, Japan Overseas Enterprises Association, motivasi Jepang melakukan kerjasama dengan Indonesia di bidang ekonomi adalah karena melihat potensi pemasaran yang besar di Indonesia dan ingin memanfaatkan kebijaksanaan substitusi impor yang banyak memberi fasilitas kepada investor asing.
Koji Tanaka, Researc Associate, Pusat Studi Asia Tenggara, Kyoto University, menguraikan faktor pendorong yang mewujudkan Jepang memperoleh kemajuan di berbagai bidang. Menurutnya, Jepang maju karena dorongan beban sejarah dengan trauma kehancurannya sebagai akibat kekalahan dalam Perang Dunia II, sehingga mengalihkan perhatian Jepang yang semula mengejar supremasi militer ke bidang ekonomi. Sedangkan Siti Dahsiar Anwar, Dosen Sastera Jepang pada Universitas Indonesia, menyimpulkan bahwa moderenisasi Jepang tidak lain hanyalah karena faktor perkembangan teknologi, oleh sebab itu kebudayaan asli Jepang tidak ikut termoderenisasikan. Redaksi.
Kebijaksanaan Merebut Teknologi, Jun Onozawa, Direktur Jakarta Office, Japan Overseas Enterprises Association Jepang berusaha membangun hubungan internasional seluas mungkin dengan menempuh kebijaksanaan perdagangan terbuka, dengan harapan akan mampu menimbulkan interdependensi antar negara-negara di dunia. Karenanya Jepang melakukan impor bahan baku dari berbagai negara dan sekaligus mengekspor hasil-hasil produksinya yang sebagian besar berupa mesin-mesin ke berbagai negara juga. Untuk mendukung perkembangan industri permesinannya, Jepang melakukan impor teknologi walaupun kadangkala harus membeli mahal terutama teknologi dari negara-negara Barat

Keserasian Tradisional dan Modernisasi, Siti Dahsiar Anwar, Dosen Jurusan Sastera Jepang, Universitas Indonesia
Para pengamat tentang Jepang berkesimpulan bahwa apa yang dimaksudkan moderenisasi di Jepang tidak lain hanyalah perkembangan teknologi. Dari sinilah kemudian Jepang banyak dikagumi orang karena kemajuan-kemajuan pembangunan industri yang menakjubkan. Pola pembangunan Jepang yang diterapkan sejak zaman Meiji mengikuti pola pembangunan di Prusia yang semula merupakan negara kecil kemudian berkembang menjadi negara besar, yakni Jerman. Dalam bidang politik, Jepang menerapkan cara Bismark dengan slogannya ‘yang lemah akan dimakan yang kuat’; dan inilah yang merupakan permulaan tumbuhnya ilham membangun kekuatan militer. Tetapi kebangkitan militerisme Jepang ini kemudian mengakibatkan pecahnya Perang Asia Timur Raya dan melibatkan Jepang dalam kancah Perang Dunia II yang akhirnya terbukti Jepang malah menderita kekalahan.

Menganut Garis Keras, Koji Tanaka, Research Associate, Pusat Penelitian Asia Tenggara, Kyoto University
Restorasi Meiji tahun 1868 telah mengubah sistem ekonomi Jepang yang semula tertutup menjadi terbuka. Kebijaksanaan pemerintah Jepang pada waktu itu ingin mengejar tingkat kemakmuran rakyatnya dan menjadikan militer Jepang kuat. Dalam mewujudkan kebijaksanaan tersebut, Jepang melakukan modernisasi industri dengan menerapkan teknologi maju dan mempersenjatai rakyatnya menjadi tentara yang militan.
