Prisma

Dialog: Meniti Kesempatan Usaha

Pengantar

Gambaran dunia usaha masyarakat kita masih kabur, kecuali data statistik yang menyajikan sederetan angka yang menunjukkan naik turunnya perkembangan ekonomi secara global dan sektoral. Karena itu pengertian dunia usaha itu lazim diidentikkan dengan angka-angka tersebut untuk menyusun suatu kebijaksanaan.

Untuk memperoleh informasi tentang dunia usaha, Prisma mengundang dua tokoh muda yang berkecimpung dalam usaha swasta dan koperasi, yang secara konseptual mengemukakan tentang kemungkinan pengembangan sumber daya alam dan manusia untuk tujuan pembangunan usaha swasta dan koperasi. Ir. Sjarief Tando, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB), yang sekarang memegang jabatan Ketua Umum Koperasi Pemuda Indonesia (KOPINDO), merasakan, bahwa kini mulai nampak apresiasi masyarakat terhadap usaha koperasi. Ia banyak melihat segi positif yang terkandung dalam konsep koperasi sebagai media usaha untuk sekarang dan masa datang, tetapi perlu penerapan sistem pengelolaan secara profesional. Anggapan yang selama ini memandang sektor koperasi sebagai kelas ‘gurem’ sama sekali tidak beralasan, karena koperasi memiliki kesempatan berkembang sebagaimana badan usaha lainnya. Drs. Med. Agung Laksono, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mengatakan bahwa nampaknya dalam beberapa tahun belakangan ini pemerintah masih merupakan pasar terbaik, karena di sana terdapat sumber dana. Maka agar tidak tergantung terus pada pemerintah perlu diciptakan dan dibina pasaran di masyarakat. Redaksi.

Koperasi, Sektor Usaha yang Makin Penting, Syarief Tando, Ketua Umum Koperasi Pemuda Indonesia

Ada dua masalah pokok bilamana kita ingin membahas koperasi. Pertama, koperasi pada awalnya dirasakan sebagai sektor usaha yang kurang penting, kemudian dengan perkembangan perekonomian nasional sekarang, koperasi kian cenderung “dianggap” penting. Kedua, ada semacam asumsi bahwa koperasi sedang menjadi ‘titik api’ dalam mengupayakan pengembangan sektor usaha untuk mewujudkan struktur ekonomi berimbang.

Mencari Model Penataan, Agung Laksono, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia

Sejak memasuki Orde Baru, dunia usaha nasional kita nampak semakin cerah, baik yang termasuk dalam usaha negara, swasta dan koperasi. Dalam hubungan ketiga komponen tersebut seharusnya lebih bisa saling mendukung dan berjalan seiring apabila memperoleh stimulasi dari pemerintah. Mereka tidak bisa dilepas begitu saja untuk mencari penyesuaian masing-masing di dalam praktek sehari-hari, tetapi diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengarahkan. Misalnya dalam bidang distribusi barang, kalau dapat pengarahan yang tepat dari pemerintah seharusnya ketiga komponen itu bisa saling bekerjasama dan hasilnya akan lebih baik. Bukan kompetisi tajam yang terjadi, melainkan kompetisi sehat yang perlu pengarahan. Dalam tahap awal, misalnya untuk barang industri dasar, saluran distribusinya diberikan kepada pengusaha swasta; sedangkan koperasi diberi kesempatan dalam usaha angkutan atau industri pedesaan. Dengan cara pembagian porsi demikian, maka ketiga komponen usaha itu akan dapat saling berhubungan tanpa harus mematikan satu dengan lainnya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan