Hubungan antara kebudayaan dengan teori ketergantungan atau dengan analisa sistem dunia selama ini nampak kurang memperoleh perhatian para ilmuwan. Padahal menurut Mochtar Pabottinggi, di abad ke-20 ini hampir tak ada lagi gerakan anti-sistem yang berhasil tanpa dukungan dinamika kebudayaan. Begitu pula Revolusi Iran — di mana semua sarana dan organisasi ultra-moderen tak berkutik dihadapan rakyat — dan dalam kasus-kasus periferalisasi. Itulah sebabnya mengapa, sub-kebudayaan priyayi-aristokrat di Indonesia begitu menyolok belakangan ini, dan mengapa pula kebangkitannya bermula dari memperagakan simbol-simbol tradisional Jawa.