Pemogokan buruh tani dengan tindakan kekerasan telah terjadi sejak pada tahun 1882, jauh sebelum dikenal organisasi moderen di lingkungan pabrik dan perkebunan. Menurut Djoko Utomo, selain faktor upah yang rendah dan beratnya beban kerja buruh tani, pemogokan itu terjadi karena faktor eksploitasi feodalis dan kapitalis lainnya. Sekitar 10 ribu buruh tani dari 30 pabrik gula dan perkebunan di Yogyakarta melakukan aksi mogok dan protes berdarah dalam 3 gelombang selama hampir 3 bulan. Gerakan pemogokan ini merupakan aksi protes yang paling berhasil dan pertama kali terjadi di wilayah Hindia Belanda pada abad ke-19.
* Makalah ini pernah disampaikan pada Seminar Sejarah Nasional III, 9—14 November 1981, di Jakarta.