Prisma

Pax Ekonomis

Sejak dasawarsa ’50-an dan ’60-an, kata Ivan Illich, doktrin national security sudah menjadi bagian yang integral dari pembangunan ekonomi. Dari sejarah kita memang bisa memperoleh kesan adanya semacam koinsidensi antara pembangunan angkatan bersenjata ke luar batas negara, dengan ekspansi kapital internasional. Kalau kita melihat peristiwa diketemukannya senjata api pada saat berkembangnya Merkantilisme yang diikuti dengan kolonisasi daerah-daerah baru oleh negara-negara Eropa Barat, maka pada masa kolonialisme berikutnya pertumbuhan kekuatan militer dunia memang praktis mengiringi Revolusi Industri. Sesudah Perang Dunia II, pertumbuhan ekonomi pasca perang juga mengantar dan mendorong timbulnya superpowers dan negara-negara pendukungnya. Strategi pertahanan pada tingkat global sekarang ini, kata Muzammil Huq, secara jelas didasarkan pada kepentingan mengamankan jalur suplai sumber-sumber ekonomi strategis dalam rangka akumulasi kapital.

Sistem pertahanan dunia dari negara-negara industri maju, selama ini antara lain diwujudkan dengan pembentukan pakta-pakta militer, patroli armada kapal induk, pembangunan pangkalan-pangkalan militer di tempat-tempat strategis dan yang terakhir dengan penggelaran payung nuklir. Cara yang lebih elegan adalah dengan bantuan militer dan politik penjualan senjata kepada negara-negara yang bisa dijadikan sekutu. Juga dengan pendidikan militer kepada perwira-perwira Dunia Ketiga. Antara lain dengan cara inilah, terjadi external socialization process, yaitu transfer pengetahuan militer moderen, dari negara-negara “pusat” ke negara-negara “pinggiran”. Melalui proses itu, doktrin national security diimpor oleh negara-negara sedang berkembang dalam rangka pengembangan doktrin pertahanan nasionalnya.

Konon, menurut penelitian Peter Lock, doktrin national security itu, mula-mula dikembangkan di Amerika Serikat, dalam rangka strategi global menghadapi komunisme. Bersamaan dengan itu, telah dikembangkan pula teori ekonomi pembangunan, yang oleh Rostow kemudian, disebut sebagai Non-Communist Manifest, yang sebenarnya merupakan pelaksanaan Program Pasal IV Presiden Truman. Paling tidak, teori ekonomi pembangunan itu mengandung bobot, motivasi, bahkan dasar-dasar politik. Resep pokok yang dihasilkan oleh teori itu, sebagai kunci sukses pembangunan ekonomi antara lain adalah, bantuan luar negeri, penanaman modal asing dan perdagangan bebas. Tapi bantuan luar negeri, pada mulanya, dan dalam banyak kasus kemudian, selalu dikaitkan dengan bantuan militer. Persyaratan itu tentu saja dinilai secara politis oleh sebagian negara-negara sedang berkembang sebagai terlalu kasar, tapi sebagian toh menerimanya.

Tapi, dengan diterimanya, tentu saja dengan berbagai penyesuaian dengan kondisi dan aspirasi setempat, doktrin keamanan nasional yang sebenarnya mengandung unsur strategi perang dingin itu, maka politik pertahanan global negara-negara industri maju, terutama Amerika Serikat, dalam rangka mengamankan kepentingan ekonomi itu, tidak perlu dilaksanakan terlalu kasar. Elite negara-negara sedang berkembang, yang diwakili oleh kaum militer dan teknokrat, sebenarnya memiliki dasar kepentingan ekonomi yang sama, yaitu apropriasi surplus yang dihasilkan oleh pembangunan. Mereka akan dengan sendirinya menerima doktrin keamanan nasional itu sebagai bagian dari konsepsi pembangunan. Doktrin itu sebenarnya memiliki tujuan, yaitu untuk menciptakan stabilitas dan ketertiban yang diperlukan sebagai kondisi pembangunan. Sistem pertahanan di Dunia Ketiga, untuk meminjam istilah Illich, telah ditransformasikan menjadi pax economica.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan