Tulisan ini sengaja membandingkan apa yang disebut sebagai “Indonesia luar” dan “Indonesia dalam.” Dari yang luar diambil Simalungun untuk dibandingkan dengan Jawa. Apa yang terjadi bilamana berlangsung proses komersialisasi hasil pertanian? Menurut kedua penulis, Wolfgang Clauss dan Joerg Hartmann, produksi subsistensi tidak mampu bertahan di Jawa, dengan akibat terjadi proses pemiskinan, sedangkan di Simalungun produksi subsistensi mampu bertahan dengan hidup berdampingan dengan komersialisasi pertanian.
* Catatan ini mendokumentasikan sebagian dari hasil-hasil dua proyek penelitian yang dilaksanakan dalam rangka program penelitian Fakultas Sosiologi Universitas Bielefeld (Jerman Barat) untuk Asia Tenggara dengan titik berat di bidang sosiologi pembangunan. Proyek-proyek tersebut ditunjang oleh Yayasan Volkswagen (Proyek Sumatera) dan oleh Deutsche Gesellschaft fuer Friedens und Konfliktforschung (Proyek Jawa). Data-data didasarkan atas studi pedesaan yang intensif serta studi perbandingan di Simalungun (Maret 1979 sampai dengan Mei 1980), dan atas pengumpulan data-data penelitian (yang sebagian merupakan data yang tidak dipublikasikan) tentang keadaan dan perkembangan agraria di Jawa, serta atas wawancara dengan ilmuwan-ilmuwan dan pelaksana yang bertugas di sana (September 1978 sampai dengan Juni 1979). Hasil-hasil penelitian tersebut terperinci dalam Clauss, Wolfgang., Economic and Social Change among the Simalungun Batak of North Sumatera. Saarbrucken & Fort Lauderdale, Penerbit Breitenbach, Studi Bielefeld tentang Sosiologi Pembangunan 15. Juga dalam Hartmann, Jorg., Subsistenzproduktion und Agrarentwicklung in Java, Indonesia, Saarbrucken, Verlag Breitenbach, Bielefelder Studien zur Entwicklungssoziologie 13.