Semua yang ada di dalam alam dan masyarakat oleh orang Irian dipandang sebagai rekan-rekan yang sama-sama hadir di dunia. Karena itu tumbuhan, hewan, juga dianggap hadirin. Persoalannya adalah bagaimana sekarang manusia Irian merumuskan dirinya sebagai salah satu dari para “hadirin” itu di pentas alam semesta. Dr. J. Boelaars mencoba meneliti bagaimana suku di Irian baik yang masih dalam tingkat peramu, maupun yang sudah bercocok tanam mencoba mencari jawabannya, dan masing-masing jawaban adalah juga cara pikir dan cara hidupnya, dan karena itu juga filsafat hidupnya.